BAGIAN 2
______________________________________
Air terasa begitu menyegarkan ketika menyentuh wajah Norman. Ia sangat beruntung dalam permainan kasti hari ini. Timnya unggul hingga 3 poin lebih dari tim lawan. Kabarnya, dalam waktu dekat ini akan ada turnamen. Jadi dia, sebagai seorang pemukul andalan harus berjuang lebih keras agar terpilih untuk turnamen nanti.Miller datang dengan wajah tak kalah coreng-moreng dari Norman. Tapi peluhnya sekali pun tidak dapat menutupi raut bahagianya.
"Kerja bagus, kawan."
Dia menepuk pundak Norman kemudian ikut menunduk membasuh wajahnya. Norman mengelap wajahnya dengan handuk.
"Kau juga. Aku rasa kau akan menjadi pitcher di turnamen nanti," ucap Norman.
"Turnamennya pun baru kabar angin," kata Miller di tengah gemuruh air.
Tak membawa handuk sendiri, Miller meminjam handuk Norman.
"Boleh?" pintanya, "kau tidak punya penyakit kulit, kan? "
Norman memberikan handuknya padanya. Seharusnya dia yang bertanya, pikirnya. Setelah ini akan dia cuci bersih handuk merah Mom-nya itu.
"Trims." Miller mengembalikan handuknya pada Norman ketika sesuatu dalam tasnya menyala dan bergetar. Lantas Norman mengodok tasnya dan mendapati pesan dari Dad.
"Tadi aku melihatmu. Kau sungguh luar biasa dengan tungkaimu yang kurus itu. Kita rayakan malam ini dengan burrito."
Norman terkekeh di balik nafasnya. Dad-nya memang selalu berjanji yang muluk-muluk. Padahal nantinya mereka hanya merayakan hal ini dengan sandwich ikan kod. Atau bisa juga pesta daging asap gosong.
Miller mengintip dari balik kuduknya. "Wow, wow. Dilarang membawa ponsel ke sekolah," tuturnya di antara memperingati dan kagum.
Norman tertawa singkat seraya mengetik pesan.
"Dad berhutang padaku."
Miller masih tak henti-hentinya kagum-sebagai bocah kelas 5 SD yang bahkan tidak perlu ponsel melainkan selalu lengket dengan orangtua. "Kau berani sekali membawa ponsel ke sekolah. Mau pamer? Apa Dad-mu yang belikan?" tanyanya.
Norman menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Yang pertama, tidak. Yang kedua, Mom yang belikan."
Miller mengerlingkan mata,"sama sajalah."
Norman hanya tersenyum. Tentu saja kedengarannya seperti, "jika Mom-mu yang membelikan itu sama saja dengan Dad-mu yang membelikan karena itu uang Dad-mu". Tapi kenyataannya jauh berbeda. Kedua orang tuanya mungkin tidak mengenal kata berbagi sekarang. Mereka lebih mementingkan keperluan sendiri tanpa mau memperdulikan... Pasangannya?
Dan alasan mengapa Kate membelikannya ponsel hanya agar dia tetap dapat berhubungan satu sama lain. Sehubungan dengan minggatnya Kate, Norman terpaksa untuk selalu membawanya karena ibunya menjadi uring-uringan jika 2 jam tidak mengetahui kabar anaknya.
Setelah berganti pakaian, mereka berjalan menuju kelas. Dispensasi adalah sesuatu yang langka di sekolah ini. Terutama untuk cabang olahraga. Biasanya mereka mengadakan perlombaan di sore hari agar tidak mengganggu jam sekolah. Tapi kali ini entah mengapa, mereka mengadakannya tepat pada jam pelajaran pertama. Hingga Norman merasa beruntung karena tidak perlu repot-repot mengikuti kelas penelitian botani.
Di dalam kelas, Miss. Joan sudah berdiri dengan selebaran di tangannya. Setelah mempersilahlan Norman dan Miller duduk, dia memberikan pengumuman,
"Jadi anak-anak, sekolah kita akan mengadakan acara amal. Setiap kelas akan memperdagangkan barang-barangnya di bazar. Khusus kelas 5 dan 6 dipersilahkan untuk mengadakan drama."

KAMU SEDANG MEMBACA
Ain't Got No Greatest Life
General FictionKejadian hari itu, dan kejadian hari ini bukanlah perkara mudah bagi keluarga Bedingfield. Ketika semuanya merasa telah berkontribusi untuk memperbaiki keretakan itu, akhirnya pondasi itu runtuh juga. Sebagai satu-satunya yang masih berharap banyak...