Ini adalah kisah yang tak lekang oleh waktu; cerita tentang dua sejoli yang dipertemukan oleh takdir, dipelihara oleh nurani, dan dipisahkan oleh keabadian.
Sang marquis... ah, bukan, kini dia bukanlah seorang aristokrat lagi, hanya seorang pria tanpa kekuasaan dan martabat setelah kejatuhannya ke dalam kutukan tak berujung. Mari kita panggil saja dia dengan sebutan 'dia'.
Dia yang terkutuk menyeret tubuhnya yang terasa berat dan lemah menuju sudut ruangan. Tenggorokannya kering dan panas tetapi ia menggigil kedinginan. Matanya nanar dan merah. Ada bekas air mata menggaris di pipinya, tetapi dia sudah tidak menangis lagi, meski perih di rongga rusuk terasa lebih mencekik daripada kehausan akan darah. Sia-sia saja. Siapakah yang akan mendengar rintihannya di tempat sepi, dingin, dan gelap ini? Tidak ada, mungkin Tuhan pun tidak.
Di sudut ruangan dia ambruk, meringkuk bergeming. Di hadapannya hanya ada lantai batu tertutup lumut, tetapi dia melihat hutan luas dan sebuah danau berair jernih terhampar. Ada sebuah perahu terikat di samping dermaga yang dibangun mengikuti tepi danau. Di situ seorang wanita berjalan; pita topinya berkibar di belakangnya seiring angin sepoi bertiup. Rasanya rindu.
Dia membatinkan nama wanita itu berkali-kali sebelum tertidur, mungkin untuk terakhir kali.
Kehangatan menyelimuti. Samar-samar dia mencium wangi parfum seorang wanita yang tidak asing baginya. Sesuatu, atau seseorang, menyentuh wajahnya yang kotor dan mengusap pelipisnya sembari menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi sebagian muka. Pikirnya ini mimpi, dan jika ini mimpi, maka ia tidak ingin kembali ke ruang bawah tanah dingin dan gelap itu.
Akhirnya dia terbangun juga, mungkin karena haus, mungkin karena ia ingin melihat wanita itu.
"Valerie," dia berbisik, "Valerie."
Dia melihat siluet sang wanita bergerak dan sesuatu menetes ke ujung bibirnya. Cairan itu mengalir memasuki mulutnya dan dia mencium bau darah. Darah! Seketika ia mengecap. Haus perlahan memudar seiring dengan masuknya cairan berbau anyir itu ke tenggorokan. Kesadarannya kembali naik ke permukaan.
Ketika dia menyadari apa yang terjadi, dengan segera tetapi perlahan dia mendorong tangan wanita itu menjauh. Kekecewaan akan diri sendiri menjalar di dalam urat nadinya dan dia menangis dalam diam. Sang wanita membebat tangannya dengan kain dan menyeka air mata si terkutuk, orang yang sudah bersumpah mati untuk selalu bersama. Terlalu lemah untuk bangun, si terkutuk hanya menggenggam dan mencium jari-jari kurus itu berkali-kali.
"Aku menunggumu datang," si terkutuk berkata, "tapi aku juga tidak ingin kau berada di sini. Apa kata orang nanti?"
"Biar saja mereka bergunjing," sang wanita menjawab, "bukan mereka yang aku pilih sebagai pendamping hidup."
"Mereka bisa membunuhmu."
"Mereka sudah membunuhku ketika mereka memilih memasukkanmu ke sini."Wanita itu merebahkan diri, meletakkan kepalanya di dada suaminya. Tanpa berkata-kata si terkutuk melingkarkan tangannya di sekitar badan wanita itu, memeluknya erat.
"Maaf," dia berkata, "aku gagal menjadi suami yang baik untukmu."
Sang wanita menggelengkan kepala, "aku akan bermalam di sini hari ini. Jangan usir aku atas alasan apapun."
Maka di hari-hari berikut juga si wanita akan datang. Terkadang dia membawa darah binatang, terkadang darahnyalah yang diminum oleh. Mereka lalu akan berbicara tentang masa depan, masa ketika keduanya akan hidup berdampingan, jauh dari cemoohan orang.
Sampai pada suatu hari bukanlah derit rintih pintu yang datang, melainkan gemuruh teriakan orang-orang banyak, dan derap sepatu memukul lantai batu. Pintu dibanting terbuka dan bersamaan dengan cahaya obor yang menyeruak masuk, sumpah serapah dan kutukan membanjiri ruangan. Dia yang terkutuk menatap mereka dengan ketakutan, tetapi di relung hatinya dia tahu bahwa cepat atau lambat hari ini akan datang juga. Namun, kepasrahan itu berubah menjadi berang ketika mereka menghempaskan satu-satunya wanita yang dia cintai ke dalam ruangan dalam keadaan hina. Rambutnya tergerai, pakaiannya sobek, dan badannya dipenuhi luka. Seketika dia berlari, tetapi sebelum dia sempat menyelamatkan si gadis, mereka membunuh si wanita dengan senapan di depan mata. Murka membuncah. Disertai raungan bagai binatang, dia menerobos muntahan peluru-peluru perak dan membantai semua orang yang ada di situ. Darah hitam bercampur darah merah, teriakan kemarahan berubah menjadi jeritan minta tolong. Mereka yang tadinya mengacungkan senapan kini lari kocar-kacir.
Dia yang terkutuk kini berdiri dalam kesunyian. Kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan bercampur aduk di dalam tatapan kosong. Dalam diam dia mengangkat badan tak bernyawa milik kekasihnya satu-satunya itu, lalu pergi meninggalkan ruangan gelap tak berjendela, saksi bisu tragedi dua orang yang hanya ingin bersama.
Kelak 100 tahun kemudian, dia yang terkutuk akan dipanggil menjadi dia yang dihormati, raja dari mereka yang dikutuk dan diasingkan, dan orang-orang akan mengenalnya dengan namanya: Johann.
--Fin--

YOU ARE READING
S E W A K T U
NouvellesCollection of Short Stories. More specifically, I compile and republish the short story I have posted before (they will be unpublished) and perhaps will add some more in the future. Sewaktu means 'one time' in Indonesian, or sometimes 'the same time...