Saat ini Luna sedang bermalas-malasan di tempat tidurnya sambil membaca "Dilan, dia adalah Dilan ku 1990" karya Pidi baiq. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya Luna membaca novel tersebut, tapi dia tidak pernah bosan karena jalan ceritanya yang menarik. Menurutnya.
Ceklek.
Luna mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang dibuka. Terlihat Julian, kakak kesayangan Luna masuk ke kamar dengan membawa minuman ditangannya.
"De, ada temen lo tuh dibawah."
"Siapa?" Tanya Luna yang sekarang sudah dalam posisi duduk.
"Kalo gak salah sih... dia namanya... Dimas, iya Dimas." Jawab Julian yang sempat terlihat berpikir.
"Dimas? Ngapain dia ke sini?"
Julian mengangkat kedua bahunya. "Mana gue tau, Cepetan kebawah." Katanya dan keluar dari kamar Luna.
Akhirnya Luna berjalan ke bawah dan mendapati Dimas yang sedang asyik memakan kue yang dia yakini buatan Vanya, mamah nya.
Sedangkan Vanya sendiri sedang asyik didapur.
"Lo ngapain disini, Dim?" Tanya Luna seraya duduk didepan Dimas.
"Hah?" Kata Dimas yang tersadar dengan kehadiran Luna. "Oh, ini gue mau minta maaf soal yang kemarin." Lanjut nya.
"Atas dasar apa lo minta maaf ke gue?" Tanya Luna menaikan sebelah alisnya.
"Atas dasar gue ngajak lo pulang bareng dan gue engga tau lo takut sama petir." Jawab Dimas.
"Oh, itu! Tenang aja kali, gue engga mempermasalahkan kok."
"Engga, gue salah. Sebagai gantinya gue bakalan jadi tebengan lo setiap berangkat dan pulang sekolah."
"Lo mah modus ya?! Sorry itu engga mempan sama gue." Kata Luna sinis.
"Engga! Gue engga lagi modus! Gue ngomong baik-baik malah dijawab engga baik-baik."
Ini orang beneran minta maaf nya, atau cuman mau modusin gue sih?! Tapi tiap hari anter jemput ke sekolah bisa ngurangin pengeluaran gue juga sih. Itung-itung ngirit lah!
"Buat berapa lama? Kalo cuman sehari, seminggu atau sebulan mah percuma."
"Motor gue berlaku selamanya buat lo."
"Serius?!" Pekik Luna.
Dimas menganggukan kepalanya. "Seriuslah."
"Apanya yang serius?" Vanya tiba-tiba muncul dengan membawa nampan yang berisi 2 gelas es teh manis.
"Eh, tante. Ini anak tante katanya minta di seriusin." Canda Dimas.
Luna membulatkan matanya dan buru-buru menatap Vanya. "Engga, Mah! Boong! Dia serius buat anter jemput aku sekolah." Jelas Luna.
Vanya tersenyum melihat tingkah anaknya. "Masa?" Goda Vanya.
"Ih, Mamah...!"
Dimas tertawa pelan. "Iya saya akan antar jemput anak tante. Sebagai permintaan maaf saya."
"Oalah... gak usah repot-repot nak Dimas. Dia mah cuman modus, biar uangnya awet kalo terus bareng kamu."
"Mamah mah suka bener kalo ngomong." Cengir Luna.
"Kamu ini! Emang nak Dimas engga keberatan?"
"Engga lah mah, orang dia sendiri kok yang nawarin. Iya kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Playboy Vs Playgirl
Fiksi RemajaBerawal dari sebuah taruhan permainan Slither.io. Dimas Putra Aries & Luna Agatha Alexandra. Dua mahluk yang dijuluki "Playboy & Playgirl" nya SMA Angkasa, harus bersatu. "Lo tau permainan Slither.io? Permainan cacing yang menurut gue adalah permai...
