RINTIK PERTAMA
16.24 WIB, Yuki mempercepat langkah kakinya menapaki genangan sisa gerimis sore ini. "Astaga, habis aku dimarah mama jam segini belum balik, mana basah lagi." ditepuk-tepuknya tas ransel coklat bertuliskan "dumb." yang ia gendong di bahunya. Sore ini hujan gerimis tanpa henti mengecup mesra dedaun sekolah dengan semilir lembut yang membelai pipi merah Yuki, hingga ia tenggelam dalam pikirannya yang ia tuang dalam kertas penuh coretan di koridor sekolahnya.
Yuki tiba di halte usang berwarna biru yang hampir seluruhnya berkarat. Diusapnya dahinya yang penuh dengan tetes air, entah itu rintik hujan atau keringat karena berlari kecil sepanjang gang. Yuki merogoh saku rok seragamnya yang sekarang mulai tampak kehitaman akibat hujan yang membasahinya. Dikeluarkannya sebuah smartphone berwarna kelabu serta sebuah headset hitam miliknya. Ia lalu menyalakan lagu yang selalu berhasil membuat perasaannya tenang, melupa gundah sesaat. Desember.
Sisa hujan menggenang dimana-mana. Dan angin masih saja ingin bermesra dengan dedaun rindang di sepanjang jalan. Sore yang indah dengan langit kelabunya, juga udara yang mengisyaratkan untuk segara pulang dan bergulung di dalam selimut. Yuki bersenandung pelan seirama dengan lagu yang mengalun di telinganya.
"Ah! Sial!" seorang pria jangkung dengan balutan kemeja setengah basah yang lengannya digulung, berdiri menggerutu sambil menepis tiap tetes air yang hendak jatuh ke dahinya. Yuki menatap sekilas pria itu tepat sebelum bunyi entah darimana mengaggetkan keduanya. Sekelompok remaja laki-laki berlari sambil berosorak dengan bongkahan batu-yang cukup besar untuk sekedar bercanda-terggenggam di tangan-tangan mereka.
"Woy!!!! Jangan lari lu!!!" salah satu remaja dari komplotan itu berteriak
"Cepetan bego larinya!!!" remaja yang lainnya meneriaki teman nya yang tertinggal dibelakang.
Ketika Yuki berusaha mencerna apa yang terjadi dan melepaskan headset-nya, terdengar teriakan yang tak jauh darinya.
"Awass!!!"
Yuki mengalihkan pandangannya ke arah suara teriakan itu tepat ketika sosok jangkung yang berdiri di depannya tadi sigap memeluk tubuh Yuki yang benar-benar bingung dengan keadaan ini. Alunan lagu Desember yang terdengar samar dari headset yang menggantung di bahunya kini terhenti. Begitu juga dengan waktu. Semuanya tampak berhenti, dan hening. Entah apa yang merasukinya, tapi Yuki membeku dalam dekap pria itu, namun separuh dirinya kembali ke masa lalu. Ada yang salah..
"Dug!" Suara keras itu memecah khayal Yuki yang terbang ke suatu masa. Lelaki yang semenit lalu berdiri menggerutu di depannya kini mendekapnya, melindunginya. Lelaki itu ber-ah mengaduh sakit. Tapi tampaknya punggung lelaki itu dilapisi baja. Sebab ia segara berdiri menggenggam tangan Yuki mengisyaratkan untuk segara kabur bersamanya-entah dari apa.
"Ikuti aku!" Lelaki itu memerintah pada Yuki setengah berbisik.
Yuki tahu bahwa salah untuk pergi bersama orang asing. Terlebih sambil berpegangan tangan. Namun kaki Yuki tetap melangkah bersama lelaki itu. Mereka berlali menyusuri gang yang tadi dilewati Yuki untuk bergegas pulang. Tiap langkah mereka yang beriringan menimbulkan percikan dari genangan hujan yang masih menitik hingga kini. Terlihat kemeja lelaki itu bercak tanah dibagian punggungnya. Mungkin punggung itu merupakan tempat berlabuhnya suara "dug" tadi. Mereka terus berlari, hingga akhirnya langkah keduanya melambat. Melambat, dan akhirnya berhenti di depan apotek yang tutup. Yuki dan lelaki itu terengah-engah sambil bersandar di depan pintu putih apotek itu.
"Apa yang terjadi?" Yuki membuka rentetan pertanyaan atas apa yang terjadi disini, sekarang-barusan.
"Komplotan remaja labil itu akan menyerang. Tauran." Lelaki itu terduduk dengan nafas yang masih tersengal.
"Tauran?"
"Um. Bukankah memang itu yang selalu terjadi disini." Lelaki itu mendongak menatap mata Yuki,tepat.
"Ngg..A..Aku belum pernah pulang se-sore ini" Yuki memasukkan headset nya ke dalam tas coklatnya yang setengah basah.
Lelaki itu berusaha berdiri, namun gagal. Ia mengaduh kesakitan hingga akhirnya terduduk lagi. Dengan tangan panjang putihnya yang dilapisi kemeja hingga siku, ia berusaha menggapai sesuatu di punggungnya. Bekas "dug!" tadi. Yuki bergegas berlutut di sebelah pria itu. Memeriksa bagian yang tertanda dengan bercak tanah.
"Pasti benar-benar menyakitkan. Ini mengapa tadi anda memeluk saya?" Yuki meraba daerah itu.
"Ga ada niat untuk berterimakasih?"
"Terimakasih."
"Ya, sama-sama.." Lelaki itu berucap dengan nada mempersilahkan Yuki memperkenalkan dirinya
"Yuki."
"Yuki." Lelaki itu mengulang dengan nada yang sama seperti yang Yuki ucapkan.
Yuki membuka ransel nya dan mengeluarkan sesuatu. Saleb. Yuki sering cedera ringan saat bermain basket di sekolahnya. Itu yang membuatnya selalu siap sedia dengan segala peralatan medis dadakan; plester, betadine, saleb, kapas, cottonbud, alkohol 70%, bahkan koyo.
"Ini," Yuki menyodorkan saleb yang hanya tinggal setengah. "ini selalu berhasil meringankan cedera dan biru-bitu di kaki ku"
"Terimakasih."
Lagu Heroes Comeback yang merupakan ost dari Naruto mengagetkan keduanya. Itu nada dering ponsel Yuki. Mama. Mama menelpon tepat ketika sebuah mobil hitam dengan plat BK 1411 RN berhenti di depan mereka. Itu mobil mama. Tapi tentu saja bukan mama yang mengendarai.
"Terimakasih." Yuki tersenyum pada lelaki itu dan langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
___________________________________
"Lama ya. Mau nginep di sekolahan?" Rendy memulai ocehannya karena kesal harus menjemput sepupu nya di hari yang begitu indah untuk bergulung dan menonton TV di rumah.
"Ada insiden." Yuki menjawab datar tanpa melihat Rendy. Ia kembali terngiang dengan kejadian 5 tahun lalu. Rintik hujan yang tidak juga berhenti semakin membawa khayal nya terbang ke masa itu.
"Oiya." Suara berat Rendy mengalihkan khayal Yuki. "Cowo tadi, siapa?"
"Astaga!" Yuki menepuk dahi nya berseru "Aku lupa menanyakan namanya." batin Yuki.

YOU ARE READING
Derai Desember
Teen FictionKetika rindu mencekikmu hingga oksigen tak lagi mampu kau tarik.