-Jika takdir tidak membawamu kemari, akulah yang akan mencari jalan menghampirimu... -
Seoul, Korsel 7 Agustus 2016
Hosh... hosh... hosh...
"Bagaimana mungkin kaki mungilku ini harus berlarian mengejar bis?" runtuk Doek Hye sembari berlarian mengejar bis. Rambutnya yang dicepol dan poni model tengahnya yang imut tersibak oleh angin.
"Cerdas sekali, siapa yag membuat kita jadi terlambat haa...?"kata Jang Han.
"Iya benar... aku orangnya," jawab Doek Hye cengengesan.
Doek Hye adalah gadis berusia 19 tahun yang pekerja keras . Ia adalah anak sebatang kara. Ia bekerja di perpustakaan kota sebagai pustakawan. Tingginya 165 cm dengan badan yang semampai. Matanya berbinar saat menceritakan tentang sejarah. Sedangkan Kim Jang Han adalah tetangga sekaligus sahabatnya.
Bus akhirnya berhenti karena lampu jalan yang berwarna merah. Gyeongbok Museum tertulis di banner belakang bus. Pemimpin para pustakawan menurunkan letak kacamatanya, dahinya berkerut kerut melihat keduanya. Dengan isyarat kepala ia segera menyuruh mereka duduk di bangku masing-masing.
"Aish... hampir saja," kata Doek Hye tersengal-sengal.
"Kau ini penyebabnya, gendut" canda Jang Han sekaligus mengacak-acak rambutnya.
"Apa? Gendut?" tanyanya tak percaya.
Mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan. Sedangkan mata pustakawan yang lain memandang mereka dengan aneh. Semua orang memiliki pemikiran yang sama "kalau cinta kenapa keduanya tidak saling mengungkapkan? Kenapa harus berada di zona pertemanan? Memangnya mereka anak sekolahan? ".
"Segera kembali ketika kalian sudah menemukan bahan yang cocok untuk penelitian kali ini!" jelas pemimpin pustakawan kota mengakhiri panduan outdoor learning sesaat setelah sampai di museum.
"Baik , Pak" jawab mereka serempak.
"Ku dengar ada lukisan antik di sini. Apa kita akan menggunakannya sebagai objek pengamatan?" Tanya Doek Hye.
"Terserah kau saja lah, bukankah ini riset kelompok dan kau pasti berkelompok denganku. Benarkan?" jawab Jang Han enteng.
"Benar sekali, dasar benalu,"gerutu Doek Hye. "Menurut peta ini ke arah sana!" lanjut Doek Hye sekaligus menunjuk arah barat.
Jang Han mengikutinya dengan malas. Ia yang selalu menguntit Doek Hye mulai dari sekolah hingga pekerjaan sebagai pustakawan. Cinta sepihak yang tak pernah terungkap, sejak kanak-kanak hingga dewasa.
Keduanya lagi tertawa renyah bersama. Mereka memasuki gapura menuju tempat disimpannya lukisan tersebut.
**************************************************************************************
-Takdir tetap akan membawamu padaku... cepat atau lambat...-
Doek Hye, gadis yang begitu ceroboh tersandung beberapa kali.
-Kerap kali yang terlihat bukanlah yang sesungguhnya...-
**************************************************************************************
-Takdir membawamu padaku dengan cara yang tak biasa...-
**************************************************************************************
Angin bak isyarat. Daun seolah berbisik. Gapura pun menunggu kedatangan seseorang. Tanpa sengaja Doek Hye, Sung Ho, Yong Sun, Nisha, dan Duga berjajar setelah melewati gapura, hanya arah pandangan mereka yang berbeda.
Doek Hye terpana akan nilai seni dari bangunan museum tersebut yang awalnya sebuah istana di masa lalu. Yong Sun melihat sekeliling dengan malas. Duga melihat objek yang bagus untuk angle fotonya. Sedangkan Nisha terpana dengan keindahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Bunga sakura berguguran tertiup angin menimpa wajah keempatnya... seolah takdir menanti mereka kemari. Deg! Mereka bersamaan merasakan dejavu. Seperti mereka pernah berada di tempat ini sebelumnya. Mereka menatap pohon sakura di atasnya. Perlahan namun pasti langkah kaki mereka pun seirama mendekati lukisan. Lukisan tersebut sangat besar. Di dalamnya terdapat 4 orang tokoh. Kedua perempuannya memakai hanbok yang indah dan bercadar dengan sulaman bunga di pojok cadarnya. Mereka seolah menoleh ke arah yang melihatnya. Sedangkan kedua laki-lakinya juga mengggunakan cadar hitam dan sama-sama menghunuskan pedang seolah waspada di kanan dan kiri wanitanya. Latar belakangnya adalah api yang berkobar bercampur warna abu-abu yang melukiskan kehancuran, musibah, kematian, kengerian, keheningan, kesepian dan rasa sakit dari masa lalu.
Mereka terhanyut dalam lukisan tersebut. Entah . Mata yang penuh kepedihan dari keempat tokoh dalam lukisan sangat nyata. Mata itu seolah memanggil mereka mendekat.
Blam! semua gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back in Love
Fanfiction" Cinta tidak berubah, tetapi hati manusialah yang mudah goyah ..." Terseret ke satu kehidupan sebelumnya? Dimana egois adalah harga mati. Renkarnasi mereka dari masa depan akan berusaha melakukan perubahan pada masa lalu tanpa disadari. Mereka yang...
