"Aku selalu berusaha menjadi seperti yang mereka inginkan. Kebahagiaan mereka adalah surga bagiku. Namun, jika air mata ini sudah tak terbendung lagi izinkan aku untuk melihat senyum terakhir kalian." Park Kyung,
.
.
.
"Aku tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Semua ini hanya akan berujung penyesalan. Kata 'maaf' pun belum sempat aku sampaikan. Jadi, izinkan aku untuk melihatmu lagi, Hyung." Woo Ji Ho
***
"Eomma? Kenapa nama margaku berbeda? Eomma sendiri Park, Abeoji Park, bahkan hyung juga sama."
"Karena kamu adalah anak paling istimewa di mata, Eomma. 'Woo' itu Eomma ambil dari marga kakekmu. Jadi tidak apa, kan?"
"Emm. Lalu bagaimana dengan, hyung? Apakah dia juga istimewa?"
"Uwah~ lihat gambaran ini! Apa kamu yang menggambarnya?"
"Ne. Dan ini gambar Eomma, cantikkan?"
"Sangat cantik."
Aku ini menyedihkan, hanya dapat mendengar percakapan mereka di balik pintu kamar adikku sendiri-Woo Ji Ho. Aku tidak pernah mendapat perhatian dari Eomma. Karena kekuranganku ini, aku dijauhi olehnya. Tuhan, bisakah Kau memberikan kelebihan padaku? Setiap saat aku selalu menangis di sudut kamar. Meratapi 'apa' kesalahanku hingga Eomma menjauh dari kehidupanku. Seandainya Abeoji berada di sini, akankah beliau menyayangiku? Tapi itu MUSTAHIL, Abeoji tidak akan datang dan tidak akan pernah datang-- Kyung
***
Seperti biasanya, setiap pagi begitu sampai di sekolah, aku selalu pergi ke kamar mandi. Tujuanku ke sana hanya untuk bercermin. Menatap diriku ini yang selalu dijadikan bahan olokan orang.
"Pa-pa-park k-kyung." Aku menyebutkan namaku sendiri,
"P-park Kyung." Sekali lagi aku menyebutkan namaku sendiri.
Saat hendak menyebutkan yang ketiga kalinya, Ahn Jae Hyo melintas di belakang. Ia berdiri di sampingku dan menatap ke arah cermin yang sama. "Apa kau tidak bosan? Sudah ribuan kali kamu menyebut namamu." Tukas dia,
Aku tak tahu harus berkata apa, tapi kenyataannya kebiasaan ini membuatku merasa lega. "A-a-ni-ya. K-kau bah-bah-kan--" ucapanku terpotong olehnya.
"Hentikan saja! Aku tidak jelas mendengarmu." Jae Hyo melangkah keluar.
Aku hanya bisa bersabar, percuma saja aku berbicara seperti ini, tidak akan ada yang mau mendengar dan berbicara padaku.
Kriiinngg,
Bel masuk sudah berbunyi. Aku mencoba fokus untuk percobaan ujian hari ini.
Akan aku yakinkan dengan nilai suneung kepada Eomma, bahwa aku bisa diandalkan.
"Dasar anak tak bisa diandalkan! Eomma menyuruhmu untuk menjaga rumah. Tapi kenapa kau malah membakarnya?"
"A-a-aku su-su-dah minta to-to-long--"
"Hentikan saja. Eomma muak mendengarnya."
Eomma adalah satu-satunya orangtuaku. Sedangkan Abeoji aku tak tahu beliau di mana. Eomma hanya berkata bahwa dia hilang karena aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Fanfiction
FanfictionBerisi kumpulan fanfiction para idol grup, aktor atau aktris Korea. Temukan biasmu di sini~
