CHAPTER 7

1.2K 179 7
                                        

"Ka-kau sedang tidak bercanda kan, Paman? Kau tidak mungkin Sebastian El Yahya!" seru Maria setengah berteriak. Menatap laki-laki yang dikiranya jauh di atas umurnya dengan tatapan nyalang.

Meski dokter sudah memberitahukan bahwa dia mengalami amnesia disosiatif, hilangnya kemampuan mengingat sebagian lembaran hidupnya. Maria belum mampu menggambarkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia hanya mengetahui jika kini dia sebatang kara. Tanpa ada orang tua dan saudara. Selebihnya, Maria hanya menerima tanpa berpikir dengan serius karena kepalanya sering berdenyut-denyut dan pandangannya selalu mengabur. Membuatnya berpikir jika kini dia berada dalam mimpi.

Maria tidak pernah mempertanyakan sosok asing yang selalu merawatnya dengan kesabaran dan kasih sayang. Dan, itulah kesalahan fatalnya. Maria tidak tahu jika pria yang berada di pertengahan atau akhir dua puluhan itu seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang paling dibencinya. Dan, ketika pria itu memberitahu jika dirinya bernama Sebastian El Yahya. Rasa sakit hati itu kembali bernanah. Rasa sakit yang sangat menganggu dan membuatnya selalu merasakan nyeri seperti duri yang tersangkut dalam dagingnya.

Dihadapkan pada penolakan Irene mengenai sosoknya, Sebastian memilih untuk diam sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya. Sebenarnya dia sudah memprediksi jika istrinya mungkin akan terkejut mendapatkan fakta jika mereka kini berada dalam ikatan pernikahan. Namun, dia tidak bisa mencegah reaksi tersebut karena sama seperti Irene yang amnesia, dia juga tidak bisa menjelaskan bagaimana mereka bisa menikah.

Tidak.

Sebastian bukannya tidak bisa menjelaskan tapi dia belum mampu mengatakan kebenaran itu padanya. Bahkan, ketika Irene masih berada dalam keadaan normal.

"Ah!" Maria memekik keras setelah berpikir lama. Membuat Sebastian kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok istrinya yang kini bersikap kekanakan, bukan perempuan dingin dan ambisius seperti dalam ingatannya. "Kenapa aku tidak memikirkan kemungkinan jika Paman dan Sebastian kenalanku memiliki nama yang sama? Bodohnya aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya."

Sebastian menyatukan alisnya mendengar ucapan Maria yang mulai meracau.

Bagaimana mungkin ada dua orang bernama sama di dunia ini secara kebetulan sekaligus memiliki hubungan dengan seorang wanita yang sama?

"Tidak. Aku adalah Sebastian El Yahya, satu-satunya pria bernama Sebastian dalam hidupmu," gumam Sebastian dengan senyum masam.

Mata Maria langsung menyipit dengan alis terangkat. "Tidak. Kau tidak mungkin Sebastian!" serunya berteriak frustrasi. "Kau tidak mungkin Sebastian karena Sebastian tidak akan pernah bersikap lembut seperti Paman!"

"Dengarkan aku Irene..." Sebastian berniat menggenggam tangan Irene tapi wanita itu menepis tangan laki-laki itu dengan cepat.

"Jangan panggil aku dengan nama Irene!"

"Maria... dengarkan aku, please," pinta Sebastian dengan putus asa. "Aku tahu kamu masih sulit menerima semua ini tapi inilah kenyataan yang sedang terjadi. Kamu kini bukan lagi gadis remaja berusia tujuh belas tahun. Kamu adalah seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun. Bukankah kamu sudah mendengarkan penjelasan dokter sebelumnya jika kamu mengalami hilang ingatan?"

"Siapa kau? Ada hubungan apa kau denganku?!" tanya Maria dengan suara menuntut. "Jika kau adalah Sebastian, kenapa kau ada di sini, menjaga dan merawatku?"

Sebastian kembali terdiam. Bukan karena tidak tahu jawaban pertanyaan itu melainkan dia kehilangan kata-kata. Dia bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Irene. Dia belum siap menerima penolakan wanita itu kembali di saat hubungan mereka mulai membaik beberapa waktu lalu sebelum kecelakaan itu merenggut seluruh kebahagiaannya.

"Jangan diam saja! Jawablah pertanyaanku!" Maria kembali membentak dengan suara memekakkan telinga.

"Aku adalah suamimu," gumam Sebastian lirih.

"Kau, Paman, suamiku?" Maria menatap pria itu dengan tatapan horor lalu terbahak seperti orang kesetanan. "Leluconmu sama sekali tidak lucu, Paman! Kau bilang jika namamu adalah Sebastian El Yahya lalu kenapa kau memperkenalkan dirimu sebagai suamiku?"

"Irene... Kumohon tenangkan dirimu." Ketika Sebastian mencoba menenangkan Irene dengan menepuk bahunya, istrinya segera menghadiahinya dengan tatapan membunuh. Seolah dia sangat jijik dengan sentuhan Sebastian.

"Mana mungkin aku bisa tenang setelah mengetahui jika suamiku di masa depan adalah laki-laki yang mempermalukan diriku di hadapan semua orang! Laki-laki yang tidak hanya menciumku secara paksa tetapi juga mengataiku sebagai gadis pungut yang malang!"

"Demi Tuhan, Irene. Jangan bersikap kekanakan seperti ini. Peristiwa itu sudah lama terjadi!" seru Sebastian dengan suara menggelegar. Kini kesabaran pria itu berada di ambang batas.

Sebastian tidak bisa menghadapi sifat labil istrinya yang kekanakan lebih dari itu. Semua orang tahu selama sebulan ini dia berusaha menjadi seorang suami yang baik. Menjaga, merawat dan mengasihi istrinya yang tengah koma. Namun, jika semua kesabarannya itu kini dibalas oleh kemarahan masa lalu yang tidak berdasar, kesabarannya pun terkikis seperti pasir laut yang tergerus ombak.

"Pergi dari sini!" teriak Maria sambil menutup wajahnya dengan tangan.

"Irene..."

"PERGI! PERGI! PERGIIIII!" Maria berteriak histeris. Dan, tidak mau menatap laki-laki yang berstatus suaminya.

Sebastian mengembuskan napas kasar dan menatap Irene dengan emosi. "Baiklah, aku akan pergi. Kamu tidak usah berteriak seperti itu."

***

15 Bulan - 07 Juni 2017
128 dalam General Fiction
4.56K viewer
1K vote

⚠️ 15 Bulan [On Hold]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang