Kelam malam aku selami
Menutup setiap inch rasa jenuh
Mengunci setiap derita dari kepalaku sendiri, aku remuk
Berpendar dari sebatang lilin kelabu,
Menebar aroma tak kasat mata
Aku tergugu sendiri, menikmati kebodohan
Hati yang mati termakan mimpi yang salah
Terbuai pada cerita sakit hati,
Menjadikanku membatu, kosong tak terarah.
Hanya datang dan menghadiri
Lalu pulang..
Dengan air muka yang tak terbentuk lagi, remuk lagi
Aku ingin lari!
Tapi pagar besi mengunci ku disini
dengan beton berlapis duri yang mengurung ku pilu
Tercekat pada kalimat ku sendiri
Ini salah!
Terjebak pada ego,
Meringkuk manja di pelataran perak,
Padahal ada singgasana emas di seberang sungai berduri...
Haruskah, haruskah ku bangkit?
Ku ingin menulis mimpi dengan tinta emas,
Ku ingin mengukir asaku lagi,
Walau remuk hati tak perduli lagi.
.
.
.
Ya, secarik doa yang terselip dari jemari ibu
Buatku bangun, buatku berlari lagi
dan tak apa. Aku harus mengulang dari tanah kembali.
Toh, jalan ini masih terlalu dini untuk di akhiri bukan?
KML(126), Apr 7th, 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
All Of My Mind
PoetryTertulis dari yang sering dilihat dan di alami. Tercipta dari kehidupan aku, kamu, kalian. ©2017Rachelle - All Rights reserved #108 in Dec 25, 2016
