BBAPG 9; Tragedi di Kantin

1K 98 3
                                        

Saat pacarnya itu menjemputnya dikelas untuk mengajaknya ke kantin, Vany tersenyum terpaksa, dan mengikuti pacarnya dengan langkah berat.

Sangat berat untuk melakukan hal yang tidak diinginkan, namun mengharuskannya untuk menuruti.

Vany terjebak.

Ia terjebak dalam perasaannya sendiri. Berkali-kali ia merutuki nasibnya sendiri, dan juga takdir yang membuatnya tersiksa sampai saat ini.

Vany menyalahkan dirinya karna sekolah di SMU Flashood, dan bertemu dengan Jo.

Vany menyalahkan dirinya sendiri karna ia merelakan hidup mewahnya di Semarang, dan harus mengalami hidup mandiri di Jakarta demi menjaga Fares agar tidak berselingkuh, dan mengakibatkannya bertemu Jo disekolah yang sama.

Vany menyalahkan dirinya sendiri karna mau-mau saja pacaran dengan berandal seperti Fares, dan membuat mahkotanya hilang, lalu mengharuskannya untuk bertahan bersama Fares sampai-sampai ia harus pindah ke Jakarta dan bertemu Jo.

Dan Vany, merutuki dirinya dalam hati saat ia melihat Jo yang berjalan berlawanan arah dengannya saat ini. Cowok itu sempat melirik Vany --lebih tepatnya, dirinya dan pacarnya dengan sinis.

Vany menahan napas saat di detik-detik berikutnya, Jo berjalan mendekat ke samping Vany. Mata mereka bertemu. Waktu seolah berjalan lambat bagi Vany. Entah karna ia berjalan lelet, atau karna Vany menahan napasnya sehingga waktu terasa berhenti. Namun, Vany sadar kalau waktu masih berjalan. Karna setelahnya, Jo melewatinya dan menghilang dari pandangan Vany.

Cewek itu menunduk dan menggingit bibir bawahnya. Antara menahan sesak dalam dada, dan menahan diri untuk menengok ke belakang.

"... kamu mau makan apa?"

Pertanyaan itu membuat Vany mendongak menatap Fares yang menatapnya dengan tatapan bertanya. Vany melirik sekitaran sekejap, kemudian menyadari bahwa mereka sudah berada diarea kantin. Ia kembali menatap pacarnya, dan tersenyum. "Samain aja deh kayak kamu."

Fares mengangguk dan tersenyum. "Yaudah. Kamu cari tempat duduk, aku beli makanannya ya?"

Sekarang bagian Vany yang tersenyum dan mengangguk. Cewek itu kemudian berjalan untuk menempati salah satu meja dikantin setelah Fares berjalan membeli makanan. Ia mengetuk-ngetuk kelima jarinya di pemukaan meja sambil menunggu pacarnya serta makanannya datang. Fokus Vany teralihkan saat ada yang menempati kursi dihadapannya. Cewek itu sontak membeku dengan mata melotot kaget.

Dihadapannya, cowok itu tersenyum miring dan mengetuk puncak kepala Vany dengan telunjuk, membuat Vany tertegun. "Biasa aja kali liatnya. Kayak yang liat setan aja, lo."

Dengan susah payah, Vany meneguk ludahnya dengan otomatis karna gugup yang berlebihan. "J-Jo?"

Jo malah tersenyum lebar. "Kenapa? Kaget ya?"

Ini pasti mimpi. Vany pasti bermimpi. Tidak mungkin kan kalau Jo benar-benar ada dihadapannya setelah kemarin cowok itu selalu menatap sinis padanya?

Vany jadi ingin memastikan apa ini mimpi atau bukan. Sekali lagi, Vany menelan ludahnya. Dengan rasa takut yang melingkupi dadanya, ia menutup mata perlahan, dengan sekaligus menajamkan pendengarannya. Namun, Vany tak dapat mendengar apapun. Jadi, apakah ini sungguhan mimpi?

JoVan✔[BADASS #2] [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang