Ada satu hal yang lebih indah dari pada cinta ketika masa SMA
Bel istirahat
🌿🌿🌿
KRINGGGG
Ohyeah, sebuah kode keras yang memerintahkan Pak Tri untuk meninggalkan X IPA 8 sekarang juga!!!
Frista mengeluarkan novelnya yang belum selesai ia baca beberapa hari yang lalu. Ia mulai fokus pada buku yang ada di tangannya. Dia terlihat lebih cantik ketika sedang fokus membaca. Ditambah dengan model rambutnya yang dikuncir kuda dengan beberapa anak rambutnya.
"Habis ini pelajaran apa?" Tanya Putri.
"Matematika kayaknya." Jawab Frista datar. Masih fokus pada novelnya.
Putri menghembuskan nafasnya pelan. "Ngitung lagi ngitung lagi" desahnya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Hm"
"Udah ngerjain pr?"
Frista mengangguk.
Putri merasakan kegaringan yang so crispy diantara mereka berdua. Ya begitulah Frista kalau sudah menyentuh benda sakral bernama novel. Jadi tidak ingat sekeliling kalau belum ditimpuk sama buku biologi yang tebalnya setara dengan batu bata yang ditumpuk lima. Karena tak mau ambil pusing Putri pun mengeluarkan ponsel dan memainkan benda pipih itu walaupun hanya menggeser geser menu atau mengedit foto yang ujung-ujungnya dikatain jelek dan dihapus.
"Woy.. woy.. Pak Budi dateng!!" seru seorang laki-laki yang mendapat tugas jaga pintu. Frista kembali ke dunia nyatanya ketika melihat pria paruh baya dengan perut menyerupai bakpao isi daging memasuki kelas.
"Selamat pagi" tutur Pak Budi menyampaikan salam pembuka.
"PAGI PAKKK!!!" jawab murid-murid serentak.
"Pr sudah dikerjakan?" tembak Pak Budi langsung.
"Aduh buku gue habis"
"Yah, tinta bolpen gue abis"
"Buku matematika gue kemaren gue pake buat bungkus kacang"
"Duh, bukunya dimakan anjing gue"
Dan alasan-alasan lainnya yang intinya menyatakan bahwa mereka tidak mengerjakan pr.
"Alasan saja kalian ini. Sudah sudah. Sekarang nomor presensi 10 tuliskan pekerjaan kamu di papan tulis."
"Nyaris, bro. Gue absen sebelas"
"Fiuh.. untung bukan gue"
Yaa begitulah SMA :)
Si pemilik nomor presensi 10, Fean, melangkah menuju depan kelas dan mulai menjiplak pekerjaannya pada papan tulis. Pak Budi memperhatikan setiap langkah yang ditulis Fean dengan seksama sembari mengoreksinya.
"Dari penyelesaian tersebut ada beberapa langkah yang masih kurang." Ucap Pak Budi setelah Fean selesai dengan pekerjaannya.
Semua murid terdiam.
"Ada yang bisa menyempurnakan?" lanjut Pak Budi.
"Saya Pak!" Satu kalimat yang sama yang keluar dari mulut dua orang yang berbeda. Putri dan Bastian.
"Ya. Silahkan maju"
"Siapa pak? Saya atau Bastian?"
"Terserah. Yang ingin mendapat nilai tambah silahkan maju"
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Admirer
Teen FictionDear Admirer, Terima kasih telah mengenalkanku pada rindu. Rindu tak sesederhana yang kukira. Dia mengajariku banyak hal. Harus kuakui rindu terkadang menyebalkan, membuatku terjaga setiap malam karena dia membuatku selalu memikirkanmu. Kau tahu, de...
