.
.
.
.
My BADBOY
****
"Lo kasian sama Dilan?"
"Iya"
"Sakit pasti lo,Sya" Sumpah Windi gak ngerti jalan berfikir seorang Nesya.Kenapa juga cewek ini mesti kasian sama Dilan?Padahal kan dia jauh lebih layak buat dikasihani.
Nesya menghela nafas.Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku,mendongkak menatap langit kelasnya.Dia menjawab,"Adimas sering cerita soal Dilan sama gue.Dia gak pernah berhenti buat bujuk adiknya biar mau tinggal di Indonesia lagi.Dulu,awalnya gue ngerasa Dilan bener-bener keterlaluan.Bikin kakaknya sendiri sampe ngemis-ngemis kayak gitu.Dimas emang baik,dia terlalu baik."
Windi mendengarkan.Dia sesekali menyedot minuman yang dia beli.Sengaja memilih sarapan di kelas karena tadi merasa akan datang terlambat.Ternyata jam di rumahnya yang rusak.Alhasil dia jadi sarapan di sekolah seperti sekarang.
"Tapi pas pertama kali gue ngeliat Dilan,sekalipun dia kurang ajar main tampar,bikin eneg sama luar biasa jengkel.Gue sadar,ada hal lain yang berusaha dia tutupin.Dia sakit,dia rapuh.Gak semua orang bisa nyadarin ini,tapi gue bisa ngeliat semuanya dari cara dia natap orang lain.Terlalu dingin,dan gue langsung gumam dalem hati,'Dimas....adik lo lebih sakit daripada apa yang lo bayangin.Luka itu bisa jadi gak bakalan pernah sembuh.Mungkin,dia gak bakalan bisa nerima orangtua kalian lagi'.Tapi saat gue tela'ah lagi.Sekalipun kayak gitu Dilan tetep mau tinggal sama orangtuanya kayak gini.Masih ada harapan walau sedikit."
"Nes,sumpah kebiasaan lo ikut campur urusab orang bisa jadi bumerang buat diri lo sendiri." Windi berkata khawatir.Nesya punya kebiasaan jelek yang selalu mencampuri urusan orang di sekitarnya.Sesekali hal itu membuatnya repot sendiri.Tapi memang dasar Nesya saja yang tidak kapokan.Sekali pun beresiko,dia terus berusaha melakukan hal yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.
"Dimas bilang pas sebelum meninggal,Dilan pasti pulang." Nesya mengingat-ingat.Tersenyum perih mengingat pertemuan mereka di rumah sakit.Cowok itu tidak kehilangan senyumnya,sekalipun tubuhnya semakin kurus nyaris tidak berdaging.Nesya setia menemaninya,setiap hari akan menyempatkan diri untuk menjenguknya selama Dua bulan terakhir almarhum pacar nya dirawat di rumah sakit.
Dimas bilang dia sengaja tidak mengabari Dilan soal kondisinya yang kian memburuk.Sebagai seorang kakak,tentu dia harus menunjukan kekuatan yang dia miliki di depan adik yang selalu dia banggakan.Tapi Dimas tidak berhenti mengirim Dilan email.Saat dia sudah tidak sanggup lagi mengetik karena kondisinya kian parah dan lemah.Nesya yang akan mengetikkan semua hal yang ingin Dimas sampaikan.
Orangtua Dimas sampai mengakui Nesya.Kesabaran dan cintanya yang besar bahkan disaat masih remaja,membuat cewek itu dipaksa memanggil kedua orangtua Dimas dengan panggilan 'Mama' dan 'Papa'.
Melihat Dilan,menjadi luka tersendiri untuknya.Tubuh Dilan jauh lebih sehat dan bugar,auranya pun lebih tegas.Nesya menyesali hobi Dilan yang senang berkelahi,tapi dia mengagumi hal itu di waktu yang sama.Dimas,terlalu capek sedikit saja,bisa membuat penyakitnya kambuh.Dilan berbeda,dia sehat dan kuat.Adiknya Dimas itu,jelas terlahir dengan kondisi fisik yang prima.
Keduanya sangat mirip,hanya bertolak belakang di sifat saja.Adimas punya senyuman yang benar-benar hangat beraura bunga.Dilan terlalu suram,tidak pernah sekalipun mengukir senyum selain senyuman menghina dan tawa merendahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My BADBOY
Roman pour AdolescentsGanteng,jenius,berandalan Dilan jadi murid pindahan yang paling baddas di sekolahannya. Nesya itu cengeng,dia cewe lemah,gampang sakit,keras kepala,dan korban buly. "Oke,kalo lo lebih punya nyali dari ini,mulai hari ini lo jadi cewek gue.Kita liat,a...
