chapter 11

2.5K 187 39
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Woojin ah.....!  "

"Woojin ah.....!"

"Wae wae wae wae hyung.... "

"Kau harus lihat ini..... " Jaehwan menyodorkan tablet nya ke muka woojin yang setengah tertidur -atau mungkin tidak- 

Woojin menghela napas membaca headline berita hari ini
yang tertulis dengan huruf begitu besar bahwa  grup daejung milik kakeknya mengumumkan segera akan resmi menandatangani kerja sama dengan perusahaan medis bionic milik senator baek setelah pewaris grup tersebut bertunangan dalam waktu dekat.

Jaehwan memandang woojin khawatir, tertangkap olehnya dengan jelas perubahan ekspresi woojin yang kini serius dan mulai suram.

Woojin bangkit dari tidur-tidurannya

"Woojin ah, kau mau kemana 15menit lagi kita ada kelas prof jang... " Teriak jaehwan saat woojin mulai beranjak dan berlari meninggalkannya.

Flashback sehari sebelumnya....

Woojin memandang datar sosok didepannya .... Ini Sudah setengah jam berlalu sejak ia duduk di dalam restoran itu dan rasanya seperti berjam-jam sudah. 

"Woojin ssi... Sepertinya kau tak nyaman dengan pertemuan ini" Sebuah Suara feminim menyadarkan lamunan woojin.

Woojin hanya mendengus gagal berusaha menutupi kesalnya. Nenek dan bibinya benar-benar membawanya untuk kencan buta. Gadis cantik didepannya itu pun kini bahkan merasa aura tak nyaman darinya.

"Kenapa kita repot-repot meneruskan kencan buta ini kalau tidak nyaman baek Nara ssi" Tukas woojin tajam.

"Terkadang kesan pertama memang berbeda dengan kenyataan, aku yakin kau memiliki sisi lain yang tak sedingin ini.... " Gadis nara itu tersenyum dingin memandang woojin.

Woojin mematung tanpa ekspresi

"Nara ssi...  Apa kau mau tahu kesan pertamaku melihatmu? "

Gadis itu mengangguk. Meneguk wine nya. Masih memandang woojin lekat.

"Dari sudut pandang umum pria yang melihatmu..., kau cantik, anggun....  "

Pipi Nara merona....

"Tapi aku sudah menutup hatiku untuk siapapun, .... Karena seseorang telah berada didalamnya  " Lanjutnya mengejutkan gadis didepannya.

Keduanya terdiam.

Canggung.....

"Bagaimana ini ya,aku harus pergi sekarang karena ada janji.... " Dengan begitu woojin tak berlama lagi segera beranjak meninggalkan pasangan kencan butanya yang memandangnya pergi pasrah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jihoon terbangun pagi itu dengan kepala berdenyut dan mual, ia memandang refleksi wajahnya yang tampak pucat. Sudah hampir seminggu woojin tak pulang ke apartemen mereka, jihoon sudah berkali-kali menghubungi dan mengirim pesan namun ponsel woojin bahkan tidak aktif.

Woojin terakhir kali hanya mengiriminya sebuah pesan singkat.

"Jihoonku, jangan khawatirkan aku bersabarlah aku akan segera kembali"

Awalnya jihoon tak begitu memikirkan pesan itu mengira woojin akan pergi menginap dirumah keluarganya satu atau dua malam.   

Bahkan jihoon yang biasanya hanya mensilent ponselnya kini ia maksimalkan volume panggilan berharap woojin segera menghubunginya.

My Guardian Angel ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang