|drei| PINK

1.7K 128 4
                                    

3. Pink : Permulaan, Simpati dan Marah

Ditulis oleh Ulfa
Edit oleh saya.


          "Rosa, kamu mau pergi?" tanya Mami padaku yang sedang melahap roti bakar sisa yang ada dalam bekalku. Ya, Mami memang selalu menyiapkan bekal ketika kami akan menghabiskan 24 jam di Blume Florist. Dan tentu saja kami akan menginap di lantai atas toko ini.

"Mau antar pesanan, Mi," ujarku sambil mengangkat keranjang yang berisikan bunga pesanan cowok itu. Ah, memikirkannya membuatku kesal saja.

Aku berjalan ke arah Mami yang berada di meja kasir. Mami terlihat terkejut saat aku mengecup pipi kanannya cepat. Aku menyalami Mami kemudian berlenggang keluar menuju sepeda kesayanganku yang terparkir di samping toko.

Sayup terdengar dari dalam Mami berteriak, "Hati-hati, sayang."

"Oke!" aku balas teriak.

***


Sepanjang jalan aku tersenyum pada beberapa orang yang kukenal. Misalnya saja tante Rina yang tokonya berjarak lima meter dari tokoku. Dia seorang janda sebatang kara yang membuka toko Perhiasan. Ya, seleranya dalam perhiasan memang sangat tinggi. Wajahnya juga nyaris sempurna. Namun sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Yah, dia akan terlihat galak pada pria mana pun. Aku terkekeh geli akan hal itu.

Selain tente Rina, ada juga Bang Sonny penjual matabak. Om Wicak penjual jam. Om Ken penjual mainan, dan masih banyak lagi. Khusus om Ken, menjadi penjual mainan anak-anak cocok untuknya. Selain ramah dan lemah lembut ia punya senyum yang manis, itu mengingatkanku akan pasangan Barbie. Ken, seperti namanya. Dan satu lagi. Ken sudah berkeluarga, istrinya bernama Princessa. Mereka pasangan yang lucu dan romantis. Aku berharap semesta masih menyimpan satu pria semacam Ken untukku. Yang baik sekaligus perhatian.

Ah, aku jadi ngaco!

Sambil mengelengkan kepala, aku kembali melempar pandangan ke depan guna fokus pada jalan.

Mendadak, tanganku menarik rem dengan kuat hingga kurasa cukup perih. Tubuhku terlempar sebentar ke depan, sebelum motorik mengambil alih keseimbangan. 

Huft, hampir saja aku menabrak seekor kucing! Oh kucing lucu, maafkan aku.

Aku menurunkan cagak sepeda. Lalu turun menghampiri kucing berbulu coklat itu.

"Hai, manis." Aku menggendongnya dan mengelus-eluskan bulu lembut kucing itu. Bulunya sedikit kotor. Dan itu membuktikan bahwa dia tak terawat. Entah kenapa, aku ingin sekali merawat kucing ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk merawatnya.

Karena keranjang di depan sudah dipenuhi oleh bunga jadi aku menaruhnya di keranjang belakang saja. Lagipula kucing itu terlihat penurut. Jadi, sangat tidak mungkin ia keluar dari keranjang.

Aku mengambil headset di dalam tas mungil berwarna pink, berjaga-jaga jika sepanjang jalan nanti aku akan merasa bosan. Toh, Rumah sakit yang ku tuju lumayan jauh, dimana aku harus melewati gedung sekolahku jadi aku memutuskan mendengarkan lagu saja.

Aku sangat menyukai musik. Dulu saat kecil Papi sering membawaku ke beberapa konser ternama, baik itu di Indonesia maupun di Jerman. Dan lucunya aku tidak pintar dalam hal seni itu.

Ah, aku jadi ingat bagaimana suara merdu Era saat melantunkan lagu Ariana Grande berjudul One Last Time. Era memang jago bernyanyi, tapi sayang orang tuanya sama sekali tidak menyukai hal itu. Mereka ingin Era fokus belajar agar nantinya dapat menjadi pemimpin perusahaan turun-temurun keluarga. Dan untuk itu, aku dan Rini sering kali berbohong pada tante Fitri saat Era sedang mengikuti lomba menyanyi.

Pink and BlueTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang