Dzahabi007
Saat itu tanggal 3 April 2019, ratusan pasukan robot, teroris, mafia, dan aliansi penjahat dunia bersatu dalam menyerang tiga negara pada awalnya di sekitar jajaran Tiongkok, Amerika, dan Eropa. Pada awalnya, tindakan mereka ini dianggap sebagai tindakan anarkis dari sebuah perlakuan pertidaksetujuan dengan pihak antara Amerika-Asia yang bermula oleh teroris, namun lama kelamaan menjadi sebuah penyerangan besar yang tak terelakkan. Memang benar, saat itu krisis-krisis politik, ekonomi, sosial di Amerika mengalami penyusutan yang besar hingga mempengaruhi negara-negara yang bekerjasama dengannya.
Pasukan PBB, S.W.A.T., S.A.S, dan berbagai kepolisian telah dikerahkan untuk mengalahkan para teroris dan robot. Namun, mereka semua juga tidak mampu mengalahkan mereka yang jumlahnya melebihi para kepolisian. Tidak hanya kalah di jumlah, tapi juga kalah di kekuatan. Para robot itu juga tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Pada akhirnya, pihak kepolisian juga tidak mampu berbuat apa-apa atas insiden yang terjadi.
Semua insiden yang terjadi dilakukan oleh organisasi C.A.F.F., sebuah organisasi kejahatan dunia yang beranggotakan seluruh teroris dan penjahat di seluruh dunia serta memiliki pasukan robot. Tujuan utama C.A.F.F belum bisa diketahui secara pasti oleh letnan militer Amerika, Let. Michael Wesley, dalam rapat pertemuan antar pasukan militer Amerika. Ia diberi tugas oleh seorang Jendral untuk menghentikan invasi C.A.F.F dan mencari tahu apa yang direncanakan oleh C.A.F.F.. Dalam misinya, ia bertemu dengan dua orang yang akan membantu menyelamatkan dunia. Akankah mereka berhasil menuntaskan kejadian semua ini?