#2 DEATH

185 28 30
                                    

Apakah kehidupan itu?
Kehidupan adalah kilasan sinar seekor kunang-kunang di malam hari.
Kehidupan adalah napas seekor kerbau di musim dingin.
Kehidupan adalah bayang-bayang mungil yang melintasi rerumputan.
Dan lenyap dengan sendirinya saat Matahari terbit. – Kata-kata terakhir Crowfoot, Orator dan pahlawan Blackfoot, 1890

Surabaya.

Kota tua yang lebih dikenal dengan sebutan City of Heroes (Kota Pahlawan) ini, merupakan saksi sejarah tentang terjadinya pembantaian manusia secara besar-besaran …

Keberadaannya sangat menentukan arah perlawanan umat manusia dalam menghadapi pasukan monster dari arah barat pulau Jawa, yang saat ini lebih dikenal sebagai Distrik 13.

Di dunia ini … terdapat 108 Distrik yang menjadi sarang dari 108 Monster King atau pemimpin tiap pasukan monster.

Setidaknya, setelah 8 tahun melakukan perlawanan, umat manusia berhasil mengurangi jumlahnya menjadi 89 Monster King.

*****

Pusat kota, Jalan Pemuda.

Jalanan yang biasanya ramai dilalui oleh kendaraan … kini terlihat sepi. Beberapa kendaraan seperti mobil dan sepeda motor terlihat berada di tengah jalan, ditinggalkan oleh pemiliknya. Bahkan, mobil sekelas Benz atau Si Kuda JingkrakFerrari” dibiarkan begitu saja dengan pintu yang terbuka. Mobil-mobil mahal seperti kedua mobil tersebut nampak tertimbun oleh lapisan debu yang menghilangkan pesona mereka.

Tak jauh dari sana, terdapat sebuah taman yang nampak rimbun dipenuhi berbagai jenis tumbuhan dan bunga. Sungguh sebuah pemandangan yang jarang kalian jumpai setelah Apocalypse terjadi.

Taman yang dulunya dikenal sebagai Taman Apsari atau taman surga ini, telah dikuasai oleh monster sekelas Orc, Goblin, dan Ogre yang dipimpin oleh seekor Orc Chieftain, salah satu monster yang paling ganas dan brutal yang ada di dunia.

Tampak sebuah patung setinggi 4 meter yang memperlihatkan seorang lelaki yang mengenakan kemeja dalam posisi tegap dan berkopiah. Ia terlihat mengenakan ikat pinggang dan sebuah tongkat layaknya seorang pahlawan revolusi di masa kemerdekaan.

Pada bagian bawah patung terdapat sebuah plakat bertuliskan “Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu”.

Plakat tersebut bertuliskan kutipan pidato Gubernur Suryo pada tanggal 9 November 1945 di Radio Nirom Jalan Embong Malang, yang mungkin saat ini telah menjadi reruntuhan bangunan.

Patung Suryo pasti akan tampak megah jika tidak ada tumpukan mayat manusia yang bertebaran di sekitarnya. Pemandangan mengerikan ini membuat siapapun yang melihatnya akan langsung mual dan muntah. Jelas saja, potongan dari tubuh manusia terlihat bertebaran dimana-mana dan mengeluarkan bau busuk, kalau ada yang tahan dengan hal seperti ini maka dia memiliki kelainan mental!

Tangan … kaki … bahkan kepala … masih mengeluarkan darah segar yang mengundang beberapa makhluk seperti Forest Wolf untuk datang dan melahap “kudapan” nikmat tersebut.

Jika dilihat dari dekat, kalian akan menemukan seorang lelaki berlumuran darah berada diantara timbunan mayat. Ia terlihat terengah-engah dengan mulutnya yang mengeluarkan darah merah, mulutnya terbuka dan menutup mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

God Abandoned Us!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang