[Proses Pengeditan & Hiatus Sementara]
Elora Aelyn melakukan pelarian usai skandal mengenai dirinya tersebar di seluruh jurusan, lelaki yang tak ingin dia sebutkan namanya itu yang menjadi alasan kenapa dirinya harus pergi. Melanjutkan pendidikanny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kadang satu kutub harus melemah, agar dua jiwa tetap bersatu."
♪
Hari yang sangat tidak ditunggu tiba, Aelyn menatap dirinya pada pantulan kaca. Wajahnya sudah di poles dengan riasan sederhana namun tetap memiliki kesan elegan. Lalu gaun yang sudah lama dia impikan untuk di pakai bersama seseorang yang dicintainya kini sudah terpasang di tubuhnya, walau bukan bersama lelaki yang di cintainya. Aelyn merapikan rambut yang sudah dicurly, memasang hair klip berbentuk kupu-kupu di belakang kepala, lalu menutup wajah hingga setengah tubuhnya dengan veil transparan. Matanya tidak bisa berbohong, nampak dari sorotnya dia terlihat tidak siap dan sangat sedih.
Sebuah ketukan pelan pada pintu kamarnya membuyarkan Aelyn dari ketermenunganya. "Ael—ayo, akadnya sudah selesai, waktunya tanda tangan sama pemakaian cincin," suara lembut Chessy membuat Aelyn berusaha mati-matian untuk terus tersenyum.
"Gapapa, adik aku cantik dan bisa melewati ini semua aku yakin setelah ini kamu bakalan happy terus." Chessy membantu Aelyn untuk berjalan menuruni anak tangga, dia berjalan dengan anggun di samping Chessy, tetapi dalam hatinya, ada kekacauan emosi yang sulit diatasi. Pada undukan tangga terakhir, tangan Kenan terulur untuk menyambut tangannya. Pada saat itu, tak sengaja mata Aelyn bertemu langsung dengan mata Winter yang melihatnya dengan sorot yang dia tahu betul itu adalah kesedihan.
Aelyn mengigit bibir bawahnya, berusaha dengan segala upayanya untuk menjaga pertahanan dirinya tidak runtuh. Saat tanda tangan dan pemasangan cincin selesai, Kenan di izinkan untuk masuk ke dalam veil untuk mencium kening Aelyn. Saat veilnya diangkat, Kenan sempat terdiam untuk sepersekain detik. Melihat tatapan Aelyn dengan mata berkaca-kaca, bahkan bibir bawah yang di gigitnya hingga memberikan bekas kemerahan.
Kenan, yang tahu betapa beratnya momen ini bagi Aelyn, berusaha memberi kenyamanan pada Aelyn. Dia memposisikan dirinya untuk menutupi sorot mata Aelyn yang nampak sangat tersiksa itu dari kamera, sambil berbisik. "Tenang, setelah ini kamu bebas."
Acara kembali di lanjut dengan menyambut para tamu. Tapi hanya untuk Kenan, karena Aleyn memilih untuk kembali ke kamarnya. Tidak dia tidak bisa menerima tamu dalam keadaan seperti ini.
Kenan berdiri di ruang tamu, menyambut para tamu yang kebanyakan hanya keluarga dan beberapa orang tetangga termasuk Winter sendiri.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Aelyn merasa tidak siap. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun pengantin yang seharusnya dia kenakan dimomen paling bahagia dirinya, malah menjadi momen paling tidak dia inginkan. Mungkin—dia memang pernah ada setitik rasa pada Kenan, tapi— Aelyn merasa keputusan Kenan adalah hal paling tak masuk akal dan sangat menyebalkan sepanjang dia hidup.
Isak tangisnya menggema di dalam kamar mandi, walau dia sudah mencoba untuk menahannya, tapi hari ini dia tidak sanggup, hatinya terlalu rapuh setelah melihat tatapan Winter sore tadi. Seharunya saat ini dia membantu Winter untuk pemulihan ingatannya.