Hari ini ada gosip beredar, kalau Angga mempunyai hubungan dengan Kirana, teman seangkatanku, yang sekarang menjadi pengganti ketua ekstrakurikuler cheerleader, Kak Azura, yang seminggu lalu lengser.
Aku tidak heran apabila Kirana mempunyai kekasih baru, dia cantik, berbakat, semuanya ada pada dirinya. Yang membuatku kaget, Angga yang kali ini digosipkan!
Aku menghentak-hentakan kakiku kesal mendengar opini-opini tidak berbobot yang kini tengah menjadi topik hangat seantero sekolah. Mencoba menghilangkan pikiran negatif, aku mengunjungi halaman belakang sekolah.
Mataku terbelalak saat melihat apa yang menjadi pusat perhatianku.
Angga sedang berada disana, menatap langit biru di tengah rumput ilalang. Aku merasa gugup, dan mengendap-endap menuju kembali ke pintu keluar.
“Gak usah malu, masuk aja.” Suara Angga menginterupsi gerakanku.
Aku bergerak kaku dan kemudian pergi mendekat kearahnya.
Angga menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, “duduk sini.”
Aku duduk di sebelah Angga, seperti apa yang dia perintahkan.
Canggung. Satu kata yang dapat menggambarkan keadaan saat ini.
“Apa kabar, Nimas?” Aku membulatkan mataku mendengar panggilan itu.
Menoleh kesana kemari mencari siapa yang telah memanggil.“Gue yang panggil, Angga.” Aku menoleh ke arahnya, menatap mata hitam segelap malam itu. Matanya tengah menatapku tajam.
“Apa kabar?” Aku mengerutkan dahi, bingung.
Untuk apa dia menanyakan itu? Aku merasa, ia tidak pernah mengenalku.
“Kamu, tahu aku?” Tanyaku heran, dengan dada yang berdegup kencang. Darahku berdesir hangat, aku kehilangan kata-kata. Ini adalah salah satu impianku, ini melebihi ekspektasi!
Aku melihat Angga tertawa renyah dan kembali menatapku, “ya, elo Nimas. Aktivis HAM, guru di Permata Hati, penyuka teori-teori filsafat Jonstein Gaarder.”
Aku membulatkan mataku mendengar itu semua, “ka-kamu tahu dari mana?”
Angga tersenyum tipis dan menatap langit biru yang tampak menarik perhatian. “gue, kita, kawan lama.”
Aku merasa tersengat mendengar pernyataan itu.
Ya! Aku memang mempunyai seorang teman lama bernama Angga. Dia yang selalu menemaniku bermain sepeda, atau sekadar menemaniku bermain bersama Bubo, kucing liar peliharaanku.
“A-Angga!!” Aku langsung terpekik riang dan menatap Angga penuh dengan gejolak kebahagiaan. Angga membalas tatapanku dengan senyuman lembut.
“Apa kabar, Nimas? Gue kangen.”
***
Sejak pernyataan yang diungkapkan Angga seminggu kemarin, hariku perlahan-lahan berubah. Angga memberikan percikan-percikan warna, yang membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini.
Banyak gosip yang beredar tentang Angga dengan perempuan lain, tapi ia selalu memberikanku petuah-petuah yang membuatku percaya padanya.
Percaya adalah dasar dari segala hubungan, percaya dan terus percaya, maka apa yang ditakutkan gak akan terjadi, kata Angga.
Alifya saja sampai ternganga lebar mendengar ceritaku dengan Angga. Sesekali dia mengatakan kalau ceritaku itu hanya sebuah lelucon hangat yang sedang berusaha membuatnya tertawa, padahal faktanya tidak.
Alifya juga sering bertanya, sebenarnya, apa hubunganku dengan Angga? Aku sendiri pun tidak mengerti dengan hubungan yang saat ini kami jalani. Mungkin kata orang-orang seperti Hubungan Tanpa Status atau semacamnya.
Hari-hari aku jalani dengan penuh senyum. Angga selalu mengantarku ke sekolah, kami pergi bersama. Ia juga selalu menemaniku di halaman belakang sekolah saat istirahat berlangsung, dia selalu bersamaku kala aku mengajar di Permata Hati. Kadang-kadang, ia menemui papa untuk memperbincangkan masalah keadaan lingkungan saat ini, berhubung papa merupakan seorang pengamat lingkungan.
Angga selalu menemaniku saat aku bersedih. Ia juga tidak pernah marah, saat aku tengah didatangi tamu bulanan. Malah terkadang, ia selalu menjadi pelampiasan kemarahanku.
Aku dan Angga juga sering mengunjungi kafe dekat sekolah tempatku memesan vanilla latte. Ia selalu memesan caramel macchiato disana.
Aku selalu menceritakan kejadian-kejadian di sekolah. Tidak ada sedikitpun yang aku lewatkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stay
Short StoryIni, tentang dia. Tentang dia yang membuat hariku berubah. Tentang dia yang menjadi alasan aku menangis setiap malam. Tentang dia yang membuatku mengerti arti sebuah kesetiaan. Tentang dia yang menjadi sendu dan tangis di tengah senja.