Bosan. Sudah terasa sejak tadi oleh Luna. Lebih tepatnya saat guru Matematika, Ibu Tati. Keluar dari kelasnya, karena sudah bel pergantian pelajaran.
Matanya sibuk mengamati teman sekelasnya yang sibuk masing-masing. Ada yang sedang bergosip ria, belajar bersama, baca novel. Dan ada juga yang tidur.
"Lun, gue mau ke kantin. Lo mau ikut?" Tanya Dea yang kebetulan duduk sebangku dengannya.
"Engga, gue lagi mager. Emang Pak Dadan engga bakalan masuk?"
"Kata Anak-anak dia lagi sakit dan ngasih tugas. Lo mau ke kantin gak?" Tanya Dea ulang.
"Kan gue lagi mager."
"Ya udah."
Setelah Dea pergi meninggalkan Luna. Dia memejamkan matanya, mungkin dia butuh tidur.
Tapi saat dia memejamkan matanya, kejadian itu terulang lagi. Layaknya kaset rusak. Entah kenapa itu membuat Luna senang dan terbentuk seulas senyuman tipis di bibirnya saat mengingat kejadian itu lagi.
"Kalo jalan pake mata dong?!" Kata Luna sengit. Karena seseorang baru saja menabraknya. Padahal lorong sekolah bisa dibilang cukup luas.
"Jalan itu pake kaki. Liat itu pake mata. Lo salah besar kalo bilang jalan pake mata. Berarti liat pake kaki dong?"
"Serah lo! Lo ngapain sih nabrak gue. Jalan ini luas, masih aja nabrak orang."
"Gue sengaja nabrak lo."
"Apa lo bilang? Lo ada dendam ya sama gue?!" Kata Luna kesal meladeni Dimas yang sejak kemarin mengusik hidup nya.
"Engga kok. Gue niatnya nabrak lo, supaya lo jatuh dan gue tangkap. Biar kaya cerita Wattpad gitu." Kata Dimas polos.
"Saiko lo!" Kata Luna menginjak kaki Dimas dan pergi meninggalkannya yang sedang kesakitan.
Luna hanya tersenyum gaje mengingat kejadian itu.
"Dea, liat Luna gak?" Tanya Dimas pada Dea yang kebetulan bertemu diambang pintu.
Lah! Baru aja gue mikirin dia, dia udah nongol aja didepan. Dia nyariin gue? Mau ngapain?
"Tuh dipojok, sendirian kaya jones." Celetuk Dea menunjuk ke arah Luna.
Tai itu anak!
Luna pura-pura menyibukkan dirinya, dengan memasang earphone dikedua telinganya. Sebenarnya dia merasa risih, karena semua siswa melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran. Apalagi saat Dimas berjalan mendekatinya dengan senyuman manis.
"Hai, Lun." Panggil Dimas saat dia sudah berada disamping meja nya.
Luna hanya diam. Dia pura-pura sedang mendengarkan musik.
"Gue tau lo engga nyalain musik."
Luna mendengus sebal. Akhirnya dia melepaskan earphonenya dan menatap Dimas.
"Ngapain lo ke sini? Ganggu aja." Kata Luna mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.
"Ih, galak. Babang Dimas engga suka." Kata Dimas tersenyum jenaka. "Harusnya lo seneng disamperin cogan kaya gue."
"Pede! Ew!"
Dimas terkekeh mendengar cibiran dari Luna. "Gue anggap itu pujian dari lo."
Luna berdiri dan mendorong bahu Dimas. "Lo pergi deh! Gue enek liat muka lo!"
"Alesan!" Cibir Dimas. "Sebenernya lo nervous kan deket-deket sama gue?"
Luna memutar kedua bola matanya. "Ih, apaan sih?! Engga banget deh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Playboy Vs Playgirl
Teen FictionBerawal dari sebuah taruhan permainan Slither.io. Dimas Putra Aries & Luna Agatha Alexandra. Dua mahluk yang dijuluki "Playboy & Playgirl" nya SMA Angkasa, harus bersatu. "Lo tau permainan Slither.io? Permainan cacing yang menurut gue adalah permai...
