***
Aluna masuk ke dalam kamar yang sudah dihiasi khas kamar pengantin, tidak menyangka kalau sekarang dirinya harus menikah bersama lelaki yang tidak pernah ia inginkan. Sah menjadi istri Brayen menurutnya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, mengingat proses ijab kobul tadi saja membuatnya merasa jijik, harusnya perjanjian sakral itu ia terima dengan hati yang sangat bahagia, tapi nyatanya ia salah, terjebak menjadi istri musuhnya sendiri membuatnya sangat muak.
Brayen baru saja keluar dari dalam kamar mandi, menggosok rambutnya yang basah degan handuk berwarna putih, rasanya Aluna ingin sekali mengusir lelaki itu dari dalam kamarnya, sadar diri kalau ini kamar lelaki menyebalkan itu, terpaksa ia harus mengalah.
"Ngapain lu liatin gua kayak gitu, terkesima sama ketampanan gua yang habis mandi?" tanya Brayen dengan tingkat PD yang tinggi, membuat cacing-cacing di perut Aluna ingin menyembur keluar.
"PD banget lu, siapa juga yang liatin, jijik gua liat muka lo." Aluna mengeluarkan lidahnya, berasa ingin muntah.
"Oh ya?" laki-laki itu tersenyun miring, menanpakkan sosok wajah yang sulit diartikan.
Satu langkah Brayen mendekati Aluna, telak gadis itu ikut mundur kebelakang, Aluna meneguk salivanya yang mendadak menjadi benda padat.
"Jangan macem-macem lo, Bra."
Kening Brayen nerkerut, --Bra dia bilang?-- panggilan macam apa yang barusan ia dengar.
"Apa tadi? Lo panggil gua, Bra?" tanya Brayen shock, "lo pikir gua bahan daleman lo? Panggil gua RIYAN!"
"Whatss? Riyan?" Rania memasang wajah shock, tak lupa dengan mulut yang ikut menganga.
Brayen mengangguk sombong, itu nama yang pas buat dirinya, sebab wajahnya begitu tampan dan memukau.
"Ogah! Kejauhan, nama lo itu Brayen, kenapa gua harus paggil RIYAN?" tolak Aluna mentah-mentah, ia tidak akan setuju nama sebagus itu dipanggilkan pada lelaki menyebalkan yang pernah ia temui, kalau bukan karena takut dengan Ayahnya, tidak akan pernah terjadi pernikahan tadi siang, dan ia akan bebas melakukan apa pun yang ia mau.
"Emangnya nama Riyan nggak cocok buat cowok setampan, gua? Kalau gua hidup di luar negri, pasti cewek-cewek bule yang cantik-cantik pada ngejer-ngejer gua." ekspresinya datar, tapi suaranya penuh dengan nada kesombongan.
"Ha? Bagun woi, udah siang, nggak usah mimpi, angan lo ketinggian, awas ntar pesambar pesawat!" kata Aluna menjatuhkan, laki-laki itu benar-benar tidak sadar diri, terlampau jauh dalam berangan.
"Lo mau macem-macem sama Gua?" Brayen menatap Aluna tanpa minat, "lagian lo apa lebihnya dari gua, cantik enggak, dibilang muka pas-pasan juga enggak, harusnya lo beruntung, gua mau nikahin lo. Mana ada cowok normal yang mau nikahin, lo."
Aluna yang mendapatkan penghinaan beruntun dari Brayen, merasa tidak terima, lalu maju kedepan, menatap Brayen penuh tantangan.
"Kalau nggak ada cowok normal yang mau nikahin gua, berarti lo bukan cowok normal. Lo sendiri kan yang bilang, kalau nggak ada cowok normal yang mau nikahin gua, itu artinya lo bukan cowok normal!"
Brayen berdecak, sial! Ia terjebak sendiri dalam ucapan yang tercetus dari mulutnya. Tak mau kalah, Brayen mencekal kedua tangan Aluna, mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas ranjang, Brayen mendekatkan wajahnya pada Aluna, lalu membisikan sesuatu, membuat Aluna ketakutan setengah mati.
"Jadi, lo aggap gua nggak normal?"
Aluna mencoba mendorong tubuh Brayen, bisa-bisa ia di cap sebagai super emak muda, dan Aluna tidak mau harus menjadi ibu di masa-masa mudanya, harus memasak, mencuci baju, membersihkan ompol sang bayi, bahkan memandikannya, Aluna akan menua dengan cepat, dan Brayen akan semakin mencecarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IMPOSSIBLE ✔
RomanceCerita lengkap ada di Dreame 🌻🌻🌻 "Aku bakal ceraiin dia secepatnya." Ines menggeleng, rasanya itu sangat mustahil. Ia akan menerima dosa yang besar, memaksa sepasang suami istri agar berpisah. "Terlambat, Riyan. Harusnya, kalau kamu benar-benar t...
