Alice.
Dua bulan sebelum D-day.
Baby shop adalah surga dunia untuku. Juga untuk semua perempuan di luar sana yang ingin cepat-cepat bertemu dengan anaknya.
Melihat rak-rak yang dipenuhi sepatu mungil dan lucu, pakaian-pakaian menggemaskan yang seakan melambaikan tangan minta dibeli, baby stroller yang bertengger di dekat kaca depan yang berwarna-warni—mau tidak mau membuat calon pembeli membayangkan ada bayi di dalamnya—sampai berbagai mainan yang sangat menggoda untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja.
Berada di tempat ini membuatku tersenyum sangat lebar. Apalagi hari ini Geo menyempatkan diri untuk menemaniku berbelanja.
Masih dengan senyum lebar yang mengembang di wajah, aku melirik padanya. Gemas sendiri melihat dia yang sedang membungkukkan tubuh untuk melihat bagian dalam baby stroller berwarna biru yang tampak kokoh. Cocok untuk baby boy kami—dari hasil USG, dokter bilang junior kami berjenis kelamin laki-laki. Geo bukan main senangnya waktu tahu akan punya seorang anak laki-laki. Mau dia ajak main bola dan PS, katanya. Aku "iya"-kan saja kata-katanya. Anak laki-laki atau perempuan, sama saja bagiku. Aku akan punya seorang bayi yang menggenapkan kebahagiaanku.
"Yang ini gimana?" Geo menoleh padaku, lalu kembali menatap lekat stroller di depan matanya. Sambil berkacak pinggang, dia memperhatikan lekat. Keningnya sampai berkerut-kerut saking seriusnya memilih stroller untuk junior kami nanti.
Aku bergerak mendekat, mengalihkan pandangan ke arah yang sama dengan Geo. Kuperhatikan spesifikasinya: tipenya sistem transportasi, termasuk kursi mobil, folding mekanismenya tebu, jumlah rodanya ada enam, berat maksimum anak...
Belum selesai aku membaca—padahal aku tidak terlalu paham juga—aku melihat wajah Geo yang tampak berharap aku menyukai pilihannya, membuatku langsung mengangguk mantap. "Oke, ini aja!" kataku nyengir dengan semangat '45.
And then, the baby is kicking!
Membuatku kaget dan tertawa seketika. "Dia suka juga sama pilihan kita," kataku pada Geo.
Ekspresi di wajah Geo semakin cerah. Dia buru-buru meletakkan tangannya di perutku, hati-hati mengelusnya. "You like it? Good. Nanti kita jalan-jalan ya, Boy!"
Kami pun kemudian memanggil pramuniaga, seorang perempuan awal dua puluhan yang tampak bersemangat menjelaskan lebih lanjut tentang baby stroller pilihan kami.
Namun, di tengah-tengah percakapan, ponsel di saku celana Geo berdering nyaring.
"Bentar," kata Geo pelan, tampak ragu saat menyadari aku langsung menatapnya curiga.
Come on. Ini hari Sabtu. Aku sudah bilang, dia tidak boleh mengangkat telepon bila orang kantornya yang menghubungi. Aku heran, kenapa orang yang kerja di perusahaan supplier bahan kimia sepertinya harus siap bekerja 7 hari-24 jam, bila diperlukan? Ya, ya, aku tahu dia masuk jajaran manajemen. Jabatan manajer pemastian mutu bukanlah jabatan main-main. But, hey! Aku dan baby junior juga butuh waktu PRIBADI.
"Ya, Pak Edo?" Geo mengangkat telepon itu.
Aku langsung manyun di tempat. Pak Edo adalah president director di perusahaan tempat Geo bekerja. Jelas, ini bukan hal baik bila orang itu menghubungi Geo di luar jam kerja seperti sekarang.
Aku menunggu Geo menyelesaikan percakapan di teleponnya. Kusetel ekspresi datar—tanda bahwa aku BENAR-BENAR tidak suka dia dihubungi karena urusan pekerjaan. Kubuang pandanganku dari Geo, lalu menyibukkan diri mengobrol dengan sang pramuniaga yang tampak jauh lebih sabar menunggu Geo selesai berbciara.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABY BLESS
ChickLitAlice dan Geo tidak pernah membayangkan bahwa mengurus seorang bayi adalah pekerjaan yang paling berat untuk dilakukan. Yang ada di kepala mereka selama ini, mengurus bayi identik dengan hal lucu dan menggemaskan. Saat sang bayi akan lahir, drama...
