Act 05

415 26 3
                                    

Babak V
Adegan I

Setelah kejadian eksekusi itu, Rilliane mulai melarikan diri dari kerajaannya. Ke tempat yang ia kenal sebelumnya, namun cukup jauh dari kerajaannya. Iapun mencoba hidup menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menjejakkan kakinya ke arah bangunan biarawan.

Clarith

(Menghampiri Rilliane) "Aku tidak pernah melihatmu disini..."

Rilliane

"Ah... Maaf.. Aku tidak begitu tahu banyak hal... Aku baru pindah di disini..." (Lirihnya dengan pelan)

Clarith

"Tidak apa-apa.. Biarawan kita selalu terbuka untuk menerima pendatang baru... Siapa namamu?"

Rilliane

(Berkata ragu, berusaha menyembunyikan identitasnya) "Rin."

Clarith

(Mengangguk) "Rin.. Senang bertemu denganmu.. Aku Clarith..."

Rilliane

"Clarith..." (Melirih pelan. Clarith menatapnya dengan sedikit bingung)

Rilliane

"Tidak perduli orang seperti apa aku... Bahkan jika tak dapat dipercaya bahwa aku terkutuk... Kamu akan selalu memperlakukanku dengan baik, benar?"

Clarith

"Ya, tentu saja."

Rilliane

"Terimakasih." (Tersenyum simpul)

Clarith

"Senang sekali kamu bisa bergabung, Rin."

Babak V
Adegan II

Di sebuah pelabuhan di pinggir kota. Terdapat seorang gadis sedang merenung. Dia membawa sebuah botol kaca dengan secarik surat di dalamnya.

Konon, ada mitos disana mengatakan, jika kamu menulis permohonanmu di secarik kertas, lipatlah dan masukkan di dalam sebuah botol kaca. Lalu hanyutkanlah botol itu di lautan ini, maka permohonanmu akan terkabul suatu hari nanti.

Rilliane

"Allen... Aku masih ingat betul, rahasia yang ada di lautan ini. Kita pernah kesini dulu, bukan?" (Rilliane berhenti, menatap sayu ke arah lautan)

Rilliane

"Sekarang tanpamu, di sini hanya aku seorang diri. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku kesepian, jadi aku kemari dan menyampaikan kerinduanku ini."

Rilliane

"Aku baru menyadari kalau aku tidak pernah sendiri. Aku memilikimu. Kau selalu ada di sisiku, di sepanjang waktu. Dan kau rela lakukan semua hal hanya demi diriku seorang sampai pada saat terakhir.. Padahal, aku hanya memperhatikan diriku sendiri dan memberimu kesulitan."

Rilliane

"Allen... Kenapa kamu tidak pernah mengeluh sekalipun padaku? Padahal aku ini sudah egois. Tapi kau selalu setia di sisiku." (ucap Rilliane seraya terisak, menahan air matanya)

Rilliane

"-Aku menyesal, Allen. Baru kusadari saat semuanya telah berakhir, betapa jahatnya diriku ini. Memang, penyesalan selalu datang terlambat." (Air mata Rilliane mulai menetes di pipinya)

Rilliane

"Aku rindu padamu, rasanya aku ingin memutar kembali hidupku supaya bisa melihatmu lagi." (Rilliane jongkok di atas pasir pantai)

Rilliane

(Menghanyutkan botol kacanya ke atas lautan)

"Mengalirlah bersama ombak laut,
Botol kaca yang penuh impian dan air mata,

Pergilah menuju ke cakrawala,
Dan hantarkanlah impianku padanya."

(Riliane memandang botol kacanya yang telah terhanyut ombak besar, lalu tersenyum puas)

Rilliane

"Andai kita bisa terlahir kembali... Aku ingin bersamamu waktu itu."

(Rilliane terduduk begitu lama memandang arah lautan. Ia tidak menyadari bahwa Clarith berdiam-diam mendekat ke arahnya)

Clarith

"Ada hal yang harus kusampaikan padamu." (Desisnya pelan. Rilliane belum menoleh ke arahnya)

Clarith

"Aku telah mendengar pengakuan dosamu pada tengah malam.

Aku tak bisa percaya, ternyata kamu adalah Putri Iblis itu.

Kau adalah orang yang menghancurkan negeriku.

Kamu adalah orang yang membunuh Michaela, sahabatku!"

Rilliane

(Berbalik dan menatap ke arah Clarith) "Clarith... Aku berharap itu tidak membuatmu murka terlalu dalam. Tapi aku tak punya kekuatan apa-apa... Maka lakukan sekarang juga... Balaskan dendanmu padaku."

Clarith

(Mengarahkan pisaunya pada Rilliane, bersiap-siap untuk menusuknya. Berdiam beberapa saat, lalu ia membanting pisaunya jauh-jauh)

"Tidak bisa."

(Ia segera memeluk Rilliane, keduanya menangis terisak-isak)

(...)

Clarith

(Narator) "Di depanku ini adalah seorang gadis sepertiku.

Gadis yang sangat, sangat kesepian.

Hidup sendiri di dunia kita.

Adalah hal yang cukup menyedihkan."

(Berbalik. Layar atau latar belakang panggung menjadi hitam)

Clarith

(Narator) "Gadis yang tak bisa melakukan apapun itu.

Hari demi hari mulai berubah, sedikit demi sedikit.

Hidangan brioche yang dibuatnya,
Menjadi sangat enak di tangannya.

...Dan beberapa hari ini pula, aku sering mendapatkan penglihatan aneh.

...Tapi aku masih bertanya-tanya.
Siapkah anak laki-laki yang mirip dengannya itu?"

- Selesai -

🎉 Kamu telah selesai membaca Sebuah Kisah yang Hilang - Kerajaan Lucifenia 🎉
Sebuah Kisah yang Hilang - Kerajaan LucifeniaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang