Arista sudah berada disebuah cafe dekat rumahnya. Ia meminum secangkir jus jambu merah. Ini hari libur, setidaknya ia ingin bersantai. Ia jenuh karena seharian terus bersama Caster yang terlalu overprotektif padanya.
Ia cukup pintar agar terhindar dari mata Caster. Ia beralasan untuk membeli pakaian dalam. Yah setidaknya Caster masih memberikannya sebuah privasi. Dan walaupun itu sebuah kebohongan.Arista sekarang duduk disebuah kursi dekat pintu. Dengan tatapan datarnya, ia memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang.
Ada seseorang yang membuatnya sedikit penasaran. Dia seorang pria tinggi bertubuh ideal dengan kulit putih. Bukan karena ketampanan yang membuat Arista penasaran. Tapi tatapan mata pria itu yang mengingatkan Arista pada seseorang.Pria itu membeli sebuah coklat panas, kemudian membawanya keluar. Ia sedikit tersenyum pada Arista saat tatapan mata mereka bertemu. "Dia..." gumam Arista ragu. Ia segera berdiri dan mencoba menemui pria itu. Ia ingin memastikan sesuatu. Tapi saat Arista sudah keluar dari cafe, pria itu menghilang.
Arista mencoba mencari, tapi sama sekali tak ada jejak. Pria itu seakan menghilang ditelan bumi. "Itu pasti dia" yakin Arista. Ia segera melangkah pergi menuju rumahnya.
⚫◽⚫
"ARISTA.... " teriak Glen dari belakang. Arista sungguh tak memperdulikannya.
"Hei! Kau.. cepat sekali jalannya..." ucap Glen terbata-bata. "Oi Arista.... kau mau kemana?" Tanya Glenn lagi."Pulang"
Arista tetap melihat kedepan, tanpa memperdulikan Glenn yang sekarang sudah berjalan disampingnya."Jalan jalan yuk"
"Ga"
Glenn berfikir keras untuk mengajak Arista. Sulit untuk membujuk Arista. Bahkan dalam 100 lebih ajakan, Arista hanya menerima 2 ajakan Glenn.
"Ayolah.. sebentar saja.. oh. Aku main kerumahmu sajalah kalau begitu.." ucap Glenn dengan girang. Mendengar ucapan Glenn, Arista langsung menoleh menatap Glenn datar.
"Tidak boleh" ucap Arista serius."Pokoknya aku akan tetap kerumahmu jika kau tidak---"
"Iya" akhirnya Arista mengalah. Ia tidak mau jika nanti Caster bertemu dengan Glenn. Akan ada masalah baru yang muncul dan hal itu akan membuatnya kerepotan.
"Yosha" Glenn sangat senang karena ajakannya berhasil. Ralat tapi ancaman. Terkadang Glenn merasa curiga, apa yang disembunyikan Arista didalam rumahnya. Kenapa Arista begitu takut jika ia main kerumah Arista.
"Tidak ada apa-apa dirumahku" Arista berhenti berjalan dan menatap Glenn."Kau bisa membaca pikiran orang ya?" Tanya Glenn.
"Tidak, sebaiknya kau cepat bilang kita akan pergi kemana sebelum moodku hilang dan aku akan membantingmu jika kau terus mengikutiku" Glenn terpesona dengan ucapan Arista kali ini. Sungguh, baru kali ini Arista berkata sepanjang itu.
"Sepertinya moodmu sedang baik, kalau begitu ayo!" Glenn langsung menggandeng tangan Arista untuk berjalan mengikutinya. Arista hanya diam dengan perlakuan Glenn padanya. Setidaknya kali ini, ia bisa menjauhkan Glenn dari Caster.
Sekarang mereka ada disebuah taman.
Taman kanak-kanak yang sepi. "Ke-na-pa ki-ta di-sini?" Sekarang Arista benar-benar ingin pulang.
"Aku hanya ingin berduaan denganmu, apa itu salah?" Glenn sunggu lelaki yang sulit ditebak.
"Sangat salah" Arista mulai berjalan meninggalkan Glenn.
Glenn yang menyadari itu langsung menahan tangan Arista. "Kau tidak boleh pergi dulu" ucap Glenn."Pemaksa" gumam Arista dengan wajah datarnya.
Akhirnya mereka berdua duduk disebuah ayunan.
Hening~
Tak ada dari mereka yang berbicara. Arista malas untuk berbicara keculi itu sesuatu yang penting. Sedangkan Glenn.. dia bingung harus bicara apa. Ia sudah sering diabaikan oleh Arista, tapi bukan itu masalahnya.
"Aku suka tempat ini" ucap Glenn tiba-tiba. Setelah berfikir keras, akhirnya hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulutnya.
"Taman .. kanak-anak?" Tanya Arista datar.
"akhh... bukan itu maksudku, hahhhh... sudah lupakan saja" akhirnya Glenn menyerah.
"Aku suka langit" tiba-tiba Arista berbicara membuat Glenn sangat senang.
"Kenapa?" Tanya Glenn. Ia sungguh senang karena ini baru pertama kalinya Arista mengajaknya ngobrol seperti ini.
"Karena disana ada sebuah istana besar"
"Ha? Jadi, kau ingin kesana?" Tanya Glenn.
"Ya.. ibuku bilang, dilangit ada sebuah istana kebahagian. Aku akan naik kesana suatu saat nanti. Aku akan bahagia disana"
Ucapan Arista membuat Glenn diam. Glen sadar bahwa Arista hidup penuh dengan rasa sakit. Walaupun ia tak melihatnya tapi ia bisa merasakannya.Naluri cintanya pun hadir. Glenn memeluk Arista dari samping. Bermaksud memberitahu Arista bahwa ia tak sendirian. Walaupun ia tak tahu apakah Arista mengerti akan hal itu.
Arista hanya diam.
Tak akan ada yang berubah walaupun ia bersama orang lain. Itulah yang ia percayai sampai saat ini."Lepaskan tangan kotormu dari nona ku!!" Teriak seseorang dan jelas dia Caster.
Glenn langsung tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam Caster yang berada jauh didepan.
"Apa maksudmu? Nonamu? Yang benar saja, dia Aristaku!" Balas Glenn geram"Sebaiknya kita tidak perlu banyak bicara, bagaimana kita tentukan dengan nyawa huh?" Tantang Caster, sudah sedari tadi Caster mencari Arista. Ia sangat khawatir, tapi saat melihat Arista dipeluk seperti itu. Membuat Caster geram.
"Hah.. kau menantang orang yang salah" Glen langsung berdiri, bersiap untuk menyerang.
"Glenn, jika kau masih melawan. Aku akan membencimu selamanya." Glen langsung terkejut dan terdiam. Ia sungguh tidak mau Arista membencinya.
Arista menoleh menatap datar Caster. "Dan kau Caster, jika kau melakukan hal ini lagi. Aku akan mengusirmu" Caster langsung terdiam sama terkejutnya seperti Glenn.
Arista langsung meninggalkan dua lelaki itu yang terdiam mematung.
"Menyusahkan..."Tbc :v

KAMU SEDANG MEMBACA
Lost Heart
ChickLitApa kalian percaya dengan kasih sayang? Apa kalian yakin hidup akan berakhir bahagia? Apa kalian yakin ada seorang yang akan mengerti dirimu? Apakah kalian yakin mereka mengerti perasaanmu? TIDAK !! Semua itu hanyalah kebohongan! -Historia Archa...