BAB 3 - PART OF ME

439 9 4
                                        

Alice.

Sebelum direkomendasikan untuk disesar, dokter mengatakan HPL-ku paling lambat—kuulangi, paling lambat—besok, bayinya harus sudah lahir. Kata orang-orang dan berdasarkan info yang kudapat dari buku dan internet, ciri-ciri akan melahirkan adalah mulas hebat yang diawali dengan mulas semu yang konstan sekitar tiap lima menit sekali.

Seharusnya aku juga merasakannya, walaupun aku divonis untuk operasi, bukan melahirkan normal. Di waktu seperti ini, biasanya wanita hamil merasakan panas yang menjalar sampai pinggang atau pinggul—ini kata Mama. Tapi, aku tidak juga merasakannya. Bayiku sepertinya sedang anteng-anteng saja bergelung di dalam perutkku. Memang sih ada mulas, tapi hanya mulas sedikit-sedikit saja. Bukan mulas konstan seperti yang orang bilang. Padahal aku sudah berjalan di taman dekat rumahku sebanyak lima keliling. Sudah cukup membuatku terengah-engah, agak megap-megap, dan mungkin sebentar lagi kehabisan napas karena kebanyakan berjalan kaki.

"Istirahat dulu, Sayang," Geo menggandeng sebelah tanganku, memapahku ke bangku panjang besi terdekat.

Sekarang baru pukul tujuh pagi—hari ini adalah Minggu dan aku berhasil 'memaksa' Geo untuk menemaniku, yes!. Tapi, rasanya badanku terbakar matahari, saking panas dan gerahnya. Keringat di tubuhku sudah banjir di mana-mana, membuatku ingin cepat-cepat pulang dan mandi. Namun, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Tubuhku terlalu letih untuk dipakai berjalan ke rumah, kemudian bersusah payah membilas tubuhku dengan air dan sabun.

"Pengen itu," aku menunjuk ke sudut taman.

Geo mengikuti arahanku, melihat pada penjual rujak bertopi biru yang sedang memotong buah. Di dekatnya, ada dua perempuan dan satu anak laki-laki yang menunggu pesanan mereka.

Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat buah apa yang sedang dipotong oleh penjualnya: mangga muda. Warnanya hijau-kuning. Seketika saja, aku merasakan liurku meronta-ronta. Tiap potong mangga yang meluncur ke piring di atas gerobak kaca, membuatku ngiler.

"Mau, Ge. Sambalnya yang pedes," kataku, memberi instruksi.

Geo mengerutkan dahi, mengusik kenikmatanku membayangkan mangga muda yang menyentuh lidahku. Dengan bumbunya yang manis dan pedas.

"Nggak mau beliin?" tuduhku.

Geo menyetel kembali ekspresi wajahnya bak Bapak Guru yang sedang menghadapi muridnya yang masih SD dan ribut ingin jajan makanan saat jam belajar masih berlangsung.

"Ntar dulu aja, ya, Al. Mending sekarang kita pulang, istrahat. Besok kita kan ke RS. Kamu akan melahirkan. Kita juga harus aware dan konsultasi ke dokter ntar, kan sampai hari ini kamu belum mulas juga."

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak cemberut. "Kenapa sih nggak bisa beliin rujak itu dulu, baru kita pergi? Susah amat. Aku pengen makan rujak, Ge!"

Geo memandangiku, beberapa saat kemudian tampak pasrah untuk menanggapi kata-kataku barusan. Dia lantas berdiri, tersenyum padaku. Senyum kekhawatiran slash kegelisahan.

Kenapa sih dia tidak mengizinkan? Aku kan buka mau minum racun!

"Jangan banyak-banyak, ya. Ntar bingung mulasnya mulas lahiran atau mulas gara-gara makan rujak pedes," keluhnya.

Aku mengangkat bahu, nyengir padanya. "Thank you, Papa," sahutku sambil mengedipkan sebelah mata.

Rona muka Geo jadi lebih ceria. Dia berbalik badan, lalu berjalan melintasi taman, menuju penjual rujak.

Oh, Geo is my saviour!

Kuperhatikan punggung suamiku, namun tidak lama kemudian selintas pikiran muncul di kepalaku: jangan-jangan bumbunya nggak dikasih cabe yang banyak!

BABY BLESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang