RICK: Jawabannya, Pernah

15 0 0
                                    

________________________ BAGIAN 3

Tidak pernah terpikirkan oleh Rick, bahwa dia akan berbelanja dengan tenang setelah satu dekade. Pesanan berbagai macam mebel atau perkakas kayu masih terus mengantri, meski tak sebanyak dulu. Keuangan yang selalu dikiranya pas-pasan, nyatanya membuahkan satu ranjang penuh makanan. Hal ini baru-baru saja terjadi, ketika Kate memutuskan untuk meninggalkan rumah. Baginya, itu malah memudahkannya secara finansial, tapi tidak secara batin.

Kemampuan dompetnya terbukti ketika Norman menyusun dua bungkus Dorritos di puncak keranjang dengan sangat berhati-hati. Norman sendiri tidak ingat kapan terakhir kali dia dibolehkan memborong banyak camilan. Ada dua kemungkinan. Pertama, karena ibunya selalu melarangnya membeli makanan "sampah", kedua, uang mereka tidak sebanyak itu.

Rick tersenyum miring, kemudian menyindir putranya, "sedang menyusun diagram 'makanan sehat', eh?"

Norman menaikkan sebelah pundak. "Tidak ada yang lebih menggembirakan selain duduk di depan tv sambil ngemil Dorrito."

"Dasar Amerika."

Karena keranjang sudah penuh, mereka beranjak ke kasir. Seorang pria menyenggol lengan Rick hingga sebungkus marshmellow meluncur jatuh. Sambil berdecak kesal, dia menoleh pada orang yang menyenggolnya.

"Rick!"

Seorang pria berperawakan tegap, dengan kemeja hitam formal, menepuk lengan Rick. Sementara Rick memungut makanannya, pria itu mengalihkan pandangan pada Norman. Norman menaikkan alisnya, tersenyum, menunggu sesuatu yang menyenangkan terjadi pada dirinya.

"Aku berani bersumpah. Wajahmu semakin mirip dengan dadmu," ucapnya seraya mengacak rambut Norman. Hal itu membuat senyuman Norman makin merekah. Karena pria ini, Hudson Wallet, selalu pandai membuat suasana hatinya lebih baik.

Rick mendesah, "tentu saja. Garis keturunan Beddingfield memang selalu mengagumkan."

"Kau tidak sedang memuji diri sendiri, kan?" Sindir Hudson.

"Tentu saja iya."

"Terserah. Ngomong-ngomong, apa kabar Kate?"

Rick diam beberapa saat, kemudian menjawab sambil melempar permen mentos ke keranjang yang sebenarnya tidak diinginkannya, "baik."

Lalu matanya menatap ke atas. "Dia baik. Kemarin baru datang ke rumah," tambahnya.

Hudson mengambil antri di kasir diikuti Rick di belakangnya. Sambil menunggu, dia melanjutkan, "Aku dengar dia sudah bertunangan, benar?"

"Ya. Dia memang mempesona," balas Rick, namun berbeda dalam hatinya. Dia hanya sedang berusaha berkomentar baik tentang Kate di hadapan Norman yang terpekur memperhatikan percakapan. Sungguh tidak sopan, pikirnya.

Hudson tertawa singkat. "Kau beruntung pernah memilikinya," guraunya.

Pernah.

Menyadari raut hampa pada wajah Rick, membuat Hudson buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Kau belanja banyak sekali."

"Sebulan tidak menyicip keripik kentang membuatku uring-uringan," ucap Rick datar tapi berhasil membuat Hudson tergelak.

"Simpan dompetmu. Norman, kau mau eskrim? Ambillah," seloroh Hudson.

Rick mengibaskan tangannya, menolak traktiran Hudson.

"Sudah tidak apa-apa," tutur Hudson.

Rick menggeleng, ucapnya, "tidak tidak perlu. Ini merepotkan."

"Hanya eskrim."

"Aku memang sedang sepi pesanan tapi bukan berarti aku jatuh miskin."

Perdebatan itu membuat orang-orang menoleh pada mereka. Dengan canggung, sambil memandang ke sekeliling, Hudson mengalah. Norman kembali dengan eskrim 3 rasa ukuran 1,5 liter.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 20, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ain't Got No Greatest LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang