- Sepiring Takoyaki -
.
Waktu itu, di salah satu sudut Jogja.
Ku duduk berdua, ditemani saudara.
Menikmati sedikit senja
Dan takoyaki yang baru saja tiba.
.
'Aku rindu,' katanya.
'Rindu? Rindu akan apa?' Tanggapku, sambil memainkan gawaiku.
'Rindu akan Surabaya, di sini tak enak,' lanjutnya.
Aku hanya diam, sambil menatap wajahnya yang mulai sayu.
.
'Di sini, semua tak sesuai ekspektasiku,' lanjutnya dengan nada sendu.
'Ekspektasi yang mana?' Tanggapku.
'Semuanya, seperti kuliah, teman, pasangan, enak di Surabaya,' jawabnya, diikuti dengan air mata yang mulai jatuh.
Aku hanya menatapnya, sambil menawarkan secarik tisu.
.
Ia menolak.
Katanya, 'tak perlu, yang aku butuhkan hanya Surabaya!'
Lalu, aku tersenyum menatapnya.
Sambil mencoba takoyaki hangat, yang aromanya tak bisa ditolak.
.
'Coba ini dulu, enak,' kataku mencairkan suasana.
'Tapi, Cal...' Jawabnya masih dengan emosi yang menggebu-gebu.
'Udah, coba dulu. Enak ini sungguh.' paksaku kepadanya.
Dia lalu mengambil takoyaki dengan sumpitnya, memakannya, dan diam membisu.
.
'Bagaimana?' tanyaku, memastikan.
Dia diam, dan perubahan mulai tampak di wajahnya.
Sendu yang ada, berganti dengan senyum yang meyakinkan.
Seakan ia yakin, semua tentang Jogja tak selalu seburuk bayangannya.
.
Btw, ini beneran enak sih... Cuma sayang, adanya di Jogja doang. Uh rindu:(
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Jam 2 Pagi
PoésieSekumpulan kata yang terbentuk ketika malam sudah terlalu larut, dan hanya segelas minuman yang menemani
