Assalammu’alaikum papa, mama, dan adek Mira...
Seperti bulan-bulan yang sudah lewat, ini foto Micah di bulan ini. Tia mengerti papa dan mama belum mau menerima telepon Tia. Tapi buat Tia, mama dan papa tetap yang paling patut Tia kabari setiap saat. Seperti setiap surat Tia, kali ini pun Tia mau minta maaf sama papa dan mama. Dan Tia pun merasa, betapa kata itu jauh sekali dari cukup untuk dipohonkan ke papa dan mama.
Selain dari mengabarkan tentang Micah, di surat ini Tia juga ingin mengabarkan bahwa insya Allah Tia akan menikah dua minggu lagi. Itulah alasan mengapa Tia menelepon mama dan papa beberapa minggu yang lalu, untuk meminta izin dan restu papa dan mama. Maafin ya pa, ma, sungguh sang pendosa ini tak dapat berhenti mengatakan hal yang sama ke mama dan papa. Yang akan Tia nikahi bukan ayah dari Micah. Nama calon suami Tia, Eric Johnson. Dia adalah sahabat lama, dan dia sudah masuk Islam hampir setahun yang lalu. Ericlah yang banyak mengajak Tia kembali untuk mengenal Tuhan pa, ma. Dialah yang membantu Tia untuk tidak tenggelam dalam keputus asaan. Maafin Tia karena Tia mengambil keputusan ini tanpa menunggu redamnya marah mama dan papa atas kelakuan Tia yang telah mempermalukan papa dan mama. Tapi ma, pa, yang Tia sadari sekarang adalah, Tia gak bisa memberhentikan kehidupan dari terus berlangsung. Kesalahan Tia adalah kesalahan yang amat sangat besar, tapi untuk putus asa akan semuanya, yang Tia korbankan bukanlah hanya kehidupan Tia, tapi kehidupan Micah ke depan.
Eric adalah keturunan penuh African American, pa, ma. Mungkin detail ini malah membuat papa dan mama lebih bingung lagi. Tapi papa dan mama dulu selalu membesarkan Tia dengan tidak pernah mempermasalahkan warna dan suku. Disini walaupun terkadang masih ada masalah tentang ras, tetapi secara umum masalah itu hampir tidak ada lagi. Dia seorang yang berkarakter baik, bahkan imam kami pun yakin akan itu, karena Eric pernah tinggal di rumah imam kami ketika ia baru pindah ke West Lafayette.
Sampai disini dulu kabar dari Tia. Tia belum mulai mengambil sekolah penuh lagi, tapi secepatnya Tia bisa kembali ke CS untuk menyelesaikannya, Tia akan melakukannya. Tia sadar sekarang, bahwa walau terkadang suatu kesalahan seperti mampu memberhentikan semua impian, tetapi kesalahan pun adalah kesempatan untuk meraih impian itu dengan cara yang lebih baik lagi. Suatu saat nanti, insya Allah, Tia harap Tia mampu membuat papa dan mama bangga lagi sama Tia. Walau gunung itu terlihat terlalu tinggi, pa, ma, Tia akan daki. Sungguh, doakan Tia, Tia akan daki.
wassalam
love and miss you much,
Tia
KAMU SEDANG MEMBACA
What If?
Ficção AdolescenteCerita ini ttg perjuangan seorang wanita yg hamil diluar nikah ketika sedang kuliah tehnik di luar negeri. Peperangan akan rasa berdosanya, ditumpuk dengan pengasingan keluarganya yg ia merasa permalukan, dan dicampur dengan pertanyaan mengapa harus...
