Chronophobia

2 0 1
                                    

Oleh: F. adinta

Ia selalu sama. Selalu cantik. Selalu sempurna. Meski kau akan selalu menemukan maskara, eyeliner, dan sebangsanya terselip dalam lipatan kecil tas Pradayang selalu ia sampirkan di bahunya kemanapun ia pergi, aku yakin bukan mereka yang membuatnya bersinar. Ia merekah tanpa mereka asah. Mungkin Tuhan sedang dalam suasana hati yang baik saat menciptakannya. Ya, begitu kentara bahwa Tuhan memang sengaja meraciknya dari berbagai unsur terbaiktanah berwarna-warni menyerupai pelangi yang dipadu setetes anggur Italidengan takaran sempurna yang membuatmu dengki setengah mati. Ah, ia memang menarik. Dan aku, selalu senang menanamkan diriku dalam pikirannya, atau sekedar bergelantung riang di langit-langit kamarnya.
Kakak, apakah aku bisa melewati malam ini dengan baik? tanyanya dengan mata bekerjapan. Ah, ia selalu terlihat lucu di mataku. Persis lima belas tahun lalu.
Tentu saja, jawabku. Kau tahu, tak ada yang bisa menghalangimu.
Aku menatapnya teduh. Ia menatapku sangsi, antara yakin dan tidak yakin. Aku tahu, ia perlu beberapa detik berselang untuk berdamai dengan ketakyakinannya.
Padahal ia benci waktu.
***
Nyeri. Rasanya ada ribuan semut yang secara serentak menelusup dalam aliran darahku, lalu berhenti pada tungkai bawah, menjalar dari lutut hingga tumit. Mereka menggerogotinya dengan rakus, seakan tulang-tulang itu adalah roti manis. Kadang-kadang, semut-semut itu juga bermigrasi ke pangkal paha. Nyeri sekali, begitu selalu keluh kakak.
Aku tak bisa memberi saran yang lebih baik selain menggenggam tangannya dan menghiburnya dengan bahasa rahasia yang hanya bisa kami mengerti. Cryptophasia. Kakak selalu lebih tenang setelah itu.
Bersama-sama, kami akan kembali melenggang ke ruangan yang sama. Ruangan luas putih bersih yang banyak mengorbitkan ballerina-ballerina ternama. Terkadang kakinya masih pincang, namun aku selalu menyediakan bahu dan tanganku untuk memapahnya.
Kami takkan pernah terpisahkan. Tidak bahkan oleh waktu sekalipun.
***
Penonton bersorak-sorai. Gemuruh riuh mereka membahana hingga ke setiap sudut ruang, mencipta pantulan gema yang meloncat-loncat tak beraturan, kadang meletup di satu sisi, kadang melesat di sisi lain. Jika ruangan ini sebuah mulut, mungkin hal pertama yang akan dilakukannya adalah memuntahkan mereka ke luar, ke angkasa, kemana saja, yang penting jauh dari pandangan. Atau bahkan, ruangan ini akan melumat pengunjungnya cepat-cepat sambil mendengus, melipat mereka di bawah gigi taring lalu menggiringnya dalam dentam geraham yang penuh kuman. Untungnya, ruangan ini bukan sebuah mulut.
Aku komat-kamit merapal doa. Kedua tanganku merapat di dada, mempertemukan jemari-jemari bergetar yang selalu basah oleh keringat. Pun ketika ruangan ini berpendingin sejuk. Kutanyakan pada cermin, apakah aku sudah cantik? Apakah aku bisa membawakan tari ini dengan baik? Cermin menolak menjawab. Mungkin ia sudah jenuh. Bagaimana jika tak ada pengunjung yang bertepuk tangan saat aku tampil nanti? Siluet mengerikan itu mulai membayang. Peluhku mengucur deras.
Tiba-tiba rasa hangat itu kembali menjalar. Aku membuka mata. Semuanya akan baik-baik saja, Adik, katamu dengan tatap teduh dan bibir tersenyum. Ah kakak, kau selalu cantik. Tak tertawar bahkan oleh waktu sekalipun.
Kukatakan padaku, semuanya akan baik-baik saja.
***
Aku menyesap anggurku lamat-lamat. Di hadapanku, segelas kecil appetizer Rusia, Truffle Custards with Crab and Caviar, tak tersentuh. Sepinggan Escargot Bourgogane dengan taburan parsley hijau di atasnya lebih menyita perhatianku. Rasanya sungguh geli membayangkan bekicot-bekicot mati yang selalu berkeliaran di tempat busuk itu kini saling beradu tempat di mulutku.
Aku melempar mata ke jendela besar yang membatasiku dengan rintik salju di luar sana. November yang menggigil. Kurapatkan syal di leherku seakan ikut merasakan gemelugut orang-orang yang berlalu-lalang. Restoran ini cukup dekat dengan Bolshoi Theatre, lokasi teater bersejarah terkenal di kota ini, Moskow. Ah ya, jangan heran mengapa aku lebih memilih restoran Perancis sekalipun bertandang ke Rusia. Aku tak begitu suka kentang. Juga kaviar.
Aku bersungut. Membaca kepak malam di ujung sini, aku memperkirakan setidaknya pertunjukan balet The Sleeping Beauty di Bolshoi Theatre akan dimulai dua jam lagi. Ada banyak waktu tersisa sebelum melukai diriku disana. Baiklah, mari kita pikir apa yang bisa kita lakukan sementara menunggu. Menunggu? Itulah kenapa aku benci waktu. Ia merampas hidup kita dan mempermainkannya tanpa perasaan.
Kureguk tetes terakhir red wine-ku. Mungkin berjalan keluar bisa sedikit membunuh waktu.
***
Aku terperangah. Mataku tak mungkin salah. Sekalipun sudah menangkap berjuta wajah, aku tak mungkin salah mengenali rautnya. Kau tahu, di dunia ini tak mungkin ada dua wajah serupa kecuali mereka kembar identik. Dan dia, kakakku yang kulihat sekelebat lalu, adalah saudara kembarku yang lahir 5 menit lebih awal.
Aku bergegas. Menerobos kerumunan pengunjung yang tiba-tiba terlihat dua kali lebih banyak. Mereka menatapku marah sambil bersepakat membelah diri menjadi lima. Aku tak leluasa memecah. Mereka meledak lima kali lipat lebih banyak. Aku terhimpit. Sesak.
Kak, apa kau mengikutiku? Suaraku sudah serak. Bayangmu tak ada, berhenti di depan poster besar yang membingkai sesosok ballerina anggun. Svetlana Zakharova. Aku terbelalak. Gaun yang dipakai Zakharova di poster itu sama dengan gaun yang kau pakai sekelebat lalu. Mataku memanas.
Lakukan, atau Mama akan membunuhmu, suara itu tiba-tiba terngiang jelas di gendang telingaku.
***
Ma, lutut Keyna sakit, ujarmu dengan berlinangan air mata. Raut sumringahku yang membuncah ketika setengah jam lalu berhasil memukau penonton di panggung ini sontak memudar. Kau menatapku sambil mendesiskan sesuatu. Aku mengerti. Cryptophasia.
Ma, Kanya sudah cerita kan kalau kaki kakak selalu nyeri? Kasihan kakak Ma, kakak biar istirahat aja ya? Kanya kan tadi udah bagus narinya. Kuharap bola mata beningku bisa meluluhkannya.
Mama menatapku tajam. Kalian berbeda, desisnya. Aku menciut.
Kau mengusap air mata yang mulai bergulir di pipiku. Sudah ya adik, kaki kakak sudah tidak nyeri lagi. Aku tahu kau berbohong.
Terbukti, tiga langkah berjalan badanmu sudah ambruk lagi.
Aku menjerit.
Tapi mama tak goyah.
Keyna, kau pasti bisa. Lakukan, atau Mama akan membunuhmu, ancam mama.
Aku bergidik. Di tangan mama, pisau lipat kecil berkilat kejam.
***
Svetlana Zakharova tampil memukau. Gerakannya gemulai, menyihir mata ribuan penonton dengan piawai. Entah, mana yang lebih piawai antara dia dan Anna Pavlovna Pavlovaballerina Rusia idolamu yang gambarnya bisa kutemukan dengan mudah dalam kamar, buku, dan kotak pensilmu. Sayangnya, aku tak bisa mengajakmu berdebat lagi perihal siapa lebih piawai dari siapa.
Baru sepuluh menit, Zakharova sudah berhasil meruntuhkan ruangan. Tapi tunggu! Ia bukan Zakharova! Aku tercekat. Kutajamkan pandangan, mengusir kabut-kabut kelam yang entah kenapa berhamburan masuk mengaburkan pandangku. Tidak! Aku tak mungkin salah. Ia, yang berdiri memukau di panggung sana, adalah dirimu.
Tiba-tiba bayangan lima belas tahun lalu itu kembali membayang sebelum sesakku mencapai puncak. Kau juga merasakannya, Kak?
Kau tak menjawab. Tetap anggun berjibaku dengan panggung dan langkah waktu. Entah apa yang membuat bayangmu seakan mengecil, disusul oleh gelombang perubahan latar yang menggiringku kembali pada kenangan naas yang ingin kukubur rapat-rapat.
Sayang sekali, waktu tak mengizinkannya kabur.
Aaaaaa!!! Tiba-tiba decak kekaguman yang sepintas lalu masih mengudara berganti menjadi pekik mengerikan yang memilukan. Kudapati diriku tengah asyik bermain puzzle. Aku ingin menonton kakak, Ma. Tak perlu, susun saja puzzle-puzzle ini. Mama tak mau punya anak bodoh! bentaknya. Dan tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berkhayal menontonmu di sela-sela puzzle berantakan yang terlalu rumit untuk disusun.
Sudah hampir sempurna, bisikku senang. Tapi tiba-tiba, puzzle itu kembali berantakan tertendang kaki, disusul oleh derap kaki-kaki selanjutnya yang mengarah pada satu tempat. Bawah panggung.
Aku tak sadarkan diri saat menyadari bahwa kau yang tergeletak bersimbah darah disana.
***
Osteosarkoma. Mataku mengerjap, menarik-narik baju Mama yang tengah berbincang dengan dokter, mengharap ia mau menjelaskan artinya padaku. Mama mendelik. Kau lusuh sekali! bentak Mama. Lekas pulang, mandi, belajar. Mama tak mau punya anak jelek dan bodoh! Aku mengkerut. Mama selalu begitu. Padahal semua orang selalu bilang aku cantik. Nilai-nilai pelajaranku juga selalu tinggi. Enggan berdebat, aku beringsut pergi sambil melongokkan kepala sejenak ke kamar kakak. Rumah sakit ini cukup nyaman.
Kuharap kau segera sadar kakak, bisikku dengan tangan terlipat di dada. Kakak tak menyahut, mungkin selang-selang yang mengerubuti tubuhnya menghalanginya untuk menjawab.
Belakangan aku tahu bahwa osteosarkoma adalah istilah untuk kanker tulang. Aku terlambat menyadari bahayanya sampai ia, dengan mata kejamsekejam dan sekelam mata mamadan bibir terkatup rapat, mengoyak organ tubuh kakak dan menarik nyawanya tanpa suara.
Tak apa adik, besok kita latihan ballet lagi, bisikmu sedetik sebelum tidur. Dan aku menyesal mengizinkanmu tidur. Kau tak pernah bangun lagi.
Sudah stadium lanjut, Bu, kata dokter sambil menunjukkan beberapa gambar buram yang tidak kumengerti. Ia menderita penyakit ini jauh sebelum kecelakaan itu. Apakah ia tak pernah mengeluhkan nyerinya pada Ibu? Kecelakaan kemarin sangat fatal. Seharusnya ia tak diizinkan menari dulu, kata-kata dokter membuatku memupuk kebencian yang semakin membatu.
Mama hanya mematung. Kubayangkan, mata kelam mama membubur dan membentuk lelehan besi panas yang mengeras menjadi pisau, mengejar-ngejar kakak yang berlari terseok nyeri ke arah jurang. Ia memaksa kakak menari. Mama memaksa kakak menari.
Mama melirikku tajam. Aku tahu, suatu saat lirikan itu juga akan membunuhku.
Sebelas lilin, yang hanya menyala dalam khayalku, terlihat redup. Selamat ulang tahun, Kak.
Dan aku semakin membenci waktu yang turut andil merenggut nyawanya.
***
Selamat ulang tahun, Kakak. Aku tersedu.
Inilah hadiahku malam ini. Kau memelukku. Lilin ini sudah bertambah lima belas. Kita mulai bercakap, menceritakan desau angin yang membiru disapu malam. Ia pasti kedinginan Kakak, kataku bersikeras. Tak mungkin, aku sudah membawanya ke sini bersamaku, katamu tak mengalah.
Kami menceracau tak jelas. Membahasakan kerinduan lewat sorot mata dan seru bibir. Jika orang lain memeliharanya selama delapan tahun, maka kami merawatnya hingga kini. Twin baby secret language. Bahasa yang hanya kami mengerti. Meski kami tak lagi bayi.
“Excuse me. Are you okay, Miss? sikutan itu menggangguku.
Aku menoleh marah.
“Im sorry. You're sweating and saying weird things, jelasnya cepat sebelum aku menelannya bulat-bulat. Aku melebarkan pandangan. Beberapa orang tengah mengawasi kami.
“No, Im okay. Thank you, kupasang senyum semanis mungkin sambil memintanya menuangkan red wine di gelas kosongku. Pelayan itu pergi setelahnya.
Aku tersenyum penuh maaf pada orang-orang yang masih lekat mengawasiku. Mereka mengerti dan segera kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Kutarik napas panjang. Ternyata segalanya maya.
Kuedarkan mata ke sekeliling ruang. Restoran ini mulai terlihat sepi. Mungkin pengunjungnya sudah bergegas ke Bolshoi Theatre. Enggan, kulirik jam besar yang menggantung di sudut ruang. Pertunjukannya dimulai tiga puluh menit lagi.
Aku mengusap peluh di dahiku. Bayangan Zakharova dan selang infus masih menari-nari di pikiran.  Segera kutekan tombol ponsel cepat-cepat.
Selamat malam, bisakah saya memesan tiket ke Indonesia? Malam ini juga.
Sejujurnya, aku benci ballet.
***
Ini bukan ilusi seperti yang kau yakini. Segala yang kau lihat itu nyata, adikku sayang. Aku memang membujuk waktu untuk mengantarkanmu melangkah seratus dua puluh menit lebih awal dibanding manusia lain yang saat ini tengah berdesak-desakan di depan Bolshoi Theatre. Aku ingin kau melihatku bergaun ballet secantik Zakharova yang saat ini tengah kebingungan mencari gaunnya. Mungkin aku harus minta maaf karena meminjamnya tanpa izin. Tapi ini hari ulang tahunku. Aku boleh meminta sedikit keistimewaan, bukan? Sebentar saja.
Aku menggedor jendela pesawat yang kau tumpangi, tapi kau tak menggubrisnya. Mungkin kau lelah. Kukatakan pada angin agar tak membuatmu khawatir. Ia menyusup lewat sela-sela sekat jendela sambil menarikku masuk. Aku kini kuasa bergerak.
Tanganku terjulur. Tapi kau bergerak sebelum jariku menyentuh. Baiklah, malam ini aku takkan mengganggu tidurmu. Kukatakan pada waktu agar membawamu ke dunia indah yang tak akan kau temui kesedihan di dalamnya. Aku tahu kau lelah. Meski dipoles banyak perona, kau tak pernah berhasil menyembunyikan kekalutanmu dariku.
Kak, jangan tinggalkan aku. Napasmu memburu.
Cepat-cepat kuminta waktu membawamu ke dunia yang lebih indah.
Kau sedikit lebih tenang.
Lihatlah adikku, waktu yang kau benci dengan segenap jiwa kini banyak mengulurkan tangannya. Ia kawan karib kakak. Ia yang mengajari kakak untuk tidak pernah menyesal. Kau tahu, di surga kakak bisa menari lebih indah dengan disaksikan ribuan malaikat yang sepuluh kali lipat lebih banyak dari mereka. Kaki kakak sudah pulih. Dan kakak jauh lebih senang di sana. Kau juga harus menyusul kakak, mengerti? Jangan seperti mama.
Mataku basah, terbayang wajah mama yang meringkuk ketakutan di kamar pengapnya. Kadang aku menyesal telah membuat mama menjadi gila.
Kak, kita menari lagi?
Aku memelukmu erat. Igaumu menenang. Baiklah adik, malam ini kakak akan memelukmu terus.
Senyummu mengembang.
***
Ini malam terbaik dalam hidupku. Rasanya baru malam ini aku kembali bermimpi indah setelah berkubang dalam lingkaran mimpi yang sama selama lima belas tahun. Kukenang memori semalam yang mulai sedikit luntur. Aku serasa berada dalam sebuah kubah raksasa berbentuk setengah bola, yang di dalamnya berisi aneka jamuan dengan akar-akar pepohonan yang menggantung di langit-langit. Aku bebas memetik apapun yang kusuka. Yang membuatku terpana, kau juga hadir disana dengan gaun ballet paling indah yang pernah kulihat.
Seseorang menawariku minuman berlumut. Aku menyesapnya. Rasanya sedikit asin. Tapi tubuhku semakin segar.
Ia menawarkan minuman yang sama kepada setiap orang yang ada di sana. Siapa dia? Kau membawaku menemuinya.
Kanya, ini waktu. Sang waktu mengulurkan tangan, ramah.
Ragu-ragu kuulurkan tanganku. Ia menyambutnya dan segera menarikku ke sebuah ruang sempit berwarna hati yang atapnya berdetak-detak. Aku bertanya lewat mataku.
Lihat saja, katanya misterius.
Kami lalu menyaksikan angkasa raya yang bertasbih mengiringi jutaan komet yang berkejaran riang, lalu berhenti pada sebuah lingkar atmosfer berbuih yang menyembunyikan sebongkah bola bulat serupa bumi di dalamnya. Komet-komet itu berguguran dan terpental kembali menjadi puing-puing kristal yang menyulap angkasa bertabur bintang. Hanya ada dua komet yang berkeras. Keduanya mencungkil atmosfer dan susah payah menenggelam ke dalam.
Aku masih tak mengerti. Tapi waktu kembali merenggut perhatianku dengan mengarahkan mataku pada sesosok perempuan muda yang terengah-engah dengan baju bersimbah peluh dan suara terkuras habis.
Itu ibumu, kata waktu.
Dan dua bayi jelita susul-menyusul menyembul di pangkal pahanya.
Dan itu kita, serak suaramu tiba-tiba sudah memerindingkan tengkukku.
Aku terbangun.
***
Ada beragam wine yang menjejal di kulkasku. Mungkin menyesap segelas Cabernet Sauvignon sambil menggigit beberapa potong chocolate cookies cocok untuk menikmati malam ini. Tapi tidak. Mereka terlalu tenang. Kuraih sebotol vodka dan menuangkannya dalam gelas kaki panjangku.
Dering ponsel memanggil bertubi-tubi. Kuputuskan untuk membuang baterainya. Ah ya, mungkin lebih baik jika kumatikan aliran listrik rumah ini. Tak baik ada orang melihatku dalam kondisi begini kisut, meringkuk kuyu di bawah meja makan sambil menenggak vodka dengan mata menyala dan rambut awut-awutan.
Aku adalah perempuan sempurna. Kutenggak sebotol lagi.
Mungkin tinggal dua tahun, begitu kata dokter saat kudesak mengenai kemungkinanku bertahan. Selalu, aku benci ditindas waktu.
Kunyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul, membuatku terbatuk kecil. Samar-samar, semburat lampu di ujung jalan menembus tirai dan memberi cahaya pada foto dua ballerina kecil. Aku terguguk. Aku tak pernah suka ballet.
Mungkin malam ini aku harus menulis wasiat, gumamku. Jendela berderak. Aku tak peduli. Kuseret langkahku menuju meja kecil di samping kulkas. Ada secarik kertas disana. Tapi tak ada pulpen.
Aku mulai menghitung. Menaksir harga rumah mewah di kawasan elite yang sekarang kutinggali. Mengira-ngira bunga deposito dan tabungan yang tersebar di berbagai bank. Kembali kukepulkan asap dan terbelalak kaget. Seharusnya tak perlu heran. Dengan ketenaranku, aku sanggup membeli Bali kapanpun aku mau, tawaku sumbang.
Dan apa yang harus kulakukan dengan ibuku? Menebusnya di rumah sakit jiwa? Mungkin aku harus memasukkannya ke panti jompo. Kubayangkan aku mendatanginya tanpa berias. Apakah ia akan mengutukku?
Ballerinaku sayang, ballerinaku sayang.
Aku menggigil mengingat tatap gilanya sesaat sebelum mendekam di kamar jiwa. Ada rona bangga di matamu. Apakah aku buah obsesimu, Ibu? Kuturunkan semua jam di rumah ini dan membantingnya keras-keras.
Aroma vodka menguar. Dengan perlahan, kuiriskan pisau lipat kecilyang selalu membuatku gemetar setiap kali melihatnyake nadi pergelangan tanganku. Darahnya merembes, bercampur dengan sisa vodka yang membuatnya sesegar cherry.
Aku ingin menikmati kematianku dengan sempurna. 
Kau sekarat. Sudah kukatakan, aku pasti membunuhmu, waktu.
***
Sudah kukatakan, aku takkan menghalangimu, sesal waktu.
Aku terkikik. Badanku meleleh berulang kali, kemudian menyatu kembali, lalu meleleh lagi, bercampur dengan bara panas lautan darah yang berbau semanis vodka. Kadang-kadang aku ikut meletup dan mendidih di dasarnya.
Aku mendongak sedih. Kau berdiri anggun di atas sana.
Jangan memandangiku seperti itu, kakak. Aku manusia sempurna, tawaku terbahak. Sumbang.
Kuali besar ini lalu menenggelamkanku hingga dasar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 26, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kolase Waktu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang