Serial HAMASSAAD season 4 - 11. Persiapan Ikhwanul Academy
Penulis : Uniessy
Dipublikasikan : 2017, 4 November
-::-
Sudah hampir satu jam mereka berada di sini, tapi Hamas belum juga selesai dengan kebutuhannya atas atribut untuk ikut Ikhwanul Academy yang rencananya akan diselenggarakan di Bandung di akhir pekan ini.
Acaranya sepertinya akan menakjubkan sekali, mengingat rundown acara yang sudah dibagikan pada akhirnya membuat Hamas sungguh antusias. Mereka akan camping di halaman terbuka.
Bukan di gunung, memang. Mereka akan pasang tenda di lapangan terbuka di dekat kandang kuda. Lapangan yang biasa digunakan untuk mengajak kuda berlari ke sana kemari, akan ada sekitar dua puluh tenda di sana.
Dan kenapa Duo Ganteng kini berada di tempat ini?
Karena tempat ini adalah tempat penyedia peralatan naik gunung terbaik yang Hamas tahu. Dia langsung mengontak teman kampusnya yang aktif di kegiatan menjelajah gunung begitu rundown acara turun. Dan baru hari ini dia sempat datang ke toko yang dimaksud, bersama Saad tentu saja.
"Udah semua kayaknya, Mas," kata Saad, tanpa melihat Hamas. Kepalanya mendongak, memerhatikan tas-tas gunung yang berderet di rak display.
"Tasnya beluman, nyet," kata Hamas, menggeser tubuh sahabatnya dengan sekali dorong daya lengannya sendiri. Saad sampai terhuyung ke sisi kiri dibuatnya.
"Oh, ya udah, ini bagus-bagus," kata Saad.
"Lu mau yang mana?" tanya Hamas. Tangannya meraih satu tas gunung dengan bahan terbaik.
"Ngga, gue masih ada tas carrier cukup buat bawa yang mesti dibawa," kata Saad cepat.
"Udah, buruan, biar gue ada temennya!"
"Naon sih, Mas? Gue masih ada tas."
"Elah, lama dah. Sampe Magrib nih di sini nih?"
"Tuh, antum beli yang Karrimor wae tuh yang abu-abu, cakep."
"Elu mau yang itu?"
"Antum, Mas, maksudnya..."
"Gue kaga mau yang entu," Hamas berjinjit, mengambil satu tas di rak display paling atas. Satu tas Eiger berwarnahijau army. "Nah, ini cakep neh!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Antum mau kemping doang, Mas, bukan naik gunung beneran..." komentar Saad, sembari melirik Hamas dan tas yang dipegang Hamas bergantian.
Hamas tertawa-tawa, lantas meletakkan kembali tas tadi ke tempat semula. Dia beralih pada satu tas Eiger warna biru cerah. "Ini keren yeh?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Nah, itu bagus," respons Saad.
Berwajah semringah, Hamas mengacungkan jempol kanannya sebelum berbalik. Kakinya terhenti melihat satu tas Consina warna hijau.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa berpikir panjang, diambilnya juga tas tersebut sebelum melanjutkan langkah ke tempat di mana seluruh peralatan camping di kahir pekan ini dibutuhkan.
Satu tenda dome yang bisa diisi oleh dua orang. Hamas dan Saad memang berencana untuk tidur dalam satu tenda saja, sebab Panitia bilang bahwa mereka boleh menggunakan tenda dome sebagai tempat istirahat setelah muhasabah malam usai.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada dua headlamp dan dua senter di dekat tenda dome. Kemudian botol minum, dua matras, dua sleeping bag, dua alas matras (meski Saad berkata tidak perlu), sepasang sepatu, dan kini bertambah dengan dua tas carrier ukuran 45 liter.
"Kok beli dua, Mas, tasnya?" tanya Saad.
"Suka-suka gue lah!" sahut Hamas, mulai songong. Saad mingkem.
Ya iya juga sih, suka-suka Hamas. Kan Hamas yang beli.
Karyawan toko makin berbinar melihat benda-benda yang dikumpulkan Hamas. Penjualan toko akan lumayan meningkat hari ini. Jadi dengan sigap, penjaga toko tersebut mulai memindai tag harga yang menempel di badan barang-barang pilihan Hamas.
"Kayaknya jadi semangat nih?" goda Saad, mengingat dulu Hamas agak-agak menolak ketika diajak ikut gabung dalam kegiatan ini. Tapi akhirnya mau juga karena Saad yang ajak gitu kan.
"Ya kan elu yang bilang, apa-apa tuh kudu semangat!" Hamas mengepalkan tangannya. "Jangan kayak cewek."
Saad tertawa. "Gue ngga pernah ya ngomong jangan kayak cewek. Ngga ada yang salah kayak cewek juga. Tapi kita kan kodratnya laki-laki, ya jangan kayak cewek, bener juga sih."
Hamas ngakak lihat Saad bingung dengan kalimatnya sendiri.
"Weh, abis ini makan di mana?' tanya Hamas.
"Ke masjid aja, nungguin Asar." Saad menyahut cepat. "Baru juga tadi makan."
Iya sih mereka baru saja selesai makan siang ketika Hamas mengajak Saad berburu kebutuhan camping, usai mereka shalat Zuhur di kampus. Sampai PIM nyaris pukul setengah dua siang, lalu tertahan di sini hampir satu jam.
Sebentar lagi memang akan azan Asar.
"Barang-barangnya titip di sini aja apa yak?" tanya Hamas. "Males lah kirain langsung ke mobil." Tadinya dia mau ajak Saad makan di restoran padang di kawasan Pondok Indah tersebut.
Tapi Saad adalah Saad. Shalat wajib itu nomor satu.
"Asar masih tiga puluh menit lagi, Mas. Sempat kayaknya ke mobil, terus ke masjid PIM di seberang. Parkirannya juga insyaaAllah ngga susah. Abis itu cari makan kalau lo lapar."
"Siap, bosku!" Hamas berlagak hormat pada Saad, lalu mengeluarkan selembar kartu saktinya dan ia berikan kepada si penjaga toko.
"Nanti kami antar ke parkirannya, Kak," kata si penjaga toko sambil menyelesaikan transaksi atas pembelian Hamas. Secarik struk keluar dari mesin pencetak, dan Hamas diharuskan membubuhkan tanda tangan di sana.
"Oke," kata Hamas, setelah memberikan tanda tangannya. Kartu tersebut kembali kepadanya bersamaan dengan selembar struk tadi.
Saad nyengir melihat banyaknya belanjaan Hamas di toko ini.
"Persiapan camping aja seribet ini ya, Mas. Padahal cuma camping semalaman. Kegiatan cuma dua hari," kata Saad, yang dijawab anggukan Hamas.
Apalagi persiapan buat akhirat.
Adalah kalimat yang tak Saad suarakan. Biarlah kalimat tersebut menjadi catatan bagi dirinya sendiri.