BAGIAN 3
______________________________________
Musim semi.Matahari bersinar seperti lembut. Tumben-tumbenan tidak merasa tergangu dengan awan tipis yang selalu menghalangi bias cahayanya. Desiran angin hangat membawa aroma serbuk bunga, perlahan menyusup melalui celah-celah jendela, terpaksa karena engselnya bahkan tidak diizinkan untuk bergeser, atau gorden yang menghalangi itu semua. Kontras dengan kehangatan di luar, suhu ruangan yang cenderung dingin membekukan ujung-ujung jarinya.
Seorang anak perempuan berambut jagung bergelombang, menghadapi anak yang tergugu duduk di bangkunya. Mata mereka tidak pernah bertemu karena nyali lawannya bahkan enggan mendukung.
Di belakangnya, anak-anak perempuan berpose layaknya gangstar, lupa akan kodratnya sebagai bocah berumur 11 tahun.Anak berambut pirang itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja. Dia terus melumat mata lawannya sampai benar-benar terperas semua keberaniannya. "Kau yang bilang pada Miss. Manda kalau aku mencontek selama ujian bahasa?"
Anak dihadapannya hanya berani mengangkat dagunya sedikit sebelum membenamkannya lagi. Anak berambut pirang itu menggebrak meja yang membuatnya berjengit. Dengan sisa-sisa keberaniannya, anak itu menjawab, "a... Aku. Miss. Manda bertanya padaku apa aku melihatmu menyontek."
"Lalu apa yang kau katakan?" tuntut anak berambut pirang itu.
"Aku bilang tidak tahu. Dan tepat pada saat itu, dia mengecek lokermu dan menemukan kertas contekan yang kau gunakan."
"Kenapa kau tidak menghalanginya? Kau tahu aku menyimpannya di sana!" Si anak pirang kembali menggebrak meja.
Gelagapan, anak di hadapannya menjawab, "aku tidak tahu. Sumpah."
Si pirang berbalik acuh. "Omong kosong! Kau selalu tahu kalau aku mencontek karena kau duduk tepat di sampingku. Dan kau tahu? Dia menghukumku dengan membaca sastra klasik 400 halaman, dan harus membuat resensinya!"
Anak yang terduduk memandangnya tak paham. Pikirnya, bukankah itu hukuman yang menyenangkan ketika kau di suruh menjelajah ke alam imajinasi dari pada harus mengosrek toilet yang baunya luar biasa?
Si pirang yang sadar bahwa dirinya tengah dipandangi mengomel, "kenapa kau melihatku seperti itu? Guys, beri dia pelajaran!"
Tepat ketika salah satu kroninya yang bertubuh bongsor menggemeletukkan jemari, pintu kelas menjeblak terbuka. Perhatian mereka langsung tertuju pada anak lelaki, mengenakan seragam bola kasti yang penuh noda tanah.
"Madison Lerman? Kau ditunggu Miss. Jannet di ruang pentas," ujar anak itu.
Salah satu teman si Pirang mendelik pada anak yang terduduk. "Kau beruntung. Ayo Maddie, kita pergi."
Maddie mendecak setelah sebelumnya menusuk lawannya dengan satu kali tatapan bengis, kemudian melenggang ke luar. Dia menggeram pada anak lelaki itu ketika melewati bahunya, "kau menghambatku, Norman."
Norman mengerutkan dahi, "apa?"
Tak ada jawaban selain suara langkah menggebu-gebu dari kaki anak-anak perempuan itu. Norman menghela nafas dan menarik gagang pintu saat seorang anak perempuan lugu terpekur memandanginya.
"Hai," sapa Norman dengan kikuk. "sedang apa... Di ruangan gelap seperti ini?"
Anak perempuan itu hanya menggeleng pelan, membuat perasaan Norman semakin janggal.
"Oh, aku tidak akan menutup pintunya," ucap Norman kemudian meninggalkannya dengan ragu. Benaknya bergemuruh, sedang apa dia di sana bersama geng Madison yang terkenal dengan bergajul-bergajulnya? Dan mengapa semua gorden ditutup? Kemudian tercetus jawabannya. Mungkin saja, Madison kembali berbuat ulah dengan menindas anak lain. Bukanlah Madison Lerman kalau tidak membuat seluruh anak perempuan di sekolah mencium kakinya.
Norman berhenti berpikir ketika tiba di kelasnya, dan mendapati objek yang mengilat terpapar sinar matahari di luar jendela. Mobil ayahnya menunggu di luar gerbang sekolah. Dia menggedong tasnya dan berjalan ke luar.
Rick tersenyum begitu mendapati Norman dengan tas punggung besar yang bergoyang-goyang, berjalan menghampirinya. Norman melompat ke jok penumpang di sebelah ayahnya, lalu melempar tasnya ke jok belakang.
"Bagaimana latihannya?" tanya Rick sembari memperhatian anaknya menarik sabuk pengaman melintasi tubuhnya.
Setelah bunyi "klik", Norman menjawab, "lumayan. Aku berhasil membuat homerun sekali."
"Itu sangat keren," sahut Rick kemudian mengubah perseneling. Mobil pun meluncur, menyusuri jalanan sore yang lumayan padat dengan kepulangan orang-orang kerja.
Norman termenung memandang melampaui jendela, meski sebenarnya otaknya berpikir lain. Tentang gadis itu."Hei. Bagaimana kalau kita berbelanja sebentar?" tawar Rick.
Norman menoleh pada ayahnya dan tersenyum, "aku mau ayam panggang."
"Kau bilang aku payah soal daging-dangingan," goda Rick.
"Tidak juga. Maksudku, tidak seburuk itu," ucap Norman. Dia berkata benar. Hanya saja suasana sana hatinya sedang super buruk saat berkata bahwa ayahnya payah soal daging-dagingan.
Sebelum berbelok di simpang jalan, seorang anak perempuan yang barusan ditemuinya secara ajaib sudah berdiri di trotoar yang terletak beberapa meter di samping halte. Melihat rompi yang serupa dengan seragam sekolah Norman, plus Norman yang terkesiap memandanginya, membuat Rick menginjak pedal rem.
Rick menenggadah ke spion tengah, lalu melirik Norman. "Haruskah, kita mengajak anak itu?" tanyanya. Agak konyol sebenarnya karena Norman bahkan tidak mengenal anak itu. Tentu Rick sendiri tidak tahu-menahu perihal tersebut.
Namun, Norman menyetujui mengingat wajah tertekannya di tengah gelap. "Ya. Kita mundurkan mobilnya."
Saat mobil bergerak mundur, sebuah mobil sedan hitam berhenti di belakangnya, di depan gadis itu. Logo Lexus pada kisi-kisinya silau tersiram sinar matahari.
"Oh," Rick tercenung, "kau lihat itu, nak?"
Seorang pria paruh baya berjas lengkap keluar dari bangku kemudi kemudian membukakan pintu untuk anak itu. Setelah itu, mobilnya meluncur di sebelah mobil Norman. Kaca filmnya gelap sehingga pandangannya tidak dapat menembus ke dalam. Mobil itu kian menjauh, tapi Rick bergeming.
"Untung kita tidak menawarinya naik mobil butut ini. Mau bilang apa dia nanti?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Begitupula dengan Norman. Pikirannya terus berputar-putar seperti roda ban itu. Terutama bagaimana dia bisa sampai lebih jauh dari mereka, padahal kalau pun iya, bis kota tidak pernah secepat itu menyalip mobil-mobil kecil. Hingga saat mobil hitam itu tertelan horizon jingga, barulah Norman melenggangkan pundaknya yang tidak disadarinya terasa kaku selama detik-detik itu.
"Selain ayam, apa kita harus buat salad?" tanya Norman pada Rick.
Rick mengangkat pundak, menjawab, "sesuai keuangan. Kau tidak mau berakhir makan kotak tisu buatanku, bukan?"
Norman ikut-ikutan menaikkan pundaknya, tersenyum, diikuti tepukan keras tangan ayahnya pada jidatnya sendiri.
"Untuk apa kita mengajak anak tadi? Kita, kan mau berbelanja. Lagipula, belum tentu dia kebal dari kolera setelah duduk di atas jok dekil itu."
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Norman tertawa.
Benar-benar tertawa.~ · ~

KAMU SEDANG MEMBACA
Ain't Got No Greatest Life
Fiction généraleKejadian hari itu, dan kejadian hari ini bukanlah perkara mudah bagi keluarga Bedingfield. Ketika semuanya merasa telah berkontribusi untuk memperbaiki keretakan itu, akhirnya pondasi itu runtuh juga. Sebagai satu-satunya yang masih berharap banyak...