Manik indah itu menerawang jauh. Segala macam pikiran memenuhi otaknya dan itu semua tentang Tae. Tentang sikap pria tampan itu tadi dan tentang tatapan matanya yang begitu gelap saat Tee menyebut tentang istrinya.
Mereka sudah lama saling mengenal, sangat lama hingga Tee lupa kapan dia pernah menghabiskan harinya juga tanpa Tae. Tapi Tee tidak pernah melihat sosok Tae yang seperti itu, penuh dengan kebencian.
Seingatnya semarah apapun Tae, pria itu akan lebih memilih diam dan tetap bersikap tenang. Tapi sosok Tae yang tadi itu benar-benar lain, Tee merasa dia bahkan tidak mengenal Tae yang itu.
Apa waktu sepuluh tahun dapat mengubah semuanya?
Tapi kenapa Tee sama sekali tidak merasa dirinya berubah? Bahkan tidak untuk perasaannya pada Tae. Rasa itu masih tetap ada tak peduli seberapa kerasnya dia mencoba melupakannya.
Tee tercenung.
Apa yang Tae alami sepuluh tahun ini setelah dia pergi?
Hari sudah menunjukkan pukul satu malam tapi Tee sama sekali tidak bisa tidur, matanya terlalu berat untuk menutup. Tangannya sedaritadi sibuk menepuk pelan punggung sempit milik Bass. Bocah manis itu kini sedang tertidur berbantalkan lengannya dan tangan mungil itu memeluk erat tubuh Tee tanpa mau melepaskannya. Dia akan merenggut dan bergerak tak nyaman jika Tee mencoba melepaskan pelukannya, jadi Tee membiarkannya dan balas memeluk tubuh mungil itu untuk semakin meringkuk didadanya.
Haaah.
Tee menghela napas.
Frustasi.
Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya tapi tak ada satupun jawaban yang didapatnya. Dia ingin segera tidur agar pikiran-pikiran itu hilang dari kepalanya.
"Segelas cokelat panas sepertinya bisa membantu." Gumamnya.
Tee bergerak perlahan, membebaskan tangannya dan menaruh kepala Bass dengan hati-hati diatas bantal. Dia mencoba melepaskan pelukan erat bocah manis itu dengan perlahan. Namun begitu pelukan itu berhasil dilepas, Bass langsung bergerak dalam tidurnya. Tangan mungilnya terangkat, menggapai-gapai diudara, mencoba mencari tubuh Tee. Dia baru berhenti bergerak ketika Tee meletakkan guling disampingnya dan Bass beralih memeluknya seperti memeluk tubuh Tee.
Tee itu tersenyum manis melihat tingkah imut Bass. Dirapikannya rambut yang menutupi dahi Bass dan Tee memberikan kecupan sayang disana.
Setelah membenarkan selimut Bass, Tee melangkah dengan pelan membuka pintu kamar dan kembali menutupnya dari luar. Kegelapan langsung menyambutnya, dia harus melangkah perlahan dengan meraba dinding sekitar untuk mencari saklar lampu.
Begitu lampu menyala terang, Tee kembali berjalan. Namun langkahnya terhenti saat melewati ruang tamu. Dia menemukan Tae disana, sedang duduk sendirian disofa. Mata sekelam malam diluar sana itu bertabrakkan dengan iris lembutnya.
Atmosfir disekitar mereka menjadi sangat canggung, terlebih bagi Tee karena mata tajam Tae tak pernah lepas mentapnya. Seolah memenjarakannya dalam pekatnya kegelapan yang tak berujung.
Tee berdehem, menggaruk pipinya dengan ekspresi salah tingkah. "Phi belum tidur?"
Pertanyaan bodoh.
Ingin sekali rasanya Tee menampar mulutnya yang tak pernah berpikir jika bicara. Sudah jelas-jelas Tae berada disini berarti namja tampan itu memang belum tidur.
Tapi apa yang sedang Tae lakukan sendirian dalam kegelapan seperti ini?
Tee kembali menatap Tae saat tak didengarnya jawaban dari pria itu. Pria tampan itu masih setia menatapnya, membuat Tee rasanya ingin menghilang dari sana .
"Ingin kubuatkan minuman?" Tanya nya lagi.
Pria manis itu tersenyum saat Tae mengangguk, walaupun tidak bicara tapi setidaknya Tae meresponnya. Tee kembali melangkah kedapur, membuat cokelat panas untuknya dan kopi untuk Tae. Setelah selesai dia memberikan satu cangkir pada Tae yang langsung menyeruputnya sedikit, kemudian mendudukkan dirinya di permadani berbulu dengan badan yang menyandar sepenuhnya disofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Days (TaeTee)
FanfictionTee memang berharap dia bisa bertemu dengan Tae tapi tidak secepat ini. Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu kembali dengan cinta pertamamu yang hancur? Pair : TaeTee Bass
