Alice.
Satu bulan sebelum D-day.
Memandangi selembar kertas yang ada di tanganku kini seperti sedang menjadi terdakwa yang diberi hukuman dua puluhan tahun. Oke, mungkin aku agak berlebihan. But this is how I feel.
Resign dari pekerjaanku sebagai asisten manajer bagian pemasaran di sebuah perusahaan kosmetik, tidak ada dalam daftar "to do list"-ku—setidaknya sampai aku memutuskan menikah dan ternyata tidak lama kemudian aku hamil. Setelah tahu bahwa aku hamil, sempat terpikir untuk mundur, tapi aku mengurungkannya lagi.
Aku masih ingin aktif bekerja, menangani konsumen dan membuat terobosan-terobosan untuk menaikkan penjualan. Bersosialisasi dengan teman-teman, hang out bersama mereka, bahkan menghadapi si Pak Bos Galak yang adalah owner dari perusahaan tempatku bekerja, The Oaks. Dengan pressure dan target yang menghantui, apalagi bila sudah mepet akhir tahun dan seringkali membuatku stress selama beberapa tahun terakhir ini, tidak menyurutkan semangatku untuk bekerja.
Sampai akhirnya, aku tiba di titik ini. Kondisi fisikku yang makin mudah lelah, muntah hebat yang kadang sampai membuatku tumbang seharian, juga sempat ada flek selama tiga hari yang mengharuskanku untuk bed rest total—dokter bilang akan berbahaya buat bayiku bila aku memaksakan diri untuk beraktivitas—Geo akhirnya menyuruhku untuk resign.
Dia memintaku baik-baik, sebenarnya. Menanyakan juga pendapatku seperti apa. Tapi aku tahu dari sorot matanya saat kami makan bersama ditemani suara dari TV yang sedang menayangkan acara Grammy Awards, dia memintaku berhenti saja. Daripada hal yang jauh lebih buruk terjadi. Kami yang mungkin kehilangan junior kami.
"Tapi aku ingin tetep bisa jadi working mommy nantinya." Aku mulai menangis. Nasi goreng salmon buatan Geo sudah tidak menarik minatku lagi.
Geo yang duduk di hadapanku, menarik pelan tangan kananku, menggenggamnya, lalu mengecupnya lembut. "Hanya untuk sementara. Tiga bulan batas cuti lahiran di kantor kamu belum tentu cukup untuk meng-cover waktu yang kamu butuhkan untuk lahiran dan setelahnya. Aku ingin kamu dan anak kita sehat, Sayang."
Aku makin tersedu. Mengusap tangis dengan sebelah tanganku yang bebas.
"Sementara, Sayang. Toh pengalaman kerja kamu udah bagus. Track record, oke. You will find a better job. Nggak akan susah. Kamu juga cerdas."
Geo membesarkan hatiku, kurasa. Walaupun perkataannya memang benar adanya. Tapi aku tidak berada dalam kondisi sedang ingin dipuji ini-itu olehnya.
Beberapa hari kemudian, sebelum aku memutuskan untuk benar-benar resign, ada flek lagi gara-gara aku memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaanku semalaman. Sambil menangis karena panik, aku menelepon Geo yang belum pulang dari kantornya.
Setengah jam yang terasa seperti seabad, aku menunggu Geo sampai dia datang. Setibanya di rumah, dia langsung menghambur memelukku yang menunggunya di sofa, membopong tubuhku, lalu bergegas membawaku ke rumah sakit. Untung jalanan agak sepi, dia bisa ngebut agar kami cepat sampai.
Saat selang infus meliliti tubuhku dan dokter sekali lagi menyuruhku untuk benar-benar beristirahat total, aku baru paham. Aku harus memilih. Pekerjaan, atau bayiku.
Surat resign yang kini kupeganglah jawabannya. Surat yang...
"Tante!"
Aku terkesiap saat seseorang berbicara dengan suara nyaring. Tanpa mengetuk pintu, langsung masuk saja ke ruang kerja Papa. Oh, aku memang sedang berkunjung ke rumah Papa dan Mama. Papa berulang tahun besok, dan biasanya kami ada "ritual" potong kue saat pergantian hari. Makanya bila tidak ada halangan, aku dan dua kakakku—bersama suami, istri, dan anak-anak mereka—ikut kemari untuk merayakanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY BLESS
Chick-LitAlice dan Geo tidak pernah membayangkan bahwa mengurus seorang bayi adalah pekerjaan yang paling berat untuk dilakukan. Yang ada di kepala mereka selama ini, mengurus bayi identik dengan hal lucu dan menggemaskan. Saat sang bayi akan lahir, drama...
