"Pria harus mengerti bahwa ada hati yang teriris,
dibalik seorang wanita yang sedang tersenyum manis dan tertawa histeris."
*
"Bu, terus bagaimana jika ada anak yang emang nakalnya itu gara-gara dia sering dibully temennya disekolah, dia disekolah pendiem tapi gara-gara dia dibully, dirumahnya dia malah mencontohkan seperti teman yang membullynya disekolah, apakah sebaiknya dipindahkan saja sekolahnya?" tanya salah seorang mahasiswi
Pagi ini Seulgi mendapati kelas yang seharusnya dijadwalkan disiang hari, namun karena ia harus mengurus kartu ATMnya yang hilang entah dimana ia lupa menyimpannya sehingga ia harus membuatnya lagi disalah satu bank didekat kampus dimana ia mengajar. Seulgi menanggapi pertanyaan itu diawali dengan sebuah senyuman, ia yang tadinya duduk dikursi tepat didepan para mahasiswa itu seraya bangkit karena pertanyaan yang dilontarkan salah seorang mahasiswinya itu sangat menarik untuk dibahasnya.
"Terimakasih Dina sudah bertanya, menarik ya pertanyaannya. Sebaiknya jangan langsung dipindahkan ya, coba dekati dulu si anak pendiam dan yang suka membullynya itu, jika sudah menemukan apa masalahnya, mulailah nasihati, lebih perhatikan mereka. Jika cara tersebut tidak membuahkan hasil, coba dengan memindahkan murid tersebut ke kalas lain, seperti itu. Bagaimana bisa diterima jawaban saya?" ungkap Seulgi secara jelas kepada mahasiswi yang melontarkan pertanyaannya itu
Terlihat tidak hanya mahasiswi yang melontarkan pertanyaan saja, namun mahasiswa-mahasiswi lainnyapun ikut menganggukkan kepalanya mengartikan bahwa mereka mendapat 'point' dari pertanyaan rekannya barusan. Sepuluh menit menjelang berakhirnya kelas, Seulgi menutup materinya tersebut dengan bertanya kembali apakah ada yang masih ingin bertanya atau tidak. Namun mahasiswanya serentak menjawab tidak, maka langsung saja Seulgi menutup pertemuannya hari ini dengan mahasiswa-mahasiswinya tersebut.
Langkah kaki Seulgi terhenti tiba-tiba di sudut gedung kampusnya. Ponselnya bergetar ribut menandakan ada sebuah panggilan masuk didalam tasnya itu. Seulgi menghela napasnya kasar karena kesal getarannya itu menganggu perjalanannya menuju mobilnya yang terparkir ditempat parkir khusus untuk dosen. Ternyata panggilan tersebut datang dari Yeri,
"Gi ada jadwal ngajar ga lo nanti siang? Fitting baju ya gue tunggu dibutik biasa yang sering gue datengin kemarin-kemarin, Krystal sama Joy juga hari ini," ucap Yeri disebrang sana
Lagi-lagi Seulgi menghela napasnya kasar, Yeri selalu memberitahu segalanya secara mendadak, meskipun hari ini sebenarnya Seulgi tidak ada jadwal mengajar lagi namun tetap bagi Seulgi jadwalnya untuk istirahat dirumah harus ada. Jika Yeri bukan orang penting dihidupnya, jelas saat detik itupun Seulgi akan menjawab tidak tanpa berpikir. Beruntungnya Yeri, karena ia sahabat Seulgi sejak duduk dibangku SMA maka Seulgipun harus meng-iya-kan perintah Yeri kepadanya. Lagi pula fitting baju inipun sangat penting untuk diacara pernikahan Yeri dan suaminya bulan depan nanti.
Takut akan dibank yang akan dikunjunginya penuh, setelah mematikan panggilan dari Yeri dan memasukan kembali ponselnya kedalam tas, Seulgi melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir ditempat parkir khusus dosen tersebut. Ia pun langsung mengemudikan mobilnya menuju bank tersebut.
*
Chanyeol melirik jam ditangannya dengan gelisah. Sudah mendekati pukul sebelas siang, tetapi ia belum juga mendapatkan customer untuk ditangani keluhan dalam tabungan atau bahkan ATMnya. Sedikitnyapun ia bersyukur karena hari ini tidak seperti hari diminggu kemarin yang antrian untuk ke 'Customer Service' sangat panjang dan beberapa masalah dari customernyapun memang butuh waktu yang lama sehingga Chanyeol kelelahan.
Tidak hanya Chanyeol saja yang merasa begitu, namun rekan kerjanyapun Karina, ia juga sama merasakan seperti apa yang dirasakan Chanyeol. Diantara rekan-rekan wanita ditempat kerjanya, Chanyeol memang lebih dekat dengan Karina, karena yang membimbing Chanyeol ketika pertama kali ia diterima kerja di bank ini adalah Karina. Lantas tidak aneh jika keduanya terkadang sering terlihat bersama sehingga beberapa rekan kerja yang lainnya menganggap bahwa mereka mempunyai hubungan lebih dari teman.
YOU ARE READING
Hello, Happiness
Fanfic"Tuhan menciptakan segalanya secara berpasang-pasangan; Bumi dan Langit, Bulan dan Bintang, begitupun Aku dan kamu."
