Pak Ojek

37 10 0
                                    

Triiiinggg...

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, siswa-siswi SMA Bangsa bersorak gembira karena terkurung dalam lingkungan yang diharuskan memakan materi-materi yang tidak dimengerti sebagian penghuni sekolah ini.

Di sini, dikelas sebelas IPA-3 hanya ada aku, Vella dan Nora. Kami memang selalu menunggu kelas sepi agar saat keluar tidak berdesakkan. Yah, itu alasan yang klise. Tapi yang jelas itu yang paling biasa ku dengar dari teman-temaku.

Setelah kurasa sudah sedikit sepi aku mulai beranjak dari tempat dudukku.

"Ayo pulang"

"Bentar Tik, nanggung. Biar besok gak nulis jurnal"

"Mentang-mentang jadi sekret sih lo Nor"

"Gak usah berisik deh Vel, hapus aja tu papan"

Kedua temanku ini sangat aneh bin ajaib.

Nora adalah teman baikku sejak SMP, dia manis, berlesung pipit, hidung minimalis, bermata belok dengan rambut lurus sebahu. Dia menjabat menjadi sekretaris kelas, dia pintar tapi kadang dong-dong. Dia humoris tapi agak tomboy.

Vella, salah satu the most wanted di sekolah ini. Cantik, pintar, famous, baik dan ramah. Yah! Pasti seperti itulah ciri-ciri the most wanted yang melekat pada Vella. Dia banyak di kagumi kaum adam di sekolah.

Jika harus menjadi pemeran utama, yang cocok dalam cerita itu adalah Vella, bukan aku!

Tapi meskipun mereka berdua itu berbeda dan sering berantem, mereka tetap teman terbaikku.

"Eh Tik, pulang sama siapa?"

"Pak ojek, Vel"

"Bareng gue aja Tik" tawar Nora.

"Lo aja sama Danang!" sulut Vella.

"Hehe, iya. Dia belum keluar"

"Yaudah, bareng gue aja Tik. Gue di jemput kok"

"Eh, ga usah Vell ngerepotin" aku membenarkan kaca mataku yang terasa semakin kebawah. "Gue ada yang nganterin"

"Ha? Siapa?" jawab mereka serempak.

"Bapak Suparmin" aku menyengir melihatkan gigiku yang terpagari dengan kawat gigi berwarna silver.

"Eee... Kiarain"

"Dasar anaknya tukang ojek"

"Enak aja, gue anaknya ayah sama bunda!"

"Ga nanya!"

"Ciyeee... Barengan lagi..." aku tertawa jahil pada mereka. "Kalo gitu gue pergi dulu ya, bye"

Aku berjalan menelisuri trotoar tinggal belok ke tikungan jalan depan aku sudah menemukan pangkalan ojek.

Tak sengaja aku melihat kak Azwan sedang berbincang dengan kak Nia.

Ingin rasanya berada di posisi kak Nia yang dapat berbicara dan tertawa bersama.

Kak, apakah kau itu suatu ketidak mungkinan yang sangat aku harapkan? Apakah kau tidak lelah berada di angan-anganku yang tidak mungkin menjadi nyata?

"Lo ngomong apa sih Cantika!"

"SADAR CANTIKA!!"

◾️◾️◾️

"Pak ojek, Bu ojeknya ada?"

"Bu ojek lagi dandan neng Cantik"

"Ya ampun pak Suparmin, bapak orang ke lima yang bilang aku CANTIK, setelah dokter, bunda, ayah dan abangku"
"Makasih pak Min" aku memberikan seulas senyum manisku si hadapan pak ojek sepuh ini.

Di pangkalan ojek ini paling tua adalah pak Suparmin. Aku sering diantarnya pulang saat kakak tidak bisa menjemputku. Alasan aku lebih milih pak Suparmin ini karenarasanya lebih aman saja. Karena aku yang tidak suka di sentuh orang yang tidak akrab denganku, tapi beda dengan pak Suparmin karena dia sudah sepuh jadi aku kebih nyaman jika diantar oleh beliau.

"Eh neng, jangan GR dulu. Nama situ kan Cantika" sahut salah seorang ojek yang berada di panhmgkalan ojek ini, dan di susuk tawa abang-abang ojek lainnya.

Senyum manisku berubah kegetiran dalam hati, tapi aku coba tetap tersenyum agar tidak ada kecanggungan yang akan terjadi.

Bahkan tukang ojek pun tak suka padaku! Hahaha!

"He, kalian itu"
"Neng Cantik ini cantik kok, kayak anak jaman sekarang bilang. Don jak ebok bay decaver".

Aku sedikit bingung apa yang di katakan pak tua ini. Oh aku tahu!

"Don't judge a book by the cover, pak"

"Iya itu"

"Emang bapak tahu artinya?" Tanyaku pada pak Min sepuh ini.

"Tahu dong. Meskipun bapak tukang ojek, bapak gaul"

"Apa?" tanyaku serempak dengan abang-abang ojek lain.

"Sampul buku jelek ga sama yang ada di isinya" kata pak Suparmin lugu.

Ingin tertawa tapi... Dipikir-pikir benar sih apa yang di katakan pak Min ini.

"Ayo neng jalan"

◾️◾️◾️

Istana kebesaranku sudah terlihat. Tak berapa lama pak Suparmin memberhentikan motornya tepat di gerbang rumahku.

"Makasih ya pak, tunggu sebentar Tika ambil uang dulu. Tunggu ya pak" kataku pada pak Suparmin sembari menuruni motor pak Suparmin.
Aku berlari kecil memasuki rumah langsung menuju ke dapur.

"Bun, minta uang lima belas ribu buat pak ojek"

"Lah kamu sama pak ojek?" kata bundaku yang berdiri di depan penggorengab .

"Iya bun, mana uangnya?"

"Lah, kakakmu kemana?"

"Haduh bunda... Itu pak ojeknya udah nunggu"

"Nih"

Aku mengambil uang yang di berikan bunda lalu berlari keluar.

"Maaf pak lama"

"Gak apa-apa neng, saya pergi dulu ya neng"

"Iya pak, terima kasih sekali lagi ya pak".

Pak Suparmin langsung pergi dari pandnganku.

Beem... Beem...

Barusaja aku membalikkan badan, suara klakson mobil menghentikan kakiku yang hendak melangkah dan memaksakan tubuhku untuk berbalik melihat pelaku.

"Ciyee... Yang gak punya pacar, di anterin pak ojek". Resek banget ini orang, jadi kakak resek banget sama adeknya.

"Emangnya situ punya?"

"Long last ya..."

"Lo tukang ojek!"

"Iya tau kok yang baru jadian sama bapak-bapak, hahahaha!"

"KAKAK!!"

"LO MAU MATII!!"

"GUE MASIH PUNYA SELERA TINGGIII!!"

◾️◾️◾️

Kalian benar, rupa yang indah menjadi nilai utama dalam pertemuan dengan seseorang.

Salam, Tita ❤

RATU CANTIKA?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang