"Totalnya Rp. 124.300,00." Suara kasir membuat nyawaku seperti baru saja kembali.
Dengan tergesa-gesa, aku keluarkan dompetku dan membayar semuanya. Bergegas segera ku cari lelaki berjaket navy tadi.
Perasaan tadi dia di sini, deh. Kok cepet banget hilangnya? Gumamku dalam hati. Jujur saja aku masih sangat penasaran dengan pria tadi. Apa mungkin itu dia? Dia yang dulu kujauhi karena Mu ya Rabb?
Flashback On
"Han, ada yang mau aku omongin sama kamu," nada ku sedikit ragu. Tanpa aku mintapun Hanif selalu mempersilahkan ku bicara, bukan? Fiuh...
"Mau ngomong apaan sih? Ngomong ajalah," jawabnya sambil mendongakkan kepala ke arahku.
Dengan berhati-hati, kuseruput jus tomatku yang tersisa sedikit, ya hitung-hitung membasahi tenggorokkan sebelum memulai pembicaraan serius ini. Bismillahirrahmaanirrahiim...
"Aku mau bilang kalau mulai sekarang kita jaga jarak aja, ya? Aku gak mau kita terlalu dekat seperti sekarang. Aku tahu kita emang gak pacaran, tapi aku ngerasa kalau hubungan seperti ini gak dibenarkan dalam Islam. Aku harap kamu ngerti Han." Mulutku memang sudah selesai berbicara, tapi nafasku masih tidak teratur. Jantungku berdetak dengan cepatnya, seolah tahu kalau apa yang mulutku katakan tak sejalan dengan perasaan yang ada.
Ya, aku memang mencintainya, baiklah mungkin bukan cinta. Sayang? Ya, mungkin aku mulai menyayanginya dan bahkan merasa nyaman di dekatnya. Namun Allah lebih menyayangiku dan dia. Aku tahu apa yang sudah kami jalani kurang dari 1 tahun ini adalah rasa yang salah. Rasa yang seharusnya tidak ada. Karena kami bukan mahram dan Allah sangat membenci rasa yang tumbuh di luar ridha-Nya, di luar ikatan suci yang telah ditentukan-Nya.
"Tapi kenapa? Kita kan gak ngapa-ngapain selama ini? Atau kamu tidak serius dengan perkataanmu dulu? Atau ada..."
"Gak, gak ada orang ketiga atau sejenisnya!" Potongku cepat sebelum ia melanjutkan tuduhannya yang sangat tidak benar itu padaku. "Ini murni dari hatiku sendiri, Han. Aku mau hijrah." Akhirnya, intisari dari alasannya sudah keluar dari bibirku. Tapi tidak dengan cairan bening yang masih kutahan di ujung mata ini. Aku harus kuat, terlihat tegar dan ikhlas dengan keputusan yang ku ambil.
Ya, aku memang ingin hijrah. Menjadi pribadi sesuai tuntunan Islam, meski belum sepenuhnya, namun aku akan belajar dan berusaha pelan-pelan. Salah satu langkah awalku yaitu dengan menjaga pergaulan dari lawan jenis, terutama Hanif.
Kesunyian tiba-tiba melingkupi kami berdua. Meski warung Uni Sari ini ramai pengunjung, namun atmosfer yang melingkupi kami berdua seakan membentuk dunia sendiri. Aku sadar, perkataanku membuatnya sangat terkejut. Apalagi selama ini aku menunjukkan tanggapan baik-baik saja padanya.
Kudengar dengusan nafas kesal darinya. Matanya yang selalu menghadirkan ketentraman, kini berubah total dengan kekecewaan dan kesenduan. Oh Tuhan, aku tidak boleh menatapnya seperti ini. Aku baru saja memulainya. Istiqomah Key!" Batinku berkecamuk sendiri.
Flashback Off
Keyra mempercepat langkahnya menuju halte. Satu jam lagi ia sudah harus berada di rumahnya. Dia tidak ingin membuat Uminya cemas karena keterlambatannya pulang meskipun satu jam. Maklum saja, Keyra adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya, Kemal Maulana Arnanta bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Madina, Bukit Tinggi dan telah memiliki seorang anak bernama Nadhira Sabila Maulina.
Sedangkan kakak keduanya bernama Karinta Maydina Arnanta yang bekerja sebaga dosen terbang dan pengusaha toko kue di berbagai kota di Sumatera. Namun Karinta memilih kota Bukit Tinggi sebagai kantor pusatnya, sehingga ia tidak perlu meninggalkan Umi dan Abi mereka yang semakin tua. Syukurlah suaminya yang notabene seorang pebisnis tidak mempermasalahkan perihal itu.
Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, akhirnya Keyra tiba di depan gang komplek rumahnya. Sebenarnya perjalanan tadi hanya membutuhkan waktu 25 menit, namun karena keadaan kota yang kerap kali macet membuat perjalanan Keyra memakan waktu lebih. Untung saja liburan kali ini ia tak membawa banyak barang, hanya satu tas ransel dan satu tas selempang yang ia bawa. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana ia harus menyeret-nyeret koper yang penuh dengan barang-barang yang tidak begitu penting. Keyra memang tipe manusia yang tak ingin repot dan merepotkan, alhasil hanya barang-barang yang memang diperlukanlah yang ia bawa pulang. Masalah baju, handuk, dan sebagainya toh di rumahnya masih tersedia dengan lengkap.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu" salamnya sambil mengetuk pintu. Pintu rumah Keyra memang sering ditutup jika tidak ada tamu. Bukan karena keluarganya tidak ingin bersosialisasi, namun lingkungan komplek yang terkesan individualis mempengaruhi semuanya. Tapi bukan berarti keluarga Keyra individualis pula, halaman belakang rumah yang sangat luas sering dijadikan sebagai tempat berkumpul semua anggota keluarga, terutama ketika akhir pekan.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatu" terdengar suara bariton dari dalam rumah.
Dari suaranya saja Keyra sudah tahu bahwa abangnya, Kemal sedang berkunjung ke rumahnya. Maklum saja, ritual akhir pekan keluarga Arnanta adalah berkumpul di saat liburan atau akhir minggu.
TBC
.
Makasih buat yang sudah baca...
Maafkan keabstrakkan ceritanya. Kritik dan saran dari teman-teman sangat dinantikan... :)
Slow update ya...

KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Cinta
SpiritualTidak ada seorang pun yang tahu rencana Allah. Dia-lah Maha segalanya, Maha pembolak-balik hati manusia. Yang mengubah rencana makhluknya sedemikian rupa, sebab Allah lebih mengetahui apa yang hambanya butuhkan, bukan yang hambanya inginkan~ Hanif s...