Cerita telah direvisi.
~~~
Kota Bandung merupakan kota yang sering dikunjungi para wisata. Suasana Bandung yang selalu membuat Hasan merindukan keluarganya. Bandung tidak pernah berubah, kota yang selalu dingin dan nyaman. Perjalanan dari Jepang menuju Indonesia menempuh waktu 12 jam. Setelah tiba dari Bandara Soekarno-Hatta, Hasan dijemput oleh supirnya menuju kediamannya di Bandung. Karena hari ini hari minggu, Hasan mengalami kemacetan yang padat dari arah Jakarta menuju Bandung.
Hasan memberi pesan kepada ibunya bahwa ia akan pulang telat karena mobilnya tidak bisa bergerak akibat kemacetan total. Ia melihat ke arah jalan raya yang dipenuhi oleh mobil yang berplat nomor B.
Hingga akhirnya Hasan tiba di rumahnya yang sudah bagus dan mewah. Hasil kerja kerasnya selama ini. Ia merubah rumahnya yang kecil menjadi besar dan lebih baik dari sebelumnya. Dia membukakan pintu rumah, "Assalamualaikum."Kata Hasan sambil menutup pintu rumahnya. Adik Hasan yang paling kecil berlari menuju Hasan, "Waalaikumsalam.. Ibu, ada A Hasan."Hasan menggedong Salsa-adiknya yang berusia 8 tahun.
Hasan menghampiri Ibu yang sedang memasak di dapur, lalu menyalami telapak tangan Ibunya. "Hasan."Kata Ibu tersenyum.
Hasan memeluk Ibunya, "Ibu, apa kabar?"Tanyanya.
"Alhamdulillah baik, Nak."Balas Ibu.
Hasan menghampiri Bapaknya yang sedang menonton ceramah di TV bersama Diva-adik ke 2 Hasan dan Dina-adik ke 3 Hasan yang masih berusia 10 tahun. Hasan mempunyai 3 adik yang jauh berbeda usia dengannya. Dia menyalami Bapak.
"A Hasan tambah ganteng aja."Kata Dina mencium pipi Hasan.
"Nanti Diva juga kaya A Hasan ganteng dan cerdas."Kata Diva memeluk Hasan.
Hasan tersenyum, "Amiiiinnn..."
"Bapak juga masih muda ganteng, tanya aja sama Ibu. Makanya Ibu cinta sama Bapak."Kata Bapak percaya diri.
Mereka semua tertawa mendengarkannya.
"Makanan sudah siap."suara Ibu sudah terdengar dari arah ruang makan.
Mereka pergi ke ruang makan, "Ibu selalu tahu makanan kesukaan Bapak nih."ucap Bapak melihat semur jengkol.
"Iya dong, Pak. Hasan, Ibu memasak terong balado juga kesukaan kamu."sahut Ibu menambahkan berkata bahwa ia telah memasak makanan yang disukai Hasan.
Hasan tersenyum, "Alhamdulillah, terimakasih Ibu-ku sayang."
Keluarga Hasan memang sangat harmonis dan tentram. Selalu saja ada yang membuat tertawa dari keluarganya. Maka dari itu, Hasan selalu merindukan keluarganya di saat sedang jauh.
***
Hasan dan Ibu sedang berada di ruang tamu, menikmati teh hangat dan kue bolu buatan Ibu Hasan. Mereka membicarakan apa saja yang menjadikan pembicaraan yang lama. Hingga Ibu membicarakan sesuatu yang membuat Hasan sedikit sedih.
"Sampai kapan kamu mencari Amira?"tanya Ibu kepada Hasan.
Hasan berhenti memakan kue, dan meminum tehnya.
"Hasan akan berhenti mencari Amira sampai Hasan menemukan jasadnya, Bu."Penyataan Hasan mmbuat Ibunya sedih, anak sulungnya belum bisa melupakan tunangannya itu.
Ibu mengelus rambut Hasan, "Nak, lantas jika di umurmu yang nanti akan tua. Kamu masih tetap mencari Amira?"Tanya Ibu
Hasan menatap lurus ke depan, ke kolam renang yang sangat bersih berwarna biru.
"Pikirkanlah, kamu nggak boleh berlarut dalam kesedihan yang mendalam. Ibu juga ingin menggedong cucu Ibu."ucap Ibu penuh arti.
"Hasan sangat mencintainya, Bu." Hasan menatap Ibu dengan wajah sedih.
"Ibu tahu, Nak. Tetapi ingat sampai kapan kamu menemukan Amira yang sudah lama menghilang? Apakah kamu tak mau menikah selain dengan Amira?"tanya Ibu mengelus rambut Hasan pelan.
Hasan menggelengkan kepalanya.
"Hasan akan berhenti mencari Amira di tahun depan, Bu. Dan jika Hasan memang belum bisa menemukannya, Hasan akan menikah dengan wanita lain. Ibu pegang janji Hasan, ya. Hasan juga perlu waktu untuk menghapus Amira dalam ingatan Hasan."
Ibu tersenyum mendengarkannya, "Ibu tunggu tahun depan, Nak."Ibu memeluk Hasan.
Hasan memang harus bangkit dari masa lalunya, yang sudah lama menghilang. Tetapi bagaimana dengan Bapak Kiyai? Hasan akan berbicara dengan keluarga Amira di Jawa Tengah.
Sebenarnya Hasan merasa gagal menjaga amanah yang Bapak Kiyai percayakan kepadanya, ia sangat mersakan bersalah yang mendalam di lubuk hatinya.
***
Hari ini Hasan sudah pergi ke perusahaannya yang ia buat sejak zaman kuliah. Dari masa perintis hingga sudah mempunyai banyak cabang di luar negeri. Dia melangkahkan kaki menuju ruangan Manager HRD. Farid menjadi manager HRD nya di perusahaannya, dan Ridho menjadi sekertarisnya.
"Assalamualaikum."Kata Hasan sambil membuka pintu ruangan temannya.
"Waalaikumsalam, wah ada Pak Hasan."Farid menghampiri Hasan.
"Bagaimana bertemu dengan gadis di Jepang, pasti cantik-cantik sekali ya."Gurau Farid.
Hasan dan Farid duduk di sofa ruangan Farid.
"Bagaimana perkembangan cabang di Paris, Rid?"Tanya Hasan kepada Farid.
"Sejauh ini sih bagus, Sob. Tetapi lebih baik kau pergi ke sana sajalah hanya sebulan saja, kau urusi cabang di sana. Kasihan cabang di Paris kan masih baru dan perlu di urusi juga."Nasihat Farid.
Hasan menganggukan kepala setuju, dia akan menyuruh Ridho untuk mengurusi jadwal keberangkatannya ke Paris.
"Bagaimana kabar Zahra?"Kata Hasan.
"Zahra sudah hamil, Sob. Dia selalu sehat." Zahra, istrinya Farid. Adik kelas di pondok mereka. Farid sudah menikah 5 bulan yang lalu.
"Alhamdulillah."Kata Hasan.
"Kapan nyusul?"Canda Farid.
Hasan terdiam, "InsyaAllah tahun depan."
Farid tersenyum mendengarkan Hasan sudah mulai melupakan Amira yang sudah lama menghilang itu.walaupun ia mengetahui apa perasaan yang dirasakan Hasan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia, Cinta Halalku! (Dreame)
EspiritualHasan mencoba mengikhlaskan kepergian tunangannya yang hilang, ia mulai mencari seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Di kota Paris, Hasan menemukan seseorang wanita bercadar yang membuatnya kembali membuka hatinya setelah sekian lama. H...
