PROLOG

12 0 0
                                    

<<—————>>


"Mohon maaf Tuan Bedingfield."

Pria ber-jas biru dongker itu menggenggam tangannya di atas meja. Mengumpulkan suara, dia merileksan pundaknya sejenak, memandang pria di hadapannya yang menunduk lesu.

"Tidak mencapai target selama 3 bulan berturut-turut, kami tidak yakin untuk tetap membimbing anda," imbuhnya.

Kertas di genggaman pria di hadapannya diremas, dan sejenak turut membuat dahinya berkerut.

Pria bermarga Bedingfield ini tidak kunjung membuka suara, terlelap dalam derita yang dia buat sendiri.

"Jadi," pria ber-jas itu bergerak di tempatnya, "saya telah membebaskan anda dari tugas."

Pria di hadapannya itu mengangkat kepalanya. Rambut acak-acakan serta kantung mata yang menghitam sudah cukup mendeskripsikan keadaannya sekarang.

"Saya persilahkan anda untuk meninggalkan ruangan ini. Terimakasih atas kerja samanya, Tuan Bedingfield," ucap Pria itu dengan senyum dipaksakan.

Bagi Bedingfield, kedengarannya tidak seperti itu melainkan ,"kau manusia paling payah yang ada di muka bumi dan itulah alasan aku memecatmu jadi silahkan angkat sepatu kotormu dari kantor ini."

Sambil susah payah meneguk ludahnya, dia melawan rasa gemetarnya dan berdiri.

"Terimakasih... Tuan Atkinson." Suara paraunya seakan mengiris tenggorokannya.

Pria ber-jas biru dongker itu, Matthew Atkinson alias atasan Ricardo Bedingfield, turut bangkit dan mengulurkan tangannya. Dia sedikit terkejut menyadari betapa kakunya tangan Bedingfield. Jabat tangan yang pelan namun hampa itu membuat Atkinson menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam saku.

Memang tidak sopan bergaya seperti itu di hadapan kolega. Namun, dia merasakan suatu kejanggalan yang jelas-jelas membuat dirinya sendiri takut.

Pria itu tak kunjung melepas pandangannya dari kertas di tangannya meski telah ke luar ruangan. Seakan seluruh kesadarannya telah diserap oleh tinta-tinta itu.

Dia menarik kerah lehernya yang terasa menjepit ketika rekan kerjanya muncul.

"Rick?"

Dengan sekejap Rick menarik senyumannya walau tidak setulus biasanya. Rekan kerjanya itu melangkah dengan terburu-buru.

"Kau–"

Tidak perlu penjelasan lagi ketika melihat kertas di genggaman tangannya serta wajah kecut itu.

"Oh, aku turut prihatin. Aku pikir Matthew tidak akan melakukan itu," lanjutnya.

Rick sejenak menatap rekan kerjanya. Teman seperjuangannya ini bahkan sudah memanggil nama depan atasannya tanpa ragu. Padahal dulu, mau pun dia atau temannya ini memiliki visi yang sama. Menjadi yang nomor satu, apa pun alasannya.

Tapi sekarang, ia bahkan dapat melihat di balik wajah prihatin itu. Dia bahagia. Dia bahagia ketika Rick harus didepak ke luar kantor sedangkan temannya ini mendapatkan promosi.

Tidak, tentu saja Rick tidak ingin menganggapnya munafik. Tapi setiap orang pasti sama. Bila harus memilih di antara keduanya—prihatin atau bahagia, bukankah lebih bagus untuk memberikan kesan baik? Kalau Rick berada di posisinya pun, dia pasti tetap tertawa di balik wajah prihatinya.

"Aku harus segera pulang, Hudson." ucap Rick dengan suara parau lalu melangkah melewati rekan kerjanya itu.

Hudson menggigit bibir bawahnya sembari berkecak pinggang. Tidak ada gunanya terburu-buru menghibur hati yang kacau seperti itu. Jadi apa yang harus dilakukannya sekarang?

Ain't Got No Greatest LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang