Author Pov
Bocah lelaki itu duduk kedinginan dengan keadaan basah kuyup di sudut depan gerbang rumah si Nyonya Besar saat Osean baru turun dari taksi. Padahal sore hari itu cerah dan tidak ada sama sekali tanda-tanda hujan baru saja turun.
Iba melihat wajah bocah itu yang murung, Osean memutuskan untuk mendekat.
"Kenapa disini sendirian? Kau sakit? Kenapa bajumu basah begini?"
Bocah itu tidak menjawab melainkan hanya memeluk kedua kakinya ketakutan.
"Dimana rumahmu?" sekali lagi Osean bertanya, berniat untuk mengantarkan bocah malang itu untuk pulang jika memang dia tersesat.
Sayangnya si bocah menggeleng cepat setelah menunjuk rumah megah yang ada di seberang jalan sana dengan papan lumayan besar bertengger pada sisi pagar bertuliskan Pengacara.
"Biar kuantar kau pulang, ayo!" tangan Osean terulur ke depan namun lagi-lagi bocah itu menggeleng menolaknya. "Kenapa?"
"Ayah akan marah jika tahu bajuku basah kuyup begini."
"Jika tahu Ayahmu akan marah, kenapa kau masih bermain air?"
"Teman-teman menyiramku dengan seember air saat kami bermain di taman."
"Kau nakal ya?"
Bocah itu memasang wajah murung kemudian menunduk.
"Aku memukul salah satu wajah mereka."
"Hey, kau tidak boleh berkelahi, jangan menyakiti orang lain seperti itu," Osean memperingatkan.
"Aku kesal karena teman-teman bilang ibuku seorang pelacur."
"Hah?"
"Mereka kerap membulliku."
Terdiam sesaat memandang melas bocah itu, Osean kemudian mengusap lembut belakang kepalanya sambil berusaha tersenyum.
"Kau tidak bisa memilih dari keluarga mana kita berasal, begitu pun dengan kedua orang tuamu. Apapun profesinya dan apapun status mereka, mereka pasti menyayangimu. Kau juga tidak perlu mempedulikan ucapan teman-temanmu karena mereka tidak tahu betul bagaimana kehidupanmu. Ayo berdiri, biar kukenalkan kau pada adikku."
Begitulah pada akhirnya Osean membawa bocah bernama Taeyong itu untuk ikut bersamanya dan meminjamkan baju Yukhei untuknya. Kemudian dia membiarkan kedua bocah itu berkenalan lalu bermain di halaman belakang rumah si Nyonya Besar.
Hampir setiap hari Taeyong akan menunggu Osean datang di depan gerbang rumahnya pada sore hari. Dari arah seberang jalan, dia akan berteriak memanggil Osean hanya untuk sekedar membantunya menyeberangi jalan lalu bermain dengan Yukhei. Ayahnya yang seorang Pengacara terkenal rupanya telah bercerai dan menikah kembali— membuat Taeyong benci berada di rumah bersama seorang ibu tiri.
Kedekatan semacam itulah yang membuat Osean menganggap Yukhei maupun Taeyong seperti adiknya sendiri. Mereka bahkan kerap pergi bertiga ke sebuah kedai di pinggir jalan hanya untuk sekedar makan ramen pedas disana.
Hingga suatu ketika, Taeyong yang beranjak besar mulai menyadari ada kejanggalan yang terjadi di rumah si Nyonya Besar. Dia yang tadinya beranggapan bahwa Osean adalah kakak kandung Yukhei, diam-diam mencurigai aktifitas lelaki itu yang kerap keluar masuk ke dalam kamar si Nyonya Besar. Parahnya, dia pernah tidak sengaja melihat keduanya tengah bermesraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
White and Black (HUNRENE)/ MATURE CONTENT 21+
FanfictionKehidupan Irene berubah setelah seorang mucikari berhasil menjualnya pada sosok lelaki tampan pecinta seks. Beberapa masalah mulai muncul satu-persatu seiring berjalannya waktu. Lambat laun, rahasia besar yang sejak dulu tersimpan rapat pun mulai te...
