#Meets

15 3 0
                                    

Chapter five

Fanny yang tidak sadarkan diri sudah dibawa oleh Farka kekamarnya. Wajah Fanny pucat pasi dan dingin seolah orang mati. Farka yang mengejar Rai yang mau mengambil obat untuk Raja terkejar oleh Farka. Farka berkeringat dan kelelahan, ia menarik nafas. Rai bertanya-tanya.

"Paman, Put-ri Fanny-" Ujar Farka yang sedang menjelaskan namun tidak dapat dilanjutkan, Paman Rai yang mendengarnya separuh langsung mengerti dan berlari menuju kamar Fanny. Fanny dijaga oleh para pelayan, ia menggigil dengan kuat, Farka dan Rai sudah berada dikamarnya dan mendekat.

"Paman- Farka- jangan, jangan beri-tahu yanglain" Ujar Fanny terputus-putus, ia seolah sedang demam tapi kedinginan mungkin semacam penyakit yang terasa panas yapi dingin atau terasa dingin tapi panas (Meriang maksudnya)

Cklek!

Gyna keluar dari kamar papanya, Riani yang masih berdiri mengawasi menengok kearah pintu, tidak lama setelah Gyna keluar, Riani ikutan keluar kamar papanya.

Bruk!!!

Seketika terdengar suara jatuh barang, Riani segera mendekat dan mengintip dari jarak dekat, ia melihat Gyna terus meminta maaf kepada seorang pria berkacamata, buku yang dibawa pria itu terjatuh, Gyna membantunya, mungkin karna kesal ia sampai tidak melihat kedepan saat jalan sedangkan pria itu membawa setumpuk buku yang menutupi wajahnya jadi susah meliahat kedepan.

Siapa pria itu? Hah?! Batin Riani yang terkejut, ia mengingat pertemuannya dengan para pangeran salah satunya, pria yang ditabrak Gyna, Rava. Mereka sudah disini? Tanya Riani dalam hatinya tidak percaya.

Wa wa wa wa wa

Dari arah berlawanan terdengar suara kedua pria, Riani buru-buru bersembunyi, yang keluar adalah Rai dan Farka, Riani menghela nafasnya panjang.

"Jadi untuk sementara tugasnya dialihkan saja Farka, ia kelelahan, wajahnya dingin membeku bagaikan es, dia juga menggigil dan pucat pasi. Saya akan mengambil obatnya bersamaan dengan obat Raja" Ujar Rai menjelaskan, mereka berpisah dipertigaan lorong yang depannya lagi terdapat Gyna dan Rava. Sedangkan, Rai belok dimana Riani bersembunyi, Farka berbalik kejalan arah datangnya mereka.

Siapa yang dibicarakan? Tanya Riani, sepertinya hari ini Riani penuh dengan kasus yang tanpa sengaja ia dengar. Riani mengikuti Farka sampai dikamar Fanny. Banyak pelayan yang keluar dan yang tersisa hanya satu pelayan setia Fanny dan Farka. Farka keluar untuk berpatroli namun betapa terkejutnya saat keluar dan menutup pintu pelan, dihadapannya sudah ada Riani.

Vivee dan Riky berdiri didepan taman. "Jadi, bagaimana ceritanya?" Tanya Riky penuh pertanyaan dan penasaran.

"Ummm..." Ujar Vivee mengingat kejadiannya.

Flashback

Pagi itu, Vivee sedang berpatoli sendirian dilorong kerajaan perbatasan antara satu Wilayah kerajaan dengan Wilayah lainnya. Tanpa sengaja ia melihat Gyna dan Sunny yang berlarian, Gyna mengejar Sunny penuh nafsu, seraya mengeluarkan pedangnya. Mereka mengelilingi bundaran air pancur.

"Sunny! Sunny! Tadi kau bilang apa, jangan macam-macam" Seru Gyna yang mengayunkan pedangnya. Tapi sesekali ia tertawa.

"Kak Gyna itu keras kepala! Tidak sabaran! Kasihan kak Fanny yang mengurus kakak, bahkan disaat menunggu kak Riani kembali, kau malah melampiaskannya ke kak Fanny!" Seru Sunny sekalian meledek Gyna, ia tertawa lepas.

"Hee! Mulutmu tidak bisa dijaga ya Sunny! Sini, ayo kemarin" Seru Gyna meluap amarahnya. Sunny terjatuh karna tidak melihat kedepan. Gyna memasukkan pedangnya kesarungnya.

Magic In DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang