Malam itu

6 0 0
                                    

Hari menjelang sore... Jalan raya menjadi ramai seperti biasa, malam Minggu.

Suara hp Aisyah berdering.
"Assalamualaikum..." Aisyah menjawab panggilan itu.
"Wa alaikumsalam." Penelpon itu menjawab salam Aisyah.
"Ini siapa ya?" Aisyah bertanya dengan nada lembutnya. Nada yang jarang sekali Aisyah pakai ketika berbicara dengan temannya di sekolah. Tiba-tiba si penelpon itu tidak berbicara. "Halo?" Aisyah meyakinkan jika orang tak ia kenal ini masih ingin berbicara.
"Aisyah..." Penelpon itu memanggil nama Aisyah dengan suara yang sangat lembut dan romantis.
"Iya? Maaf, anda ini siapa ya?" Aisyah tidak merasa apapun dan tidak ada teka teki di benaknya itu.
"Syah, lupakah? Aku Sani." Kata terakhir penelpon ini sebut, benar benar mengejutkan Aisyah. Tidak ada kata satupun yang dapat terucap dari bibirnya yang memerah itu.

"SANI!!! Apa kabar kawan?" Tanyanya dengan penuh rasa senang. Senyum tak biasa manisnya terurai di wajah gadis ini. Begitu juga dengan kawan lamanya ini, Sani. Teman yang hilang komunikasi selama 6 tahun dengan Aisyah. Mereka sudah menjadi teman sejak taman kanak-kanak. Selalu berbagi cerita dan nasihat. Layaknya kakak dan adik. "Aku baik Syah, kamu sendiri gimana?" Tanyanya.
"Baik selalu..." Jawab Aisyah dengan nada dan logatnya itu. Percakapan ini berlanjut, dan selama percakapan ini nona Nadia mengamati tingkah temannya yang tak biasa. 'Kenapa si Aisyah? Kok tiba-tiba tingkahnya kayak bidadari? Sani? Siapa? Gak kenal.' Nadia mulai bertanya-tanya. Tapi ia tahan karena tak ingin menggaggu temannya yang sedang berbahagia itu.

Lama menunggu, Aisyah dan teman lamanya itu akhirnya selesai bercakap-cakap juga. "Lama banget sih!" Nadia meredupkan suasana hati temannya.
"Ini... temanku si Sani mulai Senin depan masuk sekolah kita. Aku kenal dia semenjak playgroup." Jelas Aisyah.

"Oh ya syah... laki-laki itu kenapa doyan banget gangguin kamu? Jangan-jangan..." Tebak Nadia,
"Gak ada 'jangan jangan' gak mungkinlah Nad ada orang yang suka sama aku. Jutek gini manada yang suka." Kalimat yang selalu teruirai dari mulut Aisyah. Aisyah selalu merasa bahwa dirinya tak pantas menjadi cintanya laki-laki lain, padahal banyak teman sebaya, kakak kelas dan adik kelaspun mengagumi dirinya itu. Dia tak sadar bahwa dirinya sangat terkenal di sekolah, karena dia memiliki paras yang tak ada perempuan lain miliki.

"Syah! Bisa gak? Kamu percaya satu aja manusia yang suka sama kamu? Jangan nyia-nyiain merekalah." Omel Nadia.
"Eh! Semua manusia diciptakan dengan perasaan masing-masing. Kalau mereka suka sama aku, aku oke-oke aja. Tapi aku gak bisa paksa hati aku untuk jatuh hati ke mereka. Dan aku bukan tipe perempuan begitu, yang gampang hanyut ketika laki-laki ganteng menyatakan cinta ke mereka. Aku. Bukan. Mereka." Sahut Aisyah dengan halus tapi pahit. Gadis ini merasa kesal sekali dengan ucapan temannya.

Diam.

Tak ada yang bergerak.

Waktu berjalan, bergantian mereka mengantuk dan tertidur pulas dengan baju jalan yang masih mereka pakai.

Ketika mereka tertidur, wanita yang Aisyah lihat di dapur tadi. Masuk ke kamar Nona Nadia, mematikan lampu kamar itu, dengan pandangan melihat putrinya tertidur di kasur yang empuk. Senang hati wanita itu saat melihat putrinya tertidur dengan nyenyak dan nyaman. Perlahan beliau melangkah keluar kamar dan menutup pintu tanpa membuat suara. Perlahan beliau mengemas barang-barangnya dan pamit ke majikannya itu. Beliau membiarkan putrinya untuk menginap, dengan langkah ringan beliau meninggalkan rumah itu dan kembali ke rumahnya yang tertutup dengan plapon.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 25, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Demi temanku,Where stories live. Discover now