part 03

12 3 0
                                    

Kecapean tertawa terbahak bahak membuat Halim lapar.

"Trus? Kalian tidak pesan makanan?" Tanya Halim

"Hahaha.... kita semua sudah kenyang. Siapa suruh datang terlambat!" Jawab Amri

"Apa? Hmm... ohh." Kejut Halim, "Bunda... Nasi kuning sebungkus ya?" Halim mengambil sebungkus nasi yang ternyata isinya nasi gorang.

"Apa-apaan ini-_-", "Makan saja lah, hadeh..." dengan terpaksa Halim menghelah nafas lalu menyantap makanannya.

Setelah makan mereka semua kembali kekelas. Dengan penuh gaya bagaikan boyband mereka berjalan melewati gerombolan adik kelasnya.

Tingkah konyol mereka mulai lagi. Wanra meneriaki adek kelasnya sambil menunjuk Ucil "Dek! Salamnya temanku, dia menyukaimu pandangan pertama!"

Siapa yang sangka sigadis tersebut pipinya memerah merona, tersipu lamu akan hal itu dan mulai berteriak

"Pak, tolong! Disini ada pedopil!!!"

"Anjayy! Cepat lari..." Mereka lari terbirit birit karna ketakutan melihat Pak Mukrim sibotak licin, guru olahraga di SMA tersebut.

"Wahh.... Tidak!!! Ampuni saya pak!" Ucap Wanra ketakutan. Ia tertangkap karna tak sempat lari.

"Mau lari kemana kalian?" Tanya Pak Mukrim

Halim yang juga tak sempat lari kena batunya. Padahal ia cuma ingin kekelas.

"Hadeh... Aku sudah tebak pasti aku juga akan tertangkap." Pasrah Halim

"Pak? Kakak yang itu tidak punya salah." Gadis tersebut meminta Pak Mukrim untuk melepaskan Halim yang memang tak bersalah.

Tapi... demi kesolidaritas Halim rela dihukum bersama dengan Wanra.

"Tidak apa-apa pak! Hukum saja aku bersama dengan temanku. Sebagai seorang teman kita harus punya rasa solidaritas." Kata Halim dengan Bangga.

Pak Mukrim merasa bangga akan hal tersebut dan membuatnya lengah. Tanpa ragu Wanra dan Halim mengambil kesempatan tersebut dan lari kekelas mereka.

"Dasar BOTAK TENGAH Killer!!" Triak mereka berdua

"Awas kalian! Jangan lari!!!" Kesal Pak Mukrim.

Sesampainya di kelas, mereka berdua melihat temannya yang lain berjemur di bawah tiang bendera.

"Ada apa ini? Kenapa mereka berjemur disana?" Tanya Halim ke Wanra

"Tunggu! Jangan-jangan..." mereka sadar bahaya yang ingin menimpah mereka.

Didalam kelas ada seorang guru yang lebih Killer dari guru sebelumnya. Yaitu, Pak Asmar guru matematike.

Perlahan Wanra membuka pintu memberi salam "Assalamualaikum..." tangannya gemetaran seakan ia ingin memasuki kandang singa.

"Dari mana?" Tanya Pak Asmar

"Da.. dari.."

"Jawab yang benar!" Gertak Pak Asmar membuat Wanra semakin ketakutan.

"Dari perpus pak! Iya, aku tadi disuruh guru sejarah buat ngambil catatan." Wanra membuat alasan yang begitu tak lazim.

"Guru sejarah! Semua guru punya nama! Tidak ada yang namanya Ibu Sejarah! Keluar! Kau ikut disana berjemur." Gertak Pak Asmar lagi

Wanra pasrah akan takdirnya, dijemur seperti ikan kering di bawah panas matahari.

"Hahaha.... dari manako Wanra? Kukira saya lolosko hahaha." Ejek Fadel

"Deh... sumpah sop, panas sekali disini sop." Keluh Mufly dengan gaya bicaranya yang khas.

Dilain sisi Halim mencoba untuk memasuki kandang singa tersebut.

"Tetap pasang wajah cool. Jangan takut pada singa didalam! Dia hanya seekor kucing raksasa. Iya, dia hanya seekor kucing raksasa." Halim mencoba membuat dirinya tenang.

"Assalamualaikum"

"Dari mana?"

"Makan pak!"

"Kenapa lama sakali makannya?"

"Tadi ada tugas yang harus dikumpul sebelum jam isterahat selesai pak! Makanya saya terlambat kekantin."

"Bagus! Kau tidak bohongkan?"

"Tidak pak!"

"Silahkan masuk."

"Baik pak!"

Teman sekelasnya kaget melihat Halim lolos dari cengkraman sisinga tersebut. Ia membuat temannya yang dijemur iri setengah mati.

"Anjayy... kenapa dia bisa lolos? Mana rasa solidaritasnya?" Ucam mereka kompak.

Halim cuma bisa mengajukan jempolnya ke teman-temannya diluar kelas sambil tersenyum.

"Hahaha...." tawa Halim.

--------------------------------------------------

Sorry gais baru bisa update lagi
Baru download wattpad lagi soalnya hahaha
Sorry ya?
Silahkan tunggu kelanjutannya hanya di channelku MuhammadQiran
Bye bye

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 21, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kelas Gila (XII IPA 3)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang