Chapter 2

2K 167 24
                                    

Sudah lewat 10 menitan semenjak OSPEK selesai, tapi Hinata masih berdiri di halte bus. Ia masih menunggu bus datang, tapi nihil.

Sambil menggembungkan pipinya, sesekali jam tangan yang melingkar di tangan kirinya ia lihati tanpa henti. Mengapa ia disini? Dimana Ino?


Flashback On...


"Hinata, aku nanti ada urusan. Kau bisa pulang sendirikan ya?" Tanya Ino yang mulai memasukkan atributnya Ospeknya kedalam tas yang dari karung goni itu.

''Kau tega membuatku pulang sendirian eh...'' Keluh Hinata memanyunkan bibirnya.

''Maafkan aku ya Hinata sayang. Ini sangat mendesak. Tak apa ya? Aku duluan. Jaaaa..'' Ujar Ino melambaikan tangannya ke arah Hinata saat berlalu pergi duluan meninggalkan Hinata yang sangat-sangat sebal. Hinata lantas berjalan dengan wajah dengan raut badmood untuk ke halte bus.

Flashback Off...


Hinata mendongak, manatap langit-langit yang sudah berwarna gelap.

"Sudah mendung saja.'' Gerutu Hinata. Tetesan air perlahan turun dari langit menyapa Hinata.

''Ahhh, hujan kan akhirnya.'' Pekik Hinata sambil mengadahkan wajah ke langit yang sudah semakin gelap gulita.

Tetesan air hujan semakin bertubi-tubi menjatuhi kulit Hinata. Ia lantas memundurkan dirinya ke belakang untuk sedikit berteduh.

Karena hawa yang terus menusuk, Hinata memeluk badannya yang menggigil kedinginan dan mengusapkan kedua telapak tangannya ke siku. Merasa dingin tidak kunjung berkurang, ia meletakan tas yang ia pegang ke sebelah kakinya dan menggosokkan kedua telapak tangannya, berharap ada sedikit kehangatan yang tercipta di sana.

Tapi dengan tiba-tiba, ada sebuah jaket yang menghalangi rintikan kecil hujan yang membasahi kepalanya. Ia pun menoleh ke samping, lalu melihat pria bersurai kuning jabrik yang merupakan senpainya yang ia mintai tanda tangan menyelimuti Hinata yang sudah kedinginan dengan jaketnya.

"Kau sudah kedinginan sekali, aku antar kau pulang..."



"Maaf Senpai, aku pasti merepotkanmu.'' Seru Hinata ke seseorang yang sedang fokus menyetir mobil Lambhorgini merahnya.

"Tak apa..." Ia yang bernama Naruto itu mengangguk pelan.

"Ummmm maafkan soal yang tadi ya Senpai."

''Untuk?'' Tanya Naruto melirik kepada Hinata.

''Karena berkata aku menyukaimu tadi. Maafkan aku Senpai.''

''Hahhh... Lupakan sajalah. Sahabatku memang suka sekali mengerjai mahasiswi baru.'' Naruto menghadap kearah Hinata dan kedua mata mereka bertemu. Sontak saja Hinata mendadak gugup dan kembali menundukan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Ternyata Senpai tak sedingin yang aku kira..." Perkataan Hinata  terlontar bersama dengan terhentinya laju mobil karena lampu merah. Naruto menolehkan wajahnya lebih lama.

"Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?" Ucap Naruto menatap intens Hinata.

''Aku memperhatikan Senpai sangat dingin dan terkesan cuek.''

"Kau memperhatikanku sampai segitunya eh?" Goda Naruto.

''Eh?!'' Pekik Hinata yang menjadi kikuk hingga raut wajahnya kembali merona. Ia mengeratkan pegangannya pada jaket Naruto yang masih bertengger ditubuh yang nyaris kuyup itu.



Lampu hijau lalu lintas sudah menyala. Naruto kembali melajukan mobilnya.

''Kau sudah punya pacar? Hinata menoleh.

''T-tidak Naruto Senpai.''

"Bagaimana kau masih menghafal namaku?''

''Ummm... Karena memang Naruto Senpai yang kumintai tanda tangan.'' Jawab Hinata tersenyum.

"Oh.'' Respon Naruto singkat.

Hening...

Hinata terus memperhatikan sosok disampingnya ini, ia merasa Senpai disampingnya ini sifatnya berubah-ubah. Kadang bisa sedingin es, kadang sangat asyik diajak mengobrol.

Merasa diperhatikan oleh Hinata, Naruto menoleh. Pandangan merekapun bertemu. Iris keperakan dan Shappire biru laut berpadu.

''Jangan menatapku terus, kau bisa jatuh cinta nanti.'' Tegur Naruto sontak membuat Hinata tersadar dan membuang muka langsung menghadap pemandangan di luar mobil dari balik jendela mobil yang dipenuhi titik-titik hujan.

Hinata menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa kikuknya sekarang. Ia merutuki dirinya yang dengan sengaja memperhatikan senpainya yang sangat menarik atensinya.



Sesampainya di depan rumah, Hinata langsung keluar. Ia berputar agar dapat menghampiri senpainya. Naruto membuka kaca mobilnya.

"Terima kasih, Naruto senpai. Ummm... Jaketnya."

"Simpan saja.'' Jawab Naruto membuat ronaan merah mulai muncul di pipi Hinata.

Tidak dapat dipungkiri lagi, Senpainya ini memang tampan dari jarak dekat seperti ini. Naruto mengernyitkan dahinya. Untuk yang kedua kalinya, gadis bersurai indigo dihadapannya ini menatapnya lagi dengan begitu intens.

''Jangan menatapiku terus. Sudah sana masuk." Senpainya itu membuyarkan lamunan Hinata dengan anggukan singkat mulai berjalan menuju depan rumahnya.

''Hati-hati dijalan Naruto Senpai. Ummm... Terimakasih.'' Seru Hinata yang dibalas senyuman oleh Naruto.

Tak lama Naruto pun melajukan mobilnya berlalu dari rumah Hinata. Hinata yang tertinggal sendirian masih terpana. Senpainya memang tampan dan sangat malah.



Sepeninggal mobilnya dari rumah Hinata, Naruto tersenyum. Ia membayangkan sikap Hinata yang berkali-kali mencuri pandang padanya.

''Gadis yang menarik....'' Imbuh Naruto semakin melebarkan senyumannya.





Bersambung...

Naruto Senpai Is My LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang