Sore itu, dua sahabat ini bertemu di suatu kafe.
"Oi! Dimana?" Aisyah dengan logatnya menelpon si Nona.
"Bentar, lagi parkir..." Nadia menjawab dengan kalemnya.
"Okay..." Bersamaan ketika Aisyah menutup percakapannya dengan Nadia. Lelaki yang hobi mengganggunya itu tiba-tiba duduk tepat di depan dirinya. Mata Aisyah membesar dan hatinya tiba-tiba juga berdebar kencang, hingga ia merasa bahwa ia dapat mendengar detakan hatinya itu."Astaghfirullahalazim..." kata Aisyah memegang dadanya. "Kamu ngapain disini? Ada perlu? Mau cari masalah? Jangan disini dong." Lanjutnya sebelum lelaki itu dapat berbicara sekatapun.
"Bisa gak? Aku mau ngomong baik-baik..." kata lelaki itu dengan penuh kesabaran menghadapi omelan Aisyah. Aisyah diam, tidak menjawab percakapan lelaki itu.
"Syah... besok temenin aku ke toko Tulip ya." Ajak lelaki itu..
"Insyallah ya." Jawabnya dengan pelan...Tak lama ketika hening antara mereka berdua, Nadia datang dan terhentak saat melihat lelaki itu duduk di depan Aisyah. Berhenti ia seketika dan setelah sadar dari kecurigaannya itu, ia menyampiri kawannya.
"Ha--i..." sambut Nadia dengan gugup. Situasi tidak nyaman mulai Aisyah rasakan, begitu juga dengan Nadia.
"Hai Nadia." Kata lelaki itu melambaikan jari jemarinya. "Oh ya, Aku duluan ya... ada urusan." katanya, "oh okay..." jawab Nadia sambil menyenggol temannya yang berpura-pura tidak mendengar apa yang laki itu katakan."Ada apa Sya?" Nadia duduk di kursi yang tadi di tempati lelaki itu.
"Gak ada... tiba-tiba aja tuh orang muncul dan jadi serius seketika terus pergi gitu aja tuh... gak jelas!" Amarah Aisyah selalu muncul ketika melihat lelaki itu. "Oh ya udah sih, gak usah ngegas." Kata Nadia dengan lembut, tetapi tiba-tiba "SYAH! penting!!!" Hentaknya.
"Banget?" Tanya Aisyah dengan penuh ketenangan.
"Banged pake d." Lanjut Nadia.
"(A)Paan?"
"Tugas! Bantuin, projectnya di rumahku... mending kamu ke rumahku." Ajak Nadia.
"Aduh kayaknya gak bisa deh." Aisyah mencoba untuk menolak. Tapi tolakkan itu tidak diterima oleh si Nona. Aisyah dipaksa keluar kafe dan pergi ke mobil pribadi Nona Nadia.***
Selama perjalanan, Aisyah tidak mengatakan satu kata, sedangkan Nona sudah mengatakan lebih dari seribu. "Syah, gakpapa? Kok diem? Tumben..." Tanyanya. Tetapi temannya itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Suasana menjadi hening.
Setengah jam perjalanan ke rumah Nona ditempuh dengan kesunyian. Turun dari kendaraan, hati Aisyah berkata 'Masyallah, besar sekali rumah ini.' Walaupun merasa terkejut dengan kemewahan yang ia tak pernah miliki, Aisyah tetap tenang jika dilirik dari penampilan dan wajahnya.
"Ayok masuk." Ajak Nona Nadia. Aisyah menuruti, langkahnya tiba-tiba menjadi berat. Seakan-akan akan terjadi sesuatu yang dia tidak bisa menebak.Pintu yang berukuran tinggi dan lebar, dibuka oleh dua penjaga pintu utama di rumah si Nona. Putih bersinar membuat isi rumah itu menjadi elegan dan berkelas. Sofa merah mencorak dan karpet hijau menjadi poin utama yang menarik mata Aisyah. Nadia membawa Aisyah ke kamarnya, mereka melewati ruang makan dan terus ke dapur.
Betapa terkejutnya Aisyah melihat wanita seperti ibunya sedang memasak di dapur rumah nona Nadia. Dengan berpakaian daster dan selendang diikatkan di pinggangnya. Aisyah melihat wanita itu dengan rinci serinci rincinya. Dia menggelengkan kepala dan segera menyusul temannya itu. "Syah kamu lagi gak good mood ya? Daritadi bengong mulu..." Nadia mendekati temannya yang berdiri di balcony kamarnya. Aisyah langsung pergi ke balcony kamar temannya tanpa melihat sekeliling kamar temannya, yang selebar ruang tamu di rumahnya.
Aisyah terus berpikir, 'Ya Allah, mewahnya Nadia... Walaupun kami teman, tapi nasib kami berbeda. Dan Ya Allah, apa benar tadi yang ku lihat itu ibu kandungku? Bagaimana beliau kesini dan apa yang beliau lakukan disini?' Tanya benak si gadis itu.
"Cie. Ngelamunin apa syah?" Sampar Nadia,
"Gak ada. Indah ya pemandangannya." Aisyah segera mengalihkan pembicaraan.

YOU ARE READING
Demi temanku,
Teen FictionTeman dekat adalah seseorang yang paling kita percaya dibanding teman lainnya. Dan perasaan teman dekat pasti sangat ingin kau jaga. Betul? Teman sekedar teman. Tapi teman dekat yang engkau percaya isn't ordinary. Banyak kita dengar, sahabat makan t...