Farel tidak habis pikir, mengapa Beby begitu menikmati saat-saat mengerjainya setiap hari. Padahal ia sudah berusaha meminta maaf dan bertanggung jawab. Farel mengerti Beby tidak mungkin bisa secepat itu memaafkannya karena apa yang telah ia lakukan pada gadis itu sangat kelewatan. Tapi ia benar-benar tidak berniat melakukan hal itu. Bisakah Beby mengerti sedikit saja?
Di sisi lain, ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya tidak bisa menolak satu pun perintah Beby, bahkan perintah yang teraneh sekali pun. Setiap kali Beby menyuruhnya melakukan sesuatu, Farel langsung mengerjakannya tanpa terlihat keberatan sama sekali. Mengapa ia tidak bisa bertindak tegas dan menolak permintaan Beby? Apakah karena rasa bersalah yang selau menghantui dan menuntutnya untuk bertanggung jawab, atau karena ... ia mulai memiliki perasaan kepada gadis itu?
Mungkinkah?
Mungkinkah Farel perlahan melupakan Dara?
***
Beby begitu ingin makan bakso cilok yang biasa lewat di depan rumahnya yang lama, ciloknya Mang Dirman. Namun hingga pukul enam sore Mang Dirman tidak juga muncul di pekarangan rumah barunya.
Gimana sih Mang Dirman! Kan udah dikasih tau alamat baru gue, gak jauh juga dari rumah ibu! Batin Beby kesal.
Farel hanya keheranan melihat gadis itu uring-uringan tanpa berani menegurnya. Ia tahu Beby tidak akan mau menjawab pertanyaannya.
"Argh ... Kenapa sih tuh tukang cilok gak muncul-muncul!" teriak Beby kesal.
Ia membanting pintu dan kembali ke kamar, tidak memperdulikan tatapan heran Farel yang tengah mengepel rumah. Farel meletakkan alat pel, lalu menyusul Beby ke kamar. Merasa perlu menenangkan gadis tersebut.
"Kenapa Beb?"
"Gak!" jawab Beby ketus. Ia mengambil sebuah majalah dari sebuah meja dan berusaha membacanya. Namun ia tidak bisa mengerti sama sekali tulisan di majalah tersebut.
"Baca majalah kok kebalik?!" tanya Farel heran.
Beby melihat sampul majalah.
Terbalik!
Beby melirik Farel dengan tatapan sinis. "Masalah buat lo?" ucapnya kasar, ia melempar majalah ke meja dan membaringkan tubuh di kasur, berusaha untuk tidur.
Namun ternyata tidak bisa, ia begitu menginginkan bakso cilok Mang Dirman. Beby mulai tampak gelisah membayangkan betapa nikmatnya bulatan bakso dan hangatnya kuah bakso Mang Dirman.
"kamu kenapa sih Beb? Muter-muter mulu kaya gasing?!"
"bukan urusan lo!"
***
Cukup! Beby tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk menikmati bakso Mang Dirman. Mau tidak mau ia terpaksa menyuruh Farel mencarikan bakso untuknya.
"Woi. Cariin bakso dong. Gue laper!" suruh Beby tidak sopan.
Farel menatap jam, sudah pukul 10 malam. Minta bakso kok jam segini! Lagian udah makan juga tadi! Batin Farel sedikit kesal.
"Emang masih ada warung bakso yang buka jam segini? "
"Siapa juga yang nyuruh lo cari bakso yang lain, gue mau lo beli bakso yang sering lewat di depan rumah gue dulu, baksonya Mang Dirman!"
"tapi aku kan gak kenal dia Beb,"
"makanya kenalan! Cepetan. Gue
laper!"
"Ya aku mau nyari dia dimana? Kemarin aja yang pas kamu nyuruh nyari dia buat sarapan, aku gak jumpa dan ujung-ujungnya kita makan ayam bakar! Apalagi nyarinya malam-malam gini! Yang bener aja Beb!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dont Touch Me!
RomanceMenikah dengan orang yang telah memperkosanya? Siapa yang mau?~ Beby sangat membenci Farel. Terlepas dari apa yang telah dilakukan pria itu kepadanya, Beby juga sangat benci dengan apa yang ditinggalkan pria itu di dalam tubuhnya. Apa yang akan dil...
