4

3.8K 137 3
                                        

"Jika tak ada rasa peduli, mengapa masih saling mencari? Apakah semua ini hanya kebiasaan yang sulit dihentikan?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jika tak ada rasa peduli, mengapa masih saling mencari? Apakah semua ini hanya kebiasaan yang sulit dihentikan?"

Aelyn berdiri di depan ruang kelas, siap untuk presentasi kelompok yang telah mereka persiapkan. Namun, anggota kelompok yang dia tunggu belum kunjung datang. Dia mencoba mengisyaratkan pada Ramona, untuk membantunya menghubungi anggota kelompoknya, Kenan. Tetapi tidak mendapatkan jawaban. Perasaan tidak nyaman ditambah Profesor Anton yang sudah menunggu. Aelyn akhirnya memutuskan untuk memulai presentasi sendiri.

Walau setengah hati, dia bersiap untuk presentasi sendirian. "Baik, selamat siang. Perkenalkan, saya Elora Aelyn. Pagi ini, saya akan mempresentasikan hasil kerja kelompok kami. Ini adalah lukisan-"

Namun, tiba-tiba Profesor Anton mengangkat tangannya untuk menghentikannya. Aelyn menatapnya ragu. Profesor Anton bertanya tentang anggota kelompoknya yang seharusnya turut serta dalam presentasi.

"Siapa anggota kelompokmu, Elora?" tanya Profesor Anton wajah serius lelaki paruh baya itu membuat Aelyn keringat dingin sendiri.

Tak biasanya Aelyn merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Tapi tatapan Profesor Anton, rasanya sangat berbeda. Menakutkan dan garang. "Itu ... Kenan Adams. Hari ini, dia sedang ada urusan, jadi saya yang mewakilkan."

Profesor Anton mengangguk, memberi izin untuk melanjutkan presentasi. Aelyn melanjutkan dengan segera, meskipun dia masih merasa agak gugup. Dia berhasil menjelaskan dengan baik sesuai dengan yang telah mereka persiapkan. Aelyn menjelaskan dengan penuh ke hati-hatian mengenai lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Raden Saleh.

Baginya, lukisan ini benar-benar membawa kesan tersendiri bagi Aleyn. Bahkan hingga selesai Aelyn masih menjelaskan dengan penuh binar yang tak bisa dijelaskan.

"Terima kasih, Elora. Kamu boleh duduk kembali." Segera Aelyn kembali ke kursinya.

Profesor Anton mengambil alih kelas. Dia kembali menjelaskan tentang maha karya milik Raden Saleh tadi. Sepertinya lelaki itu juga tertarik dengan lukisan tersebut.

"Kalau menurut kamu Elora. Kenapa di lukisan ini, Diponegoro justru tampak tenang saat ditangkap? Dan apa yang ada pikirannya waktu itu?" Mata Aleyn melebar. Dia tidak menduga jika pertanyaan Profesor Anton sangat mirip dengan pertanyaan Kenan waktu itu.

Aelyn tersenyum. Lalu berdiri dari kursinya. Apa jawabannya akan sama dengan dia menjawab Kenan waktu itu? Tentu sepertinya tidak, hanya kurang lebih sama. "Mungkin tenangnya itu bukan damai. Tapi pasrah. Dan mungkin saja karena dia tahu ... marah tidak akan mengubah hasil. Tapi tenang, bisa menyampaikan perlawanan terakhir."

Profesor Anton tiba-tiba bertepuk tangan, merasa puas dengan jawaban Aleyn. Akhirnya kelas itu berakhir dengan nilai poin plus untuk Aelyn.

Perempuan itu pun meninggalkan ruang kelas dan pergi untuk jalan-jalan sejenak bersama Ramona. Hingga menjelang sore, Aelyn tetap masih mencoba menghubungi Kenan tanpa hasil. Dia pulang ke apartemennya, anehnya dia malah mengkhawatirkan Kenan.

Serenity [Hiatus Sementara & Proses Pengeditan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang