Aqueduct Romawi at SegoviaMeskipun tahun ajaran baru belum dimulai dan masih beberapa hari lagi nggak ada salahnya Luna jalan – jalan sejenak untuk mengetahui lebih jauh tempat – tempat bagus di Segovia. Kali ini Luna lebih memilih pergi ke Aqueduct Romawi yaitu bangunan roma kuno yang terdapat beberapa pintu terbuat seperti dari batu bata. Banyak yang mengatakan tempat ini adalah salah satu tempat romantic yang ada di Segovia. Dengan kamera yang digantungkan di lehernya Luna siap untuk memotret keindahan – keindahan yang ada di Aqueduct Romawi. Luna benar – benar terpukau dengan bangunan itu, dengan sigap Luna mengambil gambar bangunan tersebut lalu mengirimkannya ke Khalil.
You sent a photo.'bagus ya lil, ini katanya salah satu tempat romantis disini'
Begitu caption yang dibuat oleh Luna kepada kekasihnya itu. Ia membayangkan jika Khalil berada disini pasti sangat romantis seperti yang dikatakan oleh banyak orang. Luna kembali melihat – lihat apa saja yang ada di sekitar Aqueduct Romawi itu. Banyak pasangan – pasangan turis yang mendatangi yang membuat Luna iri didalam hati kecilnya. "haduh banyak banget sih yang pacaran disini"
'dimana itu? Aku cus kesana yak'
Itu balasan pesan dari Khalil. Luna tertawa kecil saat membaca chat dari kekasihnya. Seandainya Khalil benar benar akan menyusul Luna pasti dirinya bahagia sekali. Luna pun membalasa chat dari Khalil namun tiba - tiba ada yang menabrak dirinya hingga handphone yang di pegangnya terjatuh. "ups, perdonn" hanya kalimat itu yang bisa di keluarkan oleh pemuda yang sudah menabrak Luna lalu pergi meninggalkan dirinya begitu saja, dirinya pun terkejut akan tingkah laku pemuda itu hingga ternganga. 'gak sopan banget sih astaga' mood yang dirasakan Luna kini semakin menjadi, ia sudah kepalang bête dengan kejadian itu.
Akhirnya dia memilih untuk ke sebuah café yang tidak jauh dari taman. "one ice cappuccino, please!" dia memilih untuk duduk didepan jendela agar bisa melihat pemandangan – pemandangan indah dari kota Segovia. Luna menjadi terlamun karena mengingat Indonesia, tanah kelahirannya begitu juga orang – orang yang dia sayangi semua disana. Ada sedikit penyesalan bagi kaum rantau untuk menetap di kota orang karena jauh dari orang sekitar atau bisa disebut homesick.
Namun, Luna harus bisa mengatasi hal tersebut bahkan dirinya sudah berjanji dengan bunda bahwa dia akan mampu dan mandiri disini, Luna juga mengingatkan betapa dirinya susah membujuk sang bunda untuk meyakinkan jika dirinya bisa mendapatkan beasiswa ini. Sesaat lamunan Luna buyar melihat seorang pemuda yang berjalan dari balik jendela café yang ia tempati sekarang. 'itu kan cowok yang nabrak gue tadi' Luna tidak sempat melihat wajah pemuda itu hanya ia bisa melihat punggungnya yang besar.
Sudah menjelang sore, Luna berniat untuk kembali ke kost-nya namun dengan berjalan kaki. Karena dia ingin lebih mengetahui apa saja yang ada di kota Segovia. Luna kembali mengambil gambar dengan kamera yang digantung di lehernya, dan lagi – lagi seorang pemuda yang tadi siang menabraknya kembali. ketika pemuda itu ingin pergi Luna menahannya dan membuat pemuda itu tidak bisa bergerak. "sorry! You must....Alan?" Luna terperangah ketika melihat pemuda yang ternyata dia kenali. "Luna?" jawab pemuda itu yang sama kagetnya dengan Luna. "lo di spain? Ngapain?" pemuda itu atau Alan tidak tahu harus menjawab apa karena ia sedang terburu – buru. 'juventud! No te huyas (Pemuda! Jangan lari kau)' ucap sekumpulan orang yang ternyata sedang mengejar Alan. "gak penting lo nanya, sekarang ikut lari sama gue" Alan pun menarik tangan Luna dan berlari dengan cepat. Alan bingung mencari tempat yang bisa buat sembunyi. "disitu" Luna refleks menjulurkan tangannya ke arah gang kecil yang mungkin cocok untuk tempat persembunyian.
Akhirnya Alan menyetujui tempat yang ditunjukkan oleh Luna. Mereka berdua berada di dalam gang yang kecil, keduanya sudah tidak bisa mengatur nafasnya. "pelanin nafas lo, nanti bisa ketahuan" Luna mengangguk mengikuti perintah Alan. Sekumpulan oranng yang mengejar Alan pun tidak mengetahui jika Alan dan Luna bersembunyi, mereka terus berlari tanpa melihat sisi – sisi kanan kiri. Alan mencoba untuk melihat apakah semuanya aman atau tidak. "udah aman" ucapnya.
"lo ngapain sih dikejar – kejar segala? Banyak utang ya?" tanya Luna dengan nafas yang masih tak beraturan. Sungguh sebenernya Luna ingin Pingsan namun dia tidak bisa dan seakan tubuhnya berkata kalau dirinya masih kuat. "lo ngapain disini Lun? Ini spain." Luna memutarkan kedua bola matanya, sungguh pertanyaan Alan tidak masuk akal justru Alan mengalihkan pertanyaan Luna tadi. "ya gue juga tau ini spain bukan hongkong. Gue kuliah disini" Alan megerutkan keningnya seakan tidak percaya bahwa Luna bisa kuliah di Luar negri. "lo kuliah dimana?" tanyanya lagi untuk memastikan bahwa apakah Luna benar – benar di spain. "harus banget gue ngasih tau lo?" Alan tersenyum miring mendengar jawaban dari Luna. "ya nggak juga sih, nggak penting juga" didalam batinnya Luna mengerutuki sumpah serapah Alan, maksudnya apa yang dibilang Alan 'nggak penting? menurutnya kuliah nggak penting?' "gue gak bisa nganter lo balik, lo bisa pulang sendiri kan?oh bisa." Setelah mengatakan kalimat tersebut Alan meninggalkan Luna begitu saja. "eh, ini gue ditinggalin beneran?" menurutnya dirinya benar – benar sial hari ini.
Namun beberapa saat Alan kembali menghampiri Luna "nih pake jaket gue, udah malem tambah dingin disini. Gak usah dibalikin" Alan melemparkan jaket yang dipakainya ke arah Luna dan kembali meninggalkan Luna. "masih aja sifatnya sok dingin' ucap Luna sambil mengingat masa lalunya dengan pemuda yang memberinya jaket.
Alan sudah keluar hehehe....

KAMU SEDANG MEMBACA
SEGOVIA
Teen FictionHati atau kesetiaan? Bagaimana bila dua kata itu berada dalam waktu yang sama namun berbeda untuk merasakannya?