•~ Part 6~•

5.7K 176 13
                                        

Kalau Farel bisa memilih, ia tidak akan mau membawa Beby ke rumah sakit yang ternyata sama dengan rumah sakit dimana ibu Nina dirawat. Ia lupa dengan hal tersebut. Tadi sore ia terlalu panik dan tak memikirkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa Beby.

"Rel, kenapa kamu diam?"

Farel tersentak mendengar panggilan Nina yang entah untuk ke berapa kalinya. Dengan gugup ia meletakkan makanan yang baru dibelinya ke atas meja kantin rumah sakit, lalu duduk di kursi.

"Jawab aku Farel! Kemana aja kamu selama ini? Aku benar-benar gak tahu apa maksud kamu ngejauhin aku seperti ini Rel!" tanya Nina lagi, kini air mata mulai mengaliri pipinya.

Ingin sekali Nina memeluk cowok di depannya. Cowok yang sudah 4 bulan menjauhinya. Kini Farel ada di depan matanya. Tapi entah mengapa, cowok tersebut terlihat tidak nyaman dengan pertemuan mereka.

Nina baru saja membeli nasi goreng di kantin tersebut, tanpa sengaja ia melihat seorang cowok yang mirip dengan Farel. Saat ia mendekati cowok itu, ia menyadari bahwa si cowok benar-benar Farel. Ketika ia memanggilnya, Farel terlihat sangat terkejut dan tidak menjawab panggilannya.

"Maaf Nina. Aku ... aku gak bisa jelasin apa-apa ke kamu. Aku minta maaf. Hubungan kita ... udah lama ber ... berakhir."

Nina tersentak. Berakhir? Sejak kapan?

"Apa maksud kamu Rel?"

Farel mulai risih karena beberapa orang yang berada di kantin mulai memperhatikan mereka. Ia berdiri, mengambil bungkus makanannya lalu mendekati Nina dan mengusap pipi gadis tersebut.

"Sekali lagi aku minta maaf. Aku pergi dulu."

Farel melangkah, menjauhi tempat tersebut. Meninggalkan Nina yang masih terisak pelan. Ia mendesah lega saat mengetahui Nina tak mengejarnya.

Maafkan aku Nina. Aku ini seorang bajingan brengsek yang telah memperkosa wanita lain. Aku tidak pantas untuk wanita sebaik dan secantik kamu. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Batin Farel.

Ia memejamkan matanya sekejap, lalu melangkah semakin jauh. Mengabaikan rasa sesal yang masih ada di hatinya.

"Dari mana lo?" tanya Beby saat Farel memasuki ruangannya.

Farel mengangkat makanan yang di pegangnya tinggi-tinggi.

"Beli soto di kantin. Aku lapar," jawab Farel.

Ia duduk di kursi yang disediakan, lalu membuka bungkus sotonya. Bau soto yang harum langsung memenuhi seisi ruangan. Mau tak mau Beby meneguk ludah mencium bau tersebut.

Farel mulai menyuap sendok pertamanya. Ia tak sadar ketika Beby memperhatikannya dengan ngiler.

"Enak?" tanya Beby dingin.

"Eem." jawab Farel singkat sambil terus menikmati sotonya.

Beby kembali meneguk ludah. Dasar Farel sialan! Ditanya begitu peka kek kalo gue pengen juga! Kurang ajar banget makan gak nawar-nawar! Batin Beby.

"Beneran enak?" tanya Beby lagi. Farel cuma mengangguk.

"Terus?"

Farel menghentikan kunyahannya. Melihat ke arah Beby dan sedikit kaget karena gadis tersebut juga memandangnya.

"Terus apanya Beb?"

"Sotonya!"

Farel semakin tak mengerti. "Sotonya? Emang ada apa dengan sotonya?"

"Auk ah!" jawab Beby kesal.

Farel menggeleng tak mengerti. Lalu melanjutkan menikmati sotonya. Beby melirik sedikit. Dasar cowok gak peka! Kepala botol! Gue pengen juga Rel, pengen! Jerit hati Beby.

Dont Touch Me! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang