"Hey, Saraya Renancya, get up now!" Wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat segar itu terus berusaha untuk membangunkan putri malas-nya itu. Hampir setengah jam, ia berada di kamar itu, berteriak tak jelas sambil mencak-mencak karena kesal.
"hhh..." wanita paruh baya yang bernama Andien Habsara atau lebih sering dipanggil Andien, itu menghela nafasnya dengan panjang. Selalu saja seperti ini saat hari minggu tiba, minggu pagi lebih tepatnya.
Anak gadisnya -Saraya- itu sangat malas bangun jika hari libur telah datang. Tapi tunggu! Bukan hanya Saraya saja yang bermalas-malasan tapi semua orang yang ada di rumah itu, kecuali asisten rumah tangga mereka, yang selalu bangun duluan setiap pagi.
Memang cuaca minggu pagi kali ini sangatlah cocok untuk memanjakan diri di kasur empuk, di antara bantal dan guling yang terasa dingin jika dipeluk. Dingin dan sejuk, apalagi semalaman habis hujan deras, ditambah lagi sisa-sisa air dan embun yang membuat suasana pagi itu terasa menyenangkan bagi sosok Saraya.
Dan yang paling sangat menyenangkan bagi seorang Saraya adalah satu bulan penuh ini, ia akan belajar di rumah, alias libur. Ya, libur kenaikan kelas. Sungguh, surga dunia bagi para siswa.
"Mmhh..." Saraya atau lebih sering dipanggil Raya itu bergumam sambil menggeliat. Perlahan ia membuka mata, dan langsung disambut dengan cahaya sinar matahari yang sudah menyeruak masuk lewat jendela kamarnya.
Raya yang sedang mengucek-ucek matanya tak memyadari kalau di depannya sudah ada sang mama yang menatap ia dengan horror.
"Ehem..." terdengar deheman sang mama yang sedikit agak keras, agar Raya menyadari kehadiran nya disini.
"Eh... kok ada mama?" Raya bergumam sambil mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, takut-takut kalau ia masih ada di alam mimpi.
Andien dengan sengaja menginjak kaki Raya yang menapak di lantai samping tempat tidur Queen Size-nya, sehingga Raya meringis kesakitan.
"Duh... mama kok injek kaki aku sih, sakit tau ma" Raya mengusap-usap kakinya yang memerah akibat injakan maut dari sang mama.
"Siapa suruh kamu susah dibangunin, ha?" Tanya Andien
"Ya gak ada yang nyuruh lah ma, mama kayak mana sih, gitu aja ditanya" jawab Raya malas.
"Kenapa kamu jawab?" Andien menatap tajam pada Raya.
Raya yang seakan sadar dengan tatapan tajam nan mematikan itu pun menjawab
" lho... tadikan mama nanya" cicit Raya sambil menggaruk kepala nya gatal."Lain kali, kalau orang tua ngomong jangan kamu bales, enggak sopan itu namanya!" Tegas si mama.
Raya hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu angguk-anggukin kepala gitu?" Tanya mamanya heran
Dan Raya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu gak punya mulut ya? Atau gak punya telinga, hah? Mama ini ngomong sama kamu, kamu jawab dong! Jangan diem aja, mama merasa terkacangi jadinya" omel Andien yang seperti tak pakai titik koma kalau sudah nyerocos.
"Puny..." belum selesai Raya berbicara sudah dipotong duluan oleh mamanya.
"Gak boleh ngejawab perkataan orang tua, inget!" Kata mamanya mengingatkan, lalu berjalan keluar dari kamar itu meninggalkan Raya yang terbengong-bengong menatap kepergian mamanya.
Iya ma, Raya tau, mama memang selalu benar, batin Raya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Drowning In Pain
Teen Fiction"May I have more feelings towards you?" - Saraya Habsary Aryawangsa "Of course, but don't expect me to reply to your feelings" - Razqal Adyatma Bramantheo