Windi menatapku garang saat aku menoel-noel pundaknya. Aku nyengir nggak merasa bersalah. “Yang ini bukan bukunya?”
Windi berdecak keras. “Kamu nggak bisa baca apa itu judul bukunya?”
Suara Windi agak kalem, nggak bentak-bentak kayak biasanya berhubung lagi di perpustakaan. “Aku bukan nggak bisa baca judul. Tapi aku nggak catat judul buku-buku yang harus jadi referensi apa-apa aja?”
Windi mendelik, ini udah kayak makananku sehari-hari. “Ini, buku yang aku pegang tinggal satu-satunya. Judul yang lain juga udah pada di pinjem. Mampus kau!” desisnya.
Ih... dasar ratu tega. “Ya makanya pinjem catatanmu biar aku pastiin sendiri, kalo perlu aku ubek-ubek seluruh rak.”
“Catatanmu kemana?”
“Kan, tadi, aku bilang nggak catat Pak Nirwan ngomongnya cepet banget, jariku terkilir.”
“Alesan aja!”
“Ssst... nggak boleh bentak-bentak di perpustakaan ini.”
Windi menahan geram sambil ambil secarik kertas dari dalam bindernya. “Jangan lupa balikin!”
Aku ngangguk-ngangguk jalan menuju rak.
Ponselku getar, liat nama Bang Gandi langsung angkat. “Hmm... kenapa Bang?”
“Temen Abang batal ikut Din, ada kerabat dekatnya yang ninggal.” Suara Bang Gandi terdengar panik. Keningku masih kerut, nggak ngerti apa yang dia maksud.
“Kira-kira Bang Putra bisa nggak ya.”
Eh? Oh... masalah sopir kah?
“Jangan!” Alamat mati kutu aku kalo dia yang gantiin, sepanjang jalan kenangan pasti aku dijadiin bahan olokan. “Um... istrinya lagi hamil Bang, nggak mungkin ditinggal.”
“Iya juga. Ya udah, Abang sewa sopir aj—“
“Yah... sendiri lagi? Nggak jadi ikut deh.”
“Jangan gitu dong Din. Atau ada temen kamu yang bisa nyetir sampe Dantob?”
Hmm... aku muter otak. Bang El? Tapi apa dia mau jalan-jalan sementara tadi malam waktu tanya soal Mamanya dia nggak bisa jawab.
Terus siapa? Masak si kerdus Dana? Pernah sih semester dua jalan-jalan bareng temennya juga, dan dia yang nyetir. Ah, nggak. Nggak!
Alisku terangkat. “A... da. Iya, ada kayaknya.”
“Jangan kayaknya, yang pasti.”
“Iya, bentar. Ini Dhini pastiin dulu.”
“Ya udah, Abang tunggu sampe siang ini ya. Pokoknya besok nggak boleh batal.”
Lah, kok jadi dia aku yang ditekan? “Hmm,” gumamku asal mematikan sambungan.
Aku batal ubek-ubek rak buku, yang ada aku keluar dengan sama sekali nggak noleh ke Windi, ntar dia minta balik kertasnya.
Sesaat aku terdiam di depan perpustakaan. Apa pilihan terakhir cuma dia? Mendadak kesal menderaku. Sekarang aku pahami, kalau ucapannya kemarin memang cuma basa-basi, nggak ada panggilan cuma-cuma yang sekadar isengin tanya apa kabar dari dia.
Argghhh.... kenapa jadi aku yang terkesan murahan. Inget Dhini udah ada Bang El!
Oke. Kali ini aku bakal hubungin dia perkara urusan bisnis. Bukan karena yang lain-lain. Apalagi modus sekadar alasan buat ketemu. Otakku mengiyakan. Tapi hatiku malah ngetawain. Sial!
***
Aku tahu Kak Dhina nggak berhenti melirikku. Kuabaikan sambil pura-pura sibuk mainin ponsel. Kami nggak nginap, jadinya pergi di pagi buta. Jam 4.
KAMU SEDANG MEMBACA
False Hope
Chick-Lit(Tersedia di google playbook) "Karena cowok humoris itu nggak ada serius-serius nya. Udah itu aja." -Radhini Dewantari-
