Alena masuk kedalam butiknya dengan mata merah dan sembab. Langkah gontainya mengundang pertanyaan para karyawan yang melihatnya. Sebab, atasannya itu selalu bersemangat dan ceria. Tidak pernah terlihat seperti ini.
"Are you okay, Al?"
"Hmm... Apa ada harus aku kerjakan hari ini?"
"Nope.. Pulang sajalah, kau terlihat sangat... errrr... Kacau?"
Sungguh wajah asisten sekaligus sahabatku ini membuatku ingin tertawa. "Okay.. Baiklah. Terima kasih sudah mengusirku"
Kiara mendengus, aku hanya terkekeh dan berlalu melihatnya.
"Ken mencarimu tadi. Ia bilang dia menunggumu ditaman biasa" aku menoleh ke Kiara, senyum tulusnya menular padaku. Setidaknya mood-ku membaik setelah mendengar nama itu. Kenete.
Aku bergegas menuju taman yang tidak jauh dari apartement-ku. Hampir berlari saat ku lihat sebuah motor besar berwarna putih terparkir disana. Ken duduk memunggungiku dipinggir danau, rambutnya sedikit acak-acakan karena angin.
"Alena.. Stop mengagetkanku seperti ini!!! Bisa-bisa aku jantungan" dia hampir terjungkal saat aku memeluknya dari belakang. Sungguh aku merindukannya.
"Ahh Ken.. I miss you.. Kapan kamu sampai? Kenapa gak kasih tau aku? Kan aku bisa jemput kamu. Jahat gak kasih kabar!!" Ken hanya terkekeh melihatku melipat tangan didada dan memajukan bibirku.
"Aku gak mau repotin kamu Ale... Lagian kamu pasti sibuk banget kan ngurusin pertunangan kamu?" ia menaik turunkan alisnya, menggodaku dengan pertanyaan yang menohok dadaku. Sibuk? Bahkan aku tidak tau hal itu akan terjadi atau tidak.
"Le, kenapa? Ada apa?"
Aku mendongakkan wajahku, menatap ke mata biru-nya. Memaksakan senyum dari bibirku. "Gak apa-apa.. Kamu gimana? Sudah selesai kerjaan kamu disana?"
"Sudah. Dan jangan mengalihkan pembicaraan, Le. Kamu kenapa?" alisnya bertaut, menatapku dengan sorot bingung dan penuh tanda tanya. Tatapannya menyelidik kedalam wajahku. Aku tidak berani melihatnya, kualihkan wajahku menatap ke danau. Lalu kata-kata itu muncul. Membuat jantungku berhenti sejenak, meloloskan satu tetes air mataku tanpa aku inginkan. Aku membalikkan wajahku untuk menatapnya. Wajahnya datar, rahangnya mengeras, tatapannya tak kalah tajam dari tatapan favorit-ku. Aku menahan nafas.
"Kalau hal itu menyakitimu, batalkan pertunangan itu"
Hope you read, enjoy, and like it.

KAMU SEDANG MEMBACA
Belong To You
RomanceKetika kau mencintai sahabatmu, selalu ada untuknya, dan berhasil menikah dengannya. Namun, semua berubah, sifatnya, sikapnya, dan hatinya. Akankah kau bertahan? Atau melepaskan? Bertahan dengan semestamu bersama hujan badai dan guntur menghujam...