Berkat Masa Orientasi Siswa yang dijalani selama 3 hari itu membuat keakraban di kelas baru terjalin lebih cepat. Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling mengenal satu sama lain. Bahkan hanya dalam waktu satu minggu saja para perempuan sudah memiliki list cogan mulai dari rating tertinggi lengkap dengan foto dan biodatanya.
Pagi ini Frista dan yang lainnya memiliki waktu 30 menit sebelum bel berbunyi.
"Ris, ikut ekskul apaan?" tanya Petter, salah satu murid yang dinobatkan menjadi cogan angkatan dengan rating tertinggi oleh kaum hawa.
"Basket lah. Elu?" Frista bertanya balik.
"Serius? Gue juga basket." Putri yang mendengar percakapan dua insan itu langsung masuk ke pembicaraan. Belum sempat Frista menjawab, Putri sudah menyerobot duluan.
"Eh, Pet. By the way Frista juga ikutan OSN Matematika loh"
"Apaan sih lo. Berisik deh" Frista mengalihkan pembicaraan sambil mencubit lengan Putri.
"Seriusan lo ikut OSN, Ris?" tanya Petter tak menghiraukan alihan Frista.
"Nggak juga"
"Alah.. ngeles aja lu, Ris" cerocos Putri.
"Cerewet lo ah"
Petter tersenyum, "Gapapa kali. Ngomong-ngomong gue suka cewek yang hobi mainan angka" ucapnya lalu pergi ke gerombolannya.
Damn!
"Masih segitu aja udah baper lu, Ris. Pipi lo merah tuh" Putri tertawa.
"Ihh apaan sih.." ucap Frista sambil mengusap-usap pipinya yang memerah. "Gimana nggak baper coba kalo yang bilang kayak gitu itu cogan"
KRINGGGG
🌿🌿🌿
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Masih ada 30 menit lagi sebelum ekstrakurikuler OSN Matematika dimulai. Tadinya Putri ingin ke perpustakaan untuk melihat-lihat koleksi buku SMA Nusantara, tapi Frista menariknya menuju kantin untuk mengisi perut. Alasannya adalah ia takut akan ketiduran gara-gara kelaparan saat ekstra OSN nanti. Masuk akal.
Dan disinilah mereka. Di laboratorium matematika dengan beberapa siswa dari kelas lain yang juga memilih mengikuti OSN Matematika. Di depan sana seorang laki-laki paruh baya yang merupakan pembina OSN Matematika mulai membagikan kertas pada masing-masing anak.
"Kita mulai dengan soal-soal yang sederhana terlebih dahulu. Silahkan dikerjakan pada kertas yang sudah ada diatas meja kalian masing-masing. Kalian boleh saling berdiskusi satu sama lain" ucapnya.
Perlahan Frista memperhatikan soal demi soal tersebut.
"Oh my Lord.. ini soal model apaan?" Frista mengumpat. "Sederhana dari mana coba!" Cukup pelan tapi masih bisa terdengar oleh Putri yang duduk di sebelahnya.
"Nikmatin aja kali, Ris. Dipikir pelan-pelan pake logika"
"Nikmatin nikmatin kepala lu peyang"
"Jika dua ribu empat belas per tujuh ditulis dalam bentuk desimal, maka tentukan angka ke dua ratus empat belas di belakang koma." Frista mencerna setiap kata demi kata. Berusaha menemukan rumus untuk soal tersebut. Hening sejenak, lalu kemudian "Skip."
Beralih ke soal selanjutnya, "Diberikan akar x dikurangi satu per akar x sama dengan dua, berapakah nilai dari x ditambah satu per x?" Hening sejenak lalu kemudian "Skip."
Beralih ke soal selanjutnya, "Lah.. abis? Ini lima belas soal gak ada satu pun yang bisa gue jawab ya Lord.."
Dua jam mengikuti ekskul OSN seperti dua abad bagi Frista. dari lima belas soal 'sederhana' yang diberikan tidak ada satu pun yang dapat dijawabnya. Ruangan itu juga terasa sepi karena orang-orangnya berkutik dengan otak mereka masing-masing Tidak ada yang berdiskusi. Mungkin karena berasal dari kelas-kelas yang berbeda sehingga masih perlu beradaptasi.
"Ris, gue bisa ngerjain beberapa nomer nih. Mau gue bantu nggak?" tawar Putri.
Frista menoleh dengan lesu, lalu mengangguk pasrah. Putri mengajari dengan perlahan sampai Frista benar-benar paham. Raut wajahnya lama-lama berubah. Frista yang semula seperti badmood kini menjadi moodbooster.
"Yaampun ternyata caranya gini doang." Frista tertegun.
Akhirnya waktu yang tersisa tinggal 30 menit. Dan 30 menit terakhir itu digunakan oleh pembina untuk membahas rumus dari masing-masing soal. Terlihat dengan sangat jelas bahwa Frista benar-benar sangat memperhatikan sang pembina.
🌿🌿🌿
Waktu ekstra untuk hari itu sudah berakhir. Frista dan Putri berjalan beriringan menuju gerbang untuk menunggu jemputan masing-masing.
"Besok giliran basket nih kita"
Frista tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Putri. Bukan tentang basketnya tapi tentang kata terakhir yang diucapkan Putri. Seolah-olah semua hal hanya tentang kita. Jika ada aku berarti ada kamu. Tidak ada hal yang aku lakukan sendiri maupun kamu lakukan sendiri. Karena aku adalah kamu dan kamu adalah aku,sehingga aku dan kamu adalah kita. "Gue gak yakin bakal betah bareng elo terus" ucap Frista dengan deretan gigi putihnya. Putri menoleh dan menautkan kedua alisnya. Frista menatap langit yang mulai gelap karena sudah pukul setengah enam lewat sambil terus berjalan. Seolah sudah hafal dengan jalannya dan tidak akan tertabrak. "Bayangin aja, tiga tahun kita selalu satu kelas waktu SMP, ditambah satu tahun lagi di SMA, tiap ekskul selalu ketemu lo, ke kantin sama elo, pulang sekolah juga sama elo, di hp gue juga nemunya wajah elu"
"Sumpah itu so sweet banget, Ris"
"Mungkin gak ya suatu saat nanti kita bakalan berpisah. Bakal nggak ketemu lagi. Atau bahkan kita nggak saling bicara lagi" ucap Frista tak mengindahkan kalimat Putri sebelumnya, dan masih sambil menatap langit senja.
"Kok lo ngomongnya gitu sih?"
Kali ini Frista menunduk. "Ya kan cuma mungkin."
"Otak lu kayaknya perlu dibersihin deh, Ris. Jangan mikir yang negatif-negatif. Cepet mati loh"
Frista menengok cepat ke arah Putri, "Kok lo malah doain gue cepet ma-"
MAK JEDUG!
"WADOWWW!!" Frista mengusap-usap jidatnya yang baru saja dicium tiang bendera.
"Bhahahahaha... sumpah itu tadi lucu banget.. muka lo.. muka lo.. sumpah ngakak gue.. aduh.. sampe mules gue" Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi kedua perutnya melihat insiden Frista barusan.
"Elo tuh ya! Temen sakit bukannya ditolong malah diketawain. Jahat lo"
Nyengir sebentar. "Ehehe.. iya iya. Jangan marah dong.. abis tadi tuh lucu banget. Coba kalo tadi gue rekam terus gue tunjukkin elo, pasti elo juga bakal ngakak." Beruntung sekolah sudah sepi sehingga tidak membuat Frista terlalu malu. "Makanya kalo jalan itu nggak usah ngitung paving. Kejedot kan lo jadinya" ucap Putri sambil mengelus-elus dahi Frista yang mulai biru.
🌿🌿🌿
Gaada yang mau nanya kenapa Frista nggak suka kalo orang lain tau dia ikut OSN Mat??
*ngga thor
Yaudah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Admirer
Novela JuvenilDear Admirer, Terima kasih telah mengenalkanku pada rindu. Rindu tak sesederhana yang kukira. Dia mengajariku banyak hal. Harus kuakui rindu terkadang menyebalkan, membuatku terjaga setiap malam karena dia membuatku selalu memikirkanmu. Kau tahu, de...
